Opini

Kontroversi Wacana Poligami

Isu poligami merupakan isu kontroversial di negara-negara Muslim. Di samping teks Alquran yang membicarakan

Kontroversi Wacana Poligami
IST
Dr. Yuni Roslaili, M.A, Dosen UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh

Oleh Dr. Yuni Roslaili, M.A, Dosen UIN Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh

Isu poligami merupakan isu kontroversial di negara-negara Muslim. Di samping teks Alquran yang membicarakan perihal poligami merupakan ayat mutasyabih, (sehingga kesamarannya dapat menimbulkan tafsiran yang beragam), sebenarnya ada dua kutub pemahaman terhadap lembaga ini. Yaitu, antara pemuja pemikiran Barat yang menolak dengan keras praktek poligami, dan pihak lainnya yang tetap konstan pada tradisi fikih konservatif yang melegalkan praktek poligami. Keduanya ikut memperpanjang tarik menarik pemahaman terhadap isu poligami sampai sekarang ini, termasuk di Aceh.

Kemarin, muncul wacana pelegalan poligami di Aceh dalam pembahasan di DPRA tentang rancangan qanun hukum keluarga yang diusulkan oleh Dinas Syariat Islam. Menurut lembaga ini, usulan demikian dimaksudkan sebagai solusi untuk menghindari praktek poligami liar di Aceh.

Yang perlu kita diskusikan kemudian adalah benarkah melegalkan praktek poligami menjadi satu-satunya solusi bagi masalah praktek nikah sirri di Aceh? Sebab, berdasarkan data lapangan angka perceraian di Aceh akhir- akhir ini meningkat secara signifikan, dan gugatan perceraian tersebut kebanyakan diajukan oleh pihak perempuan.

Hal mana di antara sebab yang menjadi alasannya, selain masalah nafkah dan kekerasan dalam rumah tangga, adalah karena suami melakukan praktek poligami.

Teks terkait poligami
Argumentasi yang sering dijadikan dasar bagi kebolehan poligami dalam Islam adalah firman Allah SWT: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim, (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ( Q.S 4:3)

Bertitik tolak dari teks ayat ini, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam kemudian melarang seorang pria menghimpun lebih dari empat orang istri pada saat yang sama, dimana saat ayat itu turun, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan setiap pria yang memiliki lebih dari empat orang istri agar segera menceraikan istri-istrinya, sehingga maksimal seorang pria hanya memperistrikan empat orang wanita.

Ketentuan ini ditegaskan melalui ucapannya: Kami diberikan oleh Yahya ibn Hakim, kami diberikan Muhammad ibn Jafar, kami diberikan Mu’amar dari al-Zuhri, dari Salim, dari Ibn Umar berkata: Ghilan ibn Salamah masuk Islam dan dia memiliki 10 istri, maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ambillah dari mereka (istri-istrimu) empat orang”. (H.R Malik, Al-Nasai dan Al-Daraquthni).

Ibnu Qudamah dari madzhab Hambali berpendapat, seorang laki-laki boleh menikahi wanita maksimal empat. Hal ini dapat dilihat kasus Ghailan ibn Salamah dan kasus Nawfal bin Mu’awiyah. Karena itu dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa meskipun menggunakan dalil yang berbeda para ulama tradisional tersebut mengakui bolehnya poligami.

Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa ada sejumlah nash yang berhubungan dengan poligami yang dicatat para ulama madzhab, yaitu: al-Nisa: 3, al-Nisa 129,al-Ahzab: 50, al-Mu’minun: 5-6, adanya ancaman bagi suami yang tidak adil kepada isteri-isterinya, dan kasus Ghailan seorang laki-laki yang masuk Islam dan disuruh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam untuk mempertahankan isterinya maksimal empat. Kesemua nash inilah yang membahas tentang poligami.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved