Salam

PDAM Sangat Tergantung pada Air Krueng Aceh

Permukaan air Krueng Aceh dalam beberapa hari terakhir terus menurun dari 3 menjadi 2 bahkan dua hari

PDAM Sangat Tergantung pada Air Krueng Aceh
Aminullah Usman

Permukaan air Krueng Aceh dalam beberapa hari terakhir terus menurun dari 3 menjadi 2 bahkan dua hari lalu hanya tersisa 1,5 meter dari dasar sungai. Kondisi ini berdampak negatif terhadap penyediaan air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Daroy Banda Aceh dan PDAM Tirta Mountala Aceh Besar. “Penurunan debit air Krueng Aceh yang mencapai 50 persen, ini sudah masuk dalam kategori yang harus diwaspadai,” kata Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.

Wali Kota mengingatkan, “Krisis air bersih bisa menimbulkan keresahan bahkan gejolak di tengah masyarakat sehingga Kota Banda Aceh bisa tak lagi kondusif bagi wisatawan. Alasannya, suplai air bersih ke hotel, homestay, restoran, kafe, perkantoran, rumah penduduk, industri, dan lainnya, sudah tidak mencukupi.”

Sejak permukaan air di Krueng Aceh menurun sampai 2 meter, produksi air baku PDAM telah menurun 50 persen. Dalam kondisi normal dengan ketinggian air 3-4 meter dari dasar sungai, debit sedotan air baku ke kolam pengolahan air bersih tekanannya mencapai 700-750 liter/detik. “Tapi, saat ini setelah turun, tekanan air baku berkurang menjadi 350-300 liter/detik,” ungkap Direktur PDAM Tirta Daroy, Teuku Novizal Aiyub.

Novizal menyebutkan, jumlah sambungan meteran air PDAM Tirta Daroy saat ini sekitar 50.000 unit. Jika setiap satu sambungan air PDAM digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih bagi lima orang, maka jumlah orang yang membutuhkan air PDAM di Banda Aceh mencapai 250.000 orang. Ini jumlah yang sangat besar. Nah, jika debit air bersih yang dipompakan ke 50.000 sambungan itu menurun setengah dari kondisi normalnya, bakal banyak rumah penduduk, pertokoan, perkantoran, kafe, hotel, tempat-tempat usaha, dan industri kecil dan menengah yang butuh air bersih, tidak mendapat suplai air yang maksimal dari pipa air PDAM Tirta Daroy.

Selain karena hujan tidak turun, sebab lainnya dari penyusutan air Krueng Aceh adalah bagian bawah bendungan karet di Lambaro sudah koyak sepanjang 3 meter akibat dihantam kayu besar yang turun bersama air bah pada Desember 2018. Sehingga, pada waktu hujan turun, bendungan karet tak bisa menahan sebagian air hujan yang turun dari hulu sungai.

Sebaliknya, jika terjadi pasang purnama (rob), ir laut akan bercampur dengan air yang tawar yang disedot sebagai bahan baku PDAM. Ini membuat kualitas air baku PDAM menjadi menurun dan baiaya pengolahannnya juga sangat tinggi.

Balai Wilayah Sungai Sumatra I Aceh berjanji dua minggu mendatang akan “menambal” bendungan karet yang koyak itu. Sebab, jika tidak, maka PDAM Banda Aceh dan Aceh Besar akan semakin sulit memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggan.

Masalahnya sekarang, dalam waktu dekat bendungan karet yang koyak itu harus segera diperbaiki. Kedua, untuk jangka panjang, daerah-daerah tangkapan air sepanjang aliran Krueng Aceh itu harus dilestarikan. Sebab, khusus Banda Aceh, sumber air baku untruk PDAM hanya ada dari Krueng Aceh. Banda Aceh tak memiliki sumber air baku lain, kecuali mengolah air menjadi air tawar. Tapi, melihat manajemen dan kondisi keuangannya saat ini, PDAM Tirta Daroy belum mampu memproduksi air bersih dari bahan baku air laut atau air asin.

Oleh sebab itu, kondisi ini selain harus menjadi “PR” besar bagi Wali Kota Banda Aceh yang salah satu janjinya adalah memberikan pelayanan air bersih lebih baik bagi warganya, juga harus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi agar debit air Krueng Aceh tetap stabil dan kualitasnya terjaga.

Bagi warga Kota Banda Aceh, persoalan PDAM Tirta Daroy bukan hanya karena krisis air baku, tapi di musim air Krueng Aceh melimpah pun banyak pelanggan yang mengeluh karena suplai air ke rumah mereka macet. Barkali-kali dilapor ke nomor keluhan pelanggan pun, air tetap saja tidak mengalir ke rumah mereka.

Yang jelas, PDAM Tirta Daroy harus meningkatkan lagi kamampuan produksinya sehingga mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi pelanggannya. Harus diingat, dari hari ke hari kebutuhan air bersih oleh warga terus meningkat seiring dengan perkembangan ibukota Provinsi Aceh ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved