Jurnalisme Warga

Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik

PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu

Gedung Tua Almuslim Saksi Bisu Saat Konflik
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

PERTAMA kali saya kenal nama Almuslim dari cerita ibu saya semasa hidupnya, “Almuslim itu tempat ibu dulu sekolah.” Ya, waktu itu ada Pendidikan Guru Agama (PGA) Almuslim dan Pesantren Almuslim. Dulunya, Almuslim itu dikenal dan ditakuti serdadu Belanda, karena memiliki tokoh pejuang yang juga pendiri Almuslim, seperti Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Tgk Chik Muhammad Djohan Alamsyah (Ulee Balang Peusangan), Tgk Ibrahim Meunasah Barat, Tgk Abbas Bardan, Tgk Abed Idham, Habib Ammad, dan sederet tokoh lainnya.

Sejarah awal Almuslim dimulai tahun 1929. Saat itu, ulama dan ulee balang di Peusangan mendirikan organisasi sosial bernama Jamiatul Muslim (saat ini namanya Yayasan Almuslim Peusangan). Yayasan ini tergolong unik, berbeda dengan yayasan lain di Indonesia bahkan dunia, yakni milik masyarakat Kecamatan Peusangan lama (sebelum pemekaran), setelah pemekaran jadi empat kecamatan: Peusangan, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Jangka. Setiap lima tahun sekali para keuchik, imum gampong, dan imum mukim dalam empat kecamatan itu bermusyawarah memilih ketua yayasan.

Yayasan ini sempat hilang dalam peredaran, kemudian tahun ‘70-an atas inisiatif almarhum M. A. Jangka, saat itu Camat Peusangan, bersama beberapa tokoh pendidikan, pemerintahan, tokoh masyarakat, mereka bermusyawarah untuk menghidupkan kembali yayasan ini.

Pelan tapi pasti yayasan terus bergerak, dimulai dengan mendirikan beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah, kemudian 14 Zulkaidah 1406 H bertepatan dengan 1 Agustus 1985 didirikanlah Perguruan Tinggi Almuslim (PTA) yang membawahkan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP), dan Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK).

Saya bergabung dengan Almuslim tahun 1992, setelah lulus SMEA Peusangan dan menjadi staf tata usaha. Saat itu, gedung kuliah sangat terbatas, masih semipermanen. Biro rektor dulunya berada di Gedung Sekretariat Pesantren Terpadu Almuslim sekarang. Gedung ini merupakan gedung tua yang direhab atas bantuan PT Arun NGL Co Lhokseumawe.

Gedung ini sangat kokoh karena dibangun dengan batu bata yang disusun mendatar. Beberapa kali gempa tidak ada yang retak. Gedung ini menjadi saksi bisu saat konflik berkecamuk di Aceh. Saat konflik pernah saya dan teman harus tiarap di lantai menghindari peluru karena terjadi baku tembak di seputaran kampus.

Gedung ini bersebelahan dengan Markas Koramil Peusangan, tentunya menjadi sasaran bom atau peluru pihak GAM. Kami yang sedang bekerja terkena imbasnya. Saya ingat waktu itu, laki-laki diminta berbaris di halaman gedung, sedangkan perempuan tetap berada di dalam ruangan.

Suasana sangat mencekam, kami tak bersuara, lutut kami gemetar. Air mata membasahi pipi mengenang suasana tersebut. Saat itu hanya doa yang yang terbetik di dalam hati, perasaan penuh tanda tanya: Masih adakah kesempatan untuk menghirup udara esok hari? Dengan hati gundah, akhirnya rekan-rekan yang diminta berbaris kembali ke ruangan, semua memiliki kenangan tersendiri yang tak terlupakan. Gedung tua itu benar-benar jadi saksi bisu perjalanan proses pendidikan tinggi di Almuslim. Gedung tua ini juga berperan dalam sejarah berdirinya Kabupaten Bireuen, saat detik-detik pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen perdana. Semua yang ikut dalam rapat tersebut tidur beralaskan tikar sederhana, menunggu hasil keputusan esok harinya.

Selain itu, banyak juga tamu luar negeri, pejabat tinggi, mulai dari pejabat pusat, provinsi, kabupaten, dan pimpinan proyek vital datang ke gedung tua ini dan dijamu di ruangan tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved