Parlok Harus Satu Barisan

Salah satu elite dan mantan juru runding GAM yang kini masih bermukim di Stockholm, Swedia, Bakhtiar Abdullah

Parlok Harus Satu Barisan
IST
BAKHTIAR ABDULLAH, Mantan Juru Runding GAM

BANDA ACEH - Salah satu elite dan mantan juru runding GAM yang kini masih bermukim di Stockholm, Swedia, Bakhtiar Abdullah, mengapresiasi langkah politik Partai Aceh (PA) dan Partai Nanggroe Aceh (PNA) yang kini bersatu dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) jilid II di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Menurutnya, islah (rujuk atau berdamai) yang dilakukan dua partai lokal (parlok) ini sudah seharusnya terjadi, demi Aceh yang lebih baik ke depan. “Ini adalah salah satu cara untuk memperkuat kepentingan Aceh secara umum dan untuk memperkuat perdamaian yang telah diraih dengan susah payah belasan tahun lalu,” ujar Bakhtiar yang dihubungi Serambi via telepon, Rabu (10/7).

Dalam bahasa Aceh yang dialeknya kental, Bakhtiar berucap, “Alhamdulillah, jroh that-that, nyoe nakeuh islah yang cukop get, demi tapeuget Aceh saban-saban ukei. Lon kalon langkah politiek kedua partai nyoe ka leubeh get. (Alhamdulillah cukup bijak, ini adalah islah yang baik untuk membangun Aceh bersama ke depan. Saya lihat langkah politik kedua partai ini sudah semakin baik).”

Diberitakan sebelumnya, dua parlok yang menaungi eks kombatan GAM, PA dan PNA bersatu dalam satu kaolisi di DPRA untuk periode 2019-2024. Kedua partai sepakat bersatu secara permanen dalam KAB jilid II yang digagas oleh Ketua DPA PA, Muzakir Manaf alias Mualem.

Bakhtiar Abdullah menilai, ini sebuah langkah politik yang harus didukung oleh semua pihak di Aceh, tak hanya para eks kombatan GAM yang bernaung di dua partai itu, tapi juga oleh seluruh elemen masyarakat Aceh. Namun, Bahktiar mengharapkan, tidak hanya PA dan PNA yang bersatu, tapi juga semua partai lokal di Aceh harus bergabung demi membangun Aceh bersama-sama.

“Kalau saya ingin semua parlok itu berada dalam satu koalisi, semua parlok harus dalam satu barisan, bukan hanya PA dan PNA saja. Memang, eks GAM itu lebih banyak bergabung di dua partai itu, tapi saya berharap semua parlok bisa bersama-sama juga untuk membangun Aceh,” katanya.

Dia beralasan, semua parlok di Aceh lahir dari rahim perdamaian. Oleh karena itu, sudah seharusnya semua parlok bersatu tidak boleh terpecah dengan isu apa pun. “Dari dulu saya sudah memberi pemahaman bahwa semua parlok ini lahir dari perjuangan GAM. Jadi, tidak boleh sendiri-sendiri, tidak boleh terpisah, semua kita termasuk simpatisan harus membangun komunikasi politik yang bagus, bersaing secara sehat demi Aceh yang lebih bermartabat,” katanya.

Kepada semua parlok di Aceh, terutama PA dan PNA yang kini sudah bersatu, Bakhtiar menitip beberapa hal agar menjadi prioritas dalam menjalankan fungsi legislasi di parlemen.

Pertama, elite parlok diminta untuk benar-benar memeperjuangkan dan meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat Aceh. “Kita punya sumber daya alam yang melimpah, jangan ada lagi masyarakat yang tidak punya rumah, rumahnya tidak layak huni, tidak mampu membiayai hidup. Itu poin pertama yang harus diperjuangkan,” kata Bahktiar.

Kedua, elite parlok di DPRA diminta fokus dalam mendidik para generasi Aceh dengan memperjuangkan pendidikan yang lebih baik bagi semua generasi Aceh. “Ini penting sekali, agar semua generasi Aceh menjadi generasi yang berkompeten dan mampu bersaing secara global di masa yang akan datang, demi Aceh yang lebih baik,” katanya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved