Citizen Reporter

Gua Hira, Bukti Kesetiaan Sayyidah Khadijah

Sudah beberapa hari saya berada di Kota Suci Mekkah, selaku Tenaga Pendukung Panitia

Gua Hira, Bukti Kesetiaan Sayyidah Khadijah
IST
RIYADI S. HARUN, Tenaga Pendukung PPIH, berasal dari Lhoknibong, Aceh Timur, melaporkan dari Mekkah, Saudi Arabia

OLEH RIYADI S. HARUN, Tenaga Pendukung PPIH, berasal dari Lhoknibong, Aceh Timur, melaporkan dari Mekkah, Saudi Arabia

Sudah beberapa hari saya berada di Kota Suci Mekkah, selaku Tenaga Pendukung Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Tentunya kami harus datang lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang menyangkut pelayanan jamaah haji Indonesia. Saya mendapat tugas sebagai pengendali transportasi bus shalawat di daerah Syisyah. Karena jamaah haji gelombang pertama datang terlebih dahulu ke Madinah sehingga kami masih memiliki banyak waktu kosong.

Untuk mengisi kekosongan tersebut kami berinisiatif mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Kota Suci Mekkah. Salah satu destinasi yang kami kunjungi adalah Jabal An-Nur, tempat Gua Hira berada.

Sebagaimana yang kita ketahui, di tempat tersebutlah Nabi Muhammad saw sering menghabiskan waktunya untuk menyendiri (tahannus). Di situ pula beliau menerima wahyu pertama kali dari malaikat Jibril a.s., sehingga Gua Hira menjadi salah satu tempat yang memiliki peran penting dalam agama Islam.

Karena cuaca di Arab Saudi saat ini berada pada musim panas, yaitu antara 39-42 derajat Celcius pada siang hari, maka kami lebih memilih berangkat pada sore hari, supaya tidak terlalu menguras tenaga dan bisa lebih membantu saat pendakian.

Dari hotel memang terlihat Jabal An-Nur sangat tinggi dan ternyata akan tampak jauh lebih tinggi ketika kami berada tepat di bawahnya. Untuk sampai ke puncak bukit tersebut perlu stamina yang kuat dan kesabaran yang sangat besar karena Jabal An-Nur adalah bukit batu yang hanya terdapat anak tangga yang dibuat secara sederhana.

Ketika sampai di pertengahan bukit saya merasa sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan pendakian karena jalan yang kami lalui begitu terjal. Tidak terhitung berapa kali harus istirahat sampai akhirnya kami bisa sampai di puncak bukit dan masuk ke Gua Hira.

Salah satu hal yang membuat kami bersemangat dalam mendaki adalah ketika mengingat perjuangan Sayyidah Khadijah dulu saat mengantar makanan kepada Rasulullah saw yang sedang bertahannus di Gua Hira.

Saya yakin, pada saat itu belum ada anak tangga untuk memudahkan beliau mendaki hingga ke Gua Hira. Apalagi umur beliau juga sudah tidak muda lagi ditambah dengan jarak antara rumah beliau dengan Jabal An-Nur juga sangat jauh. Sungguh gambaran kesetiaan yang sangat luar biasa. Mungkin akan jarang kita temui pada zaman kita sekarang tipe perempuan seperti ini.

Lagi pula Sayyidah Khadijah adalah seorang konglomerat besar di zamannya dan pasti beliau memiliki banyak asisten yang bisa ia perintah. Namun, sebagai seorang istri beliau lebih memilih untuk berkhidmat sendiri kepada suaminya, misalnya untuk mengantar makanan, dan darinya kita belajar apa itu arti sebuah kesetiaan dan pengabdian tulus, hal yang kini semakin langka.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved