Oknum Pimpinan Pasantren dan Guru Mengaji Ditangkap Polisi

Pimpinan Pasantren An (singkatan) di Kota Lhokseumawe beserta seorang guru mengaji (keduanya pria)

Oknum Pimpinan Pasantren dan Guru Mengaji Ditangkap Polisi
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
KAPOLRES Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta saat gelar konferensi pers dengan dihadirkan dua tersangka terhadap kasus pelaku pelecehan seksual 5 santri , Kamis (11/7). 

* Diduga Lakukan Pelecehan Seksual

LHOKSEUMAWE - Pimpinan Pasantren An (singkatan) di Kota Lhokseumawe beserta seorang guru mengaji (keduanya pria) kini ditahan di sel Mapolres Lhokseumawe karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap santri pria (sesama jenis) yang berumur antara 13-14 tahun.

Seiring dengan mencuatnya kasus ini, Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe telah membekukan sementara Pasantren An yang terletak di sebuah kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe. Pesantren tersebut juga dilengkapi sarana pendidikan umum tingkat SMA dan SMP.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, dalam konferensi pers, Kamis (11/7) menyebutkan, sekitar dua pekan lalu, pihaknya menerima laporan dari seorang wali murid terkait pelecehan seksual yang diduga dialami anaknya. Sang anak nyantri di pesantren tersebut.

Setelah mendapatkan laporan tersebut, pihaknya langsung melakukan pengembangan. Ternyata, ada sekitar 15 santri yang menjadi korban. Tersangkanya adalah oknum pimpinan Pasantren An yang berumur 45 tahun dan seorang guru di pasantren itu yang berumur 26 tahun.

Selanjutnya, pihak penyidik mulai memeriksa sejumlah saksi, baik dari keluarga korban, korban, maupun saksi yang mengetahui adanya dugaan pelecehan seksual tersebut. “Sehingga kita pun menetapkan oknum pimpinan pasantren dan guru ngaji di pasantren tersebut sebagai tersangka.” kata Kapolres Lhokseumawe, didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang.

Dari 15 santri yang terindikasi menjadi korban, sampai saat ini pihaknya sudah selesai memeriksa lima orang korban. Menurut keterangan korban, kejadian tersebut mulai terjadi pada September 2018 dan terus terulang.

Kelima korban yang sudah dimintai keterangannya, mengaku ada yang sudah tiga, lima, bahkan sampai tujuh kali dilecehkan pimpinan pesantren tersebut. Sedangkan si oknum guru mengaji hanya dua kali melakukan pelecehan seks terhadap seorang murid prianya. Murid tersebut merupakan salah satu dari lima saksi korban yang sudah diperiksa penyidik.

Menurut penyidik, pelecehan seksual itu diduga dilakukan tersangka dengan cara memanggil satu per satu murid ke kamar tidurnya. Lalu ia rangsang muridnya dengan permainan tangan dan mulut hingga klimaks. Kemudian, tersangka melakukan masturbasi di depan santrinya tersebut. Begitu terus berulang hingga 15 orang menjadi korbannya.

Kedua tersangka sementara ini dibidik dengan Pasal 47 Qanun Aceh Nonor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. “Kedua tersangka diancam hukuman cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan,” sebut AKP Indra T Herlambang.

Dibekukan sementara
Sementara itu, Kabag Humas Pemko Lhokseumawe, Muslim Yusuf SSos, menyebutkan bahwa pihaknya sudah duduk dengan masyarakat yang tinggal di sekitar Pesantren An.

Dalam pertemuan itu warga mengharapkan Pasantren An dijauhkan dari lingkungan mereka. “Atas dasar berbagai pertimbangan, maka Pemko Lhokseumawe sementara ini telah membekukan sementara pasantren tersebut,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga telah membentuk tim investigasi. Tim ini pun telah membuka posko pengaduan di lokasi Pasantren An guna menampung seluruh keluhan korban dan para wali murid. “Di samping itu Pemko Lhokseumawe juga pastinya akan memfasilitasi para santri yang ingin pindah ke pesantren lainnya yang ada di Kota Lhokseumawe, apalagi beberapa hari ke depan aktivitas belajar-mengajar pada tahun ajaran baru ini sudah dimulai kembali,” paparnya.

Pantauan Serambi, wali murid ramai yang mendatangi posko pengaduan, khususnya wali murid baru. Mereka rata-rata melaporkan terkait berapa uang yang sudah diserahkan untuk biaya awal masuk ke pasantren yang lengkap dengan sarana sekolah umum tingkat SMP dam SMA tersebut.

Selain itu, sejumlah personel Wilayatul Hisbah dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga melakukan pengamanan di sejumlah bangunan yang selama ini dijadikan lokasi pasantren atau pun tempat pemondokan santri. (bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved