Ombudsman: Ini Aneh dan tidak Semestinya

Dua maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) di Indonesia yakni Citilink

Ombudsman: Ini Aneh dan tidak Semestinya
TAQWADDIN HUSIN

BANDA ACEH - Dua maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) di Indonesia yakni Citilink dan Lion Air, menurunkan harga tiket hingga 50 persen dari tarif batas atas (TBA). Sayangnya, penurunan harga tiket tersebut tidak sampai ke Aceh.

Kebijakan maskapai tersebut dinilai sangat mengecewakan masyarakat Aceh, meski mendapat apresiasi dari pihak lain di Nusantara. Sebab, harga tiket penerbangan dari dan ke Aceh yang diberlakukan dua maskapai tersebut masih tergolong mahal. “Masyarakat Aceh sangat kecewa karena penurunan harga tiket Lion dan Citilink tak termasuk Aceh. Saya maklum terhadap kekecewaan masyarakat Aceh karena mereka yang paling terasa dampaknya,” kata Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwaddin Husin, kemarin.

Dikatakan, adanya penerapan kebijakan yang disparitas tersebut tidak bisa dibiarkan karena dapat berdampak pada aspek psikologi massa terkait kepercayaan publik terhadap penguasa. Terlebih lagi terhadap Citilink, yang merupakan anak perusahaan Garuda Indonesia yang cikal bakalnya lahir dari rakyat Aceh.

“Adanya kebijakan disparitas seperti itu berpotensi direspons oleh masyarakat Aceh dengan spirit kekecewaan dan bahkan distrust (ketidakpercayaan) kepada pemerintah. Mengapa ada pembedaan kebijakan terhadap Aceh? Bagi saya ini adalah sesuatu yang aneh dan tidak semestinya,” ungkapnya.

Di tengah munculnya kebijakan disparitas terhadap harga tiket pesawat unutk Aceh, Taqwaddin mengatakan masyarakat Aceh masih merasa untung bisa terbang dengan maskapai AirAsia. Sebab, pada saat harga tiket maskapai di Indonesia melambung tinggi, tapi harga tiket AirAsia masih bisa terjangkau.

“Untung ada AirAasia yang selama ini terasa membantu masyarakat Aceh karena menyediakan rute Banda Aceh-Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur-Jakarta dengan harga yang lebih murah dari separuh harga tiket maskapai nasional kita. Hemat saya, hal ini sedikit banyak akan berpengaruh pada rasa nasionalisme kita karena ramai-ramai harus ke ibu kota negara orang jika mau ke ibukota negara sendiri,” tambah Taqwaddin.

Bahkan banyak di antara penumpang yang sengaja meluangkan waktu semalam untuk menginap di ibu kota Malaysia sambil melancong dan membelanjakan uangnya, padahal tujuan utamanya adalah ke Jakarta.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved