PDAM Gilir Distribusi Air

PDAM Tirta Daroy, Banda Aceh, memberlakukan distribusi air secara bergilir kepada para pelanggannya

PDAM Gilir Distribusi Air
Dirut PDAM Tirta Daroy Banda Aceh, T Novizal Aiyub

* Akibat Krisis Air Baku

BANDA ACEH - PDAM Tirta Daroy, Banda Aceh, memberlakukan distribusi air secara bergilir kepada para pelanggannya. Kebijakan tersebut dilakukan sejak awal Juli menyusul turunnya debit Krueng Aceh yang merupakan sumber air baku untuk diolah sebagai air bersih.

“Kebijakan itu diberlakukan sampai keadaan normal kembali. Kita tidak bisa memberikan pemberitahuan sebelumnya karena pemadamannya (distribusi air, red) bukan seperti PLN. Air butuh waktu untuk mengalir,” ujar Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Daroy, Teuku Novizal Aiyub saat menjadi narasumber untuk program Radio Serambi FM bertajuk ‘PDAM Sangat Tergantung dengan Krueng Aceh’, Rabu (10/7).

Program tersebut juga menghadirkan narasumber internal, Sayed Kamaruzzaman dengan dipandu host Serambi FM, Kamil Ahmad.

Ampon Yub--sapaan akrab T Novizal Aiyub--menegaskan, Krueng Aceh menjadi satu-satunya sumber bahan baku air bersih yang dialirkan untuk 50 ribuan pelanggannya. Diakui, hingga saat ini sumber air yang digunakan pihaknya tersebut masih ada. Hanya saja semakin terdegradasi, baik dari segi jumlah maupun mutu.

Ia menambahkan, dengan kondisi tersebut selama ini pihaknya terbantu dengan keberadaan bendungan karet di Lambaro, Aceh Besar. Namun saat musim kemarau, muka air sangat jauh di bawah level sehingga tidak bisa beroperasi secara maksimal.

Ditambah lagi, kata Ampon Yub, sekarang bendung karet yang ada dalam kondisi bocor dan tidak bisa ditangani sendiri oleh pihaknya. Disebutkan, dalam keadaan normal, muka air sungai sekitar 5-6 meter, sedangkan sekarang rerata permukaan air sungai tinggal 2 hingga 2,5 meter saja.

“Kita sedih, kita tidak dapat penerimaan dari masyarakat. Warga tidak bisa berbisnis dan tidak bisa melanjutkan hidup, karena air kan sumber utama. Walau tidak totalitas terganggu, karena kita berlakukan sistem pemadaman bergilir. Walaupun tidak semudah listrik karena air selalu mencari tempat-tempat yang mudah dialiri. Kalau pun kita gilir tetap saja orang yang jauh nggak kebagian,” imbuh Ampon Yub.

Diakuinya, dulu tingkat kebocoran mencapai 40 persen, namun kini pihaknya sudah berhasil menurunkan menjadi 35 persen. Hal itu, kata dia, karena Banda Aceh sudah menjadi kota. Sementara pipa-pipa air sudah tertanam di jalan-jalan utama dan rumah-rumah penduduk. Sekarang panjang pipa seluruhnya mencapai 1.600 Km dan bertambah setiap tahunnya sesuai permintaan warga.

“Kritikan dari masyarakat itu wajar. Taraf hidup masyarakat naik, dulu dapat air saja sudah bagus. Kalau sekarang ini kok airnya cuma malam aja, padahal kan butuh 24 jam. Udah 24 jam tapi kok nggak bisa diminum langsung. Itu dinamika yang terus bergerak seiring perkembangan masyarakat. Kita harus siap dengan itu,” demikian Ampon Yub.

Dirut PDAM Tirta Daroy, T Novizal Aiyub menambahkan, pihaknya mulai melakukan perbaikan terhadap bendung karet yang bocor. Perbaikan itu dimulai dengan mengalihkan arus air guna pengeringan.

“Ini pekerjaan besar karena harus mengalihkan airnya dulu. Info terakhir beko sudah bekerja. Airnya harus dialihkan karena kebocoran di bawah air,” ujarnya.

Untuk solusi jangka panjang, pihaknya harus mencari sumber air lain. Untuk itu, kata Ampon Yub, pihaknya harus bekerja sama dengan Kabupaten Aceh Besar karena Banda Aceh tidak mepunyai sumber air tawar.

“Kalau sumber air tanah, karena posisi Banda Aceh di atas permukaan laut, paling tinggi 10 meter. Jadi air tanah tidak bisa kita andalkan. Satu-satunya alternatif adalah mencari air ke hulu ke Aceh Besar. Bisa di Jantho atau Lhoknga. Tapi ini perlu kerja sama dua daerah,” pungkas Ampon Yub.(rul)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved