Citizen Reporter

Belajar Mengelola Pariwisata dari Istanbul

MENEMPUH pendidikan di negeri dua benua telah memberikan saya banyak peluang untuk mempelajari kedidupan sosial

Belajar Mengelola Pariwisata dari Istanbul
IST
M ZAWIL KIRAM, alumnus Duta Wisata Kota Lhokseumawe Tahun 2017, Mahasiswa Master Sosiologi Marmara University Istanbul, melaporkan dari Turki

OLEH M ZAWIL KIRAM, alumnus Duta Wisata Kota Lhokseumawe Tahun 2017, Mahasiswa Master Sosiologi Marmara University Istanbul, melaporkan dari Turki

MENEMPUH pendidikan di negeri dua benua telah memberikan saya banyak peluang untuk mempelajari kedidupan sosial masyarakat di sini. Turki sebagai negara yang menghubungkan Asia dan Eropa memiliki banyak sekali nilai khas dan budaya yang unik. Perpaduan budaya Barat dan Timur sangat terasa, apalagi saat kita berada di kota metropolitan Istanbul. Salah satu hal menarik yang saya temukan selama saya di sini adalah cara Istanbul mengelola pariwisata.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Istanbul sudah menjadi ikon paling penting bagi Turki. Bahkan kota ini menjadi pusat kehidupan masyarakat Turki di masa lalu. Tidak banyak negara yang mampu mengembangkan kepariwisataan sebagai sumber devisa negara. Kepariwisataan sebagai gejala sosial budaya menimbulkan aktivitas ekonomi di dalamnya.

Fenomena ini menyebabkan kepariwisataan mestinya dikelola secara baik serta sistematik dan itulah yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Istanbul.

Terkait dengan hal tersebut, pengembangan infrastruktur kepariwisataan di Kota Istanbul sudah dilakukan dengan baik dan teratur dengan mempertimbangkan antara motif dan produk wisata, antara kebutuhan wisata dan jasa wisata yang tersedia, serta kemudahan aksesibilitasnya. Pariwisata yang tepat adalah pariwisata yang secara aktif membantu dalam menjaga keabadian suatu daerah, kebudayaan, sejarah, alam, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Konsep pariwisata yang tepat ini telah dilakukan oleh Turki melalui kota wisatanya, Istanbul.

Istanbul sebagai kota wisata memiliki karakter tersendiri, seperti juga Paris, London, Milan, Amsterdam, dan kota-kota lainnya di dunia. Kota Istanbul didesain dengan menggabungkan arsitektur yang bercorak seni tinggi. Istanbul adalah kota metropolitan terbesar di Turki dan pernah menjadi ibu kota kerajaan pada zaman Byzantine dan Ottoman, sehingga jika Anda berkunjung ke kota ini, maka Anda akan merasakan hawa Kota Konstantinopel yang memesona. Kota ini juga satu-satunya kota yang memadukan budaya dari dua benua, Asia dan Eropa.

Kota yang dinobatkan sebagai ibu kota kebudayaan Eropa pada tahun 2010 ini dikunjungi oleh kurang lebih sekitar 12 juta turis asing setiap tahunnya, sehingga menjadikan kota ini sebagai tujuan wisata paling populer kelima di Eropa. Destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di antaranya adalah Masjid Biru, Aya Sofya, Topkap| Saray|, Museum Arkeologi, Grand Bazar, Misir Bazar, Masjid Süleymaniye, Dolmabahçe Saray|, Galata Tower, dan masih banyak tempat menarik lainnya yang dapat dikunjungi. Yang pasti, siapa pun yang datang ke Turki tidak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Istanbul.

Lantas apa yang bisa kita pelajari dari kota sejarah ini? Indonesia sebagai negara yang terletak di garis khatulistiwa pada dasarnya memiliki potensi wisata yang besar, khususnya Provinsi Aceh yang juga telah dinobatkan sebagai World Best Halal Tourism Destination (Destinasi Wisata Halal Dunia). Tidak hanya itu Aceh juga memiliki banyak destinasi wisata lainnya yang mampu menarik wisatawan mancanegara seperti wisata religi, sejarah, edukasi, kuliner, wisata alam, dan rekreasi.

Belajar dari Istanbul dalam mengembangkan wisata kotanya, secara garis besar langkah strategis yang dapat kita terapkan adalah menampilkan identitas kota, pengembangan wisata kota berdasarkan keterampilan penduduk lokal, menyosialisasikan pentingnya pariwisata dalam membangun perekonomian kepada masyarakat sehingga mereka akan ikut serta dalam menjaga objek wisata yang ada, membangun rasa bangga masyarakat kota akan warisan sejarah mereka dan meningkatkan interaksi dengan pengunjung, serta menyediakan prasarana dan sarana yang memadai.

Dengan menerapkan strategi ini, insyaallah akan memberikan dampak postitif terhadap perekonomian bagi daerah dan masyarakat setempat. Apalagi kita memiliki konsep pengembangan wisata sendiri seperti penerapan sapta pesona (keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan) dan sadar wisata yang akan sangat membantu dalam membangun pariwsiata yang lebih maju dan tentunya berlandaskan syariat Islam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved