Opini

Kreh Kroh Gampong

Saya bersyukur dilibatkan dalam sebuah tim kajian efektivitas dana gampong di Aceh. Kajian semacam ini sangat

Kreh Kroh Gampong
IST
Sulaiman Tripa, Dosen FH Unsyiah; Pengajar pada Forum Aceh Menulis (FaMe).

Oleh Sulaiman Tripa, Dosen FH Unsyiah; Pengajar pada Forum Aceh Menulis (FaMe).

Saya bersyukur dilibatkan dalam sebuah tim kajian efektivitas dana gampong di Aceh. Kajian semacam ini sangat sulit dilakukan, jika hendak berorientasi pada representatif. Namun jika hanya ingin mendapat sejumlah hal untuk refleksi dan perbaikan, kajian dengan orientasi apapun sepertinya tidak masalah.

Sebuah kajian bisa digunakan sebagai bahan refleksi bagi pengambil kebijakan. Berbagai hal yang telah ditentukan, bisa saja dalam perjalanan dievaluasi dengan memberi penetakan pada unsur tertentu yang dipandang masih lemah.

Dalam konteks dana gampong, sejumlah hal perlu mendapat perhatian. Harus disadari bahwa menyelesaikan pembangunan tidak hanya satu-satunya masalah anggaran. Konsep pembangunan tidak terbatas pada fisik, melainkan juga pembangunan nonfisik. Pembangunan fisik dengan mudah bisa diukur, tetapi pembangunan nonfisik, sulit sekali untuk melihat progresnya.

Hal lain karena pemikir dan pelaksana pembangunan lebih menyukai yang fisik dibandingkan nonfisik. Pembangunan fisik dengan mudah dipertanggungjawabkan, tidak semudah seperti mempertanggungjawabkan program-program yang sifatnya nonfisik.

Saya ingin melihat konteks kajian tentang dana gampong secara lebih luas. Jangan hanya dilihat persoalan dana, lalu kita menutup mata berbagai perkembangan sosial lain yang ada dalam masyarakat.

Atas dasar itulah, mendapat kesempatan mengunjungi dan mewawancarai sejumlah gampong dalam kajian ini sangat membahagiakan saya. Kajian ini penting untuk mengetahui dan memahami kondisi lapangan terkait dengan penggunaan dana desa/gampong.

Sebagai sebuah penelitian, kami mengambil lokasi di empat kabupaten, yang tidak usah saya sebut. Indikator empat kabupaten itu mewakili kabupaten yang dianggap miskin, kabupaten tertinggal, kabupaten yang dianggap berkembang, dan ibukota provinsi.

Primadona
Gegap gempita dana gampong sudah berlangsung lima tahun. Berbeda dengan nasional, khusus di Aceh sesungguhnya ada sejumlah dana lain dari status otonomi khusus, yang sebagian diperuntukkan bagi gampong. Dana yang dimaksud tidak selalu berbentuk dana segar. Sebagian digelontorkan melalui berbagai program ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Berbeda dengan dana gampong, yang proses penggunaan tetap melalui serangkaian perencanaan dan program. Walau dana itu diperuntukkan untuk gampong, tidak bisa serta merta gampong mengambil dan menyimpan dalam kas gampong.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved