Unsyiah Kembali Kukuhkan 3 Profesor

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali mengukuhkan tiga profesor (guru besar) baru dalam Rapat Senat Terbuka

Unsyiah Kembali Kukuhkan 3 Profesor
IST
Unsyiah Kembali Kukuhkan 3 Profesor

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali mengukuhkan tiga profesor (guru besar) baru dalam Rapat Senat Terbuka yang dipimpin Ketua Senat Unsyiah, Prof Dr Said Muhammad MA. Mereka yang dikukuhkan di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (12/7) itu adalah Prof Dr drh Ummu Balqis MSi (Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan), serta Prof Dr Muhammad Dani Supardan ST MT dan Prof Dr Nasaruddin ST MEng (Guru Besar Fakultas Teknik Unsyiah).

Dalam pengukuhan itu, ketiga profesor baru tersebut memaparkan orasi ilmiahnya. Dimulai dari Prof Dr Ummu Balqis dengan judul ‘Pengembangan Riset Histopatologi untuk Pengujian Aktivitas Antelmintik dari Bahan Alami.’ Lalu, Prof Dr Muhammad Dani Supardan dengan judul ‘Pengembangan Proses Produksi Minyak Nabati dan Produk Turunannya untuk Mengoptimalkan Pemanfaatan Sumber Daya Alam.’ Terakhir, Prof Dr Nasaruddin dengan judul ‘Teknologi Komunikasi Digital: Perkembangan Terkini, Tantangan, dan Peluang Riset di Masa Depan.’

Rektor Unsyiah, Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, dalam sambutannya mengatakan, pertambahan jumlah profesor di Unsyiah tahun ini cukup menggembirakan. Hingga pertengahan 2019, sebut Prof Samsul, Unsyiah sudah berhasil menambah lima guru besar baru dari berbagai program studi (prodi). “Dengan pengukuhan terakhir ini, jumlah profesor di Unsyiah yang masih aktif sampai sekarang 65 orang,” ujar Rektor Samsul.

Meski mulai membaik, Prof Samsul menilai pertumbuhan jumlah profesor di Unsyiah masih berkutat di angka 4% dari jumlah dosen secara keseluruhan. Hal itu terjadi karena adanya penambahan dosen baru pada beberapa prodi hingga memperbesar faktor pembagi. “Untuk memenuhi target minimal dari Kemenristekdikti, Unsyiah sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis riset masih membutuhkan tambahan 95 profesor. Hal itu untuk mencapai jumlah profesor minimal 10% dari total dosen,” ungkapnya.

Untuk saat ini, sebut Rektor Unsyiah, perguruan tinggi yang sudah berhasil memenuhi syarat minimal tersebut masih sangat terbatas, yaitu Institut Pertanian Bogor sebesar 17%, Universitas Hasanuddin Makassar (15%), Institut Teknologi Bandung (13%), Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (12%), dan Universitas Indonesia sebesar 11%.

“Bagaimanapun, kita tetap optimis bahwa jumlah profesor di Unsyiah, insyaallah akan terus bertambah secara signifikan pada tahun-tahun mendatang sehingga segera bisa memenuhi syarat minimal 10% tersebut,” timpal Prof Samsul optimis.

Rektor juga mengatakan, ketiga profesor yang dikukuhkan kemarin itu berpotensi besar untuk memperbaiki peringkat jumlah publikasi ilmiah bereputasi dari Unsyiah, melalui kepakaran yang mereka miliki dan dituangkan dalam publikasi di jurnal-jurnal bereputasi. Selain itu, kepakaran mereka diharapkan bisa menyelesaikan masalah bangsa ini.

Misalnya, kepakaran Prof Ummu Balqis yang merupakan profesor perempuan ketujuh di Unsyiah dan pertama di Fakultas Kedokteran Hewan. Rektor menjelaskan, kepakaran Prof Ummu Balqis dalam bidang patologi sangat dibutuhkan untuk sektor peternakan. Sebab, laju mobilitas manusia di seluruh dunia yang terus meningkat berpotensi memfasilitasi arus penularan penyakit pada hewan, ternak, dan bahkan pada manusia.

“Makanya ada tantangan besar di bidang kesehatan hewan untuk mendeteksi dan mencegah terjangkitnya penyakit-penyakit yang bersifat zoonosis pada hewan. Kepakaran Prof Ummu Balqis berpeluang besar untuk berkontribusi secara signifikan dalam menjawab tantangan tersebut,” ucap Rektor Unsyiah.

Begitu pula riset berkesinambungan dari Prof Muhammad Dani Supardan yang memanfaatkan bahan alam sebagai bahan dasar. Kepakarannya terkait dengan pengembangan proses produksi minyak nabati dan produk turunannya sangatlah penting. Studi ini berdasarkan fakta bahwa optimalisasi proses produksi minyak nabati di Indonesia masih sangat mungkin dilakukan melalui rekayasa proses produksi.

“Makanya, kepakaran Prof Muhammad Dani Supardan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan penguasaan teknologi yang bisa diaplikasikan dalam proses produksi minyak nabati tersebut,” kata Prof Samsul.

Sementara itu, kepakaran Prof Nasaruddin, tambah Samsul, sangat dibutuhkan di era perkembangan teknologi komunikasi yang sangat cepat dan dinamis seperti sekarang ini. Seiring datangnya era Revolusi Industri 4.0, di mana komunikasi nirkabel menjadi salah satu instrumen pendukung utama, maka riset tentang pengembangan teknologi informasi dan komunikasi ini pun menjadi ujung tombak untuk menjawab kebutuhan zaman.

“Sejauh ini, riset yang dilakukan Prof Nasaruddin sangat sejalan untuk perkembangan teknologi di zama sekarang. Kita berharap kepakaran beliau bisa memberikan kontribusi positif bagi pengembangan teknologi komunikasi di masa depan,” demikian Rektor Unsyiah.

Terpisah, Kepala Humas Unsyiah, Chairil Munawir MM yang dikonfirmasi Serambi, Jumat (12/7) sore, terkait urutan guru besar yang dikukuhkan kemarin menyebutkan, Prof Ummu Balqis merupakan guru besar ke-105, Prof Muhammad Dani yang ke-106, dan Prof Nasaruddin sebagai guru besar ke-108 Unsyiah. “Sedangkan profesor yang ke-107 belum dikukuhkan karena yang bersangkutan sekarang sedang berada di luar negeri. Mungkin nanti pengukuhannya bersama dengan profesor ke-109, 110, dan seterusnya,” jelas Chairil Munawir.

Sejak semester lalu, Unsyiah tidak lagi menyebut istilah guru besar untuk profesor, melainkan hanya menyebutnya “profesor”, sebagaimana nomenklatur di sejumlah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dan luar negeri. (jal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved