Usul Mesin Cek Darah, yang Datang Ranjang

Sejumlah peralatan rumah sakit hasil pengadaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi yang ditender

Usul Mesin Cek Darah, yang Datang Ranjang
IST
YAHDI HASAN,Anggota Pansus DPRA

* Pengadaan untuk RSU Sahudin Kutacane Mubazir

KUTACANE - Sejumlah peralatan rumah sakit hasil pengadaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi yang ditender pada tahun 2018 lalu, kini hanya teronggok di Rumah Sakit Umum (RSU) Sahudin Kutacane, Aceh Tenggara (Agara).

Alat tersebut sama sekali tak digunakan, karena memang tidak dibutuhkan oleh pihak rumah sakit. Padahal anggaran yang telah dihabiskan untuk proses pengadaan peralatan tersebut mencapai Rp 431 juta, yang berasal dari Dana Otonomi Khusus Aceh (Doka) 2018.

“Ini kan mubazir namanya. Habis uang, tetapi peralatan tidak digunakan,” pungkas Anggota Tim Pansus DPRA daerah pemilihan (Dapil) 8 Agara-Galus, Yahdi Hasan, usai melakukan kunjungan ke RSU Sahudin Kutacane, Jumat (12/7).

Informasi yang dia terima, pihak rumah sakit awalnya mengusulkan kepada dinas kesehatan provinsi untuk pengadaan mesin pemeriksa darah yang harganya mencapai Rp 1,6 miliar. Usulan diajukan melalui provinsi karena Doka kabupaten/kota ketika itu masih dikelola oleh provinsi.

“Mereka (pihak rumah sakit) mengusulkan semacam mesin untuk memeriksa darah, tetapi yang datang justru ranjang (tempat tidur). Untuk apa? Rumah sakit tidak butuh itu. Makanya tidak digunakan,” ungkap politisi Partai Aceh ini.

Serambi coba mengkonfirmasi ulang temuan Pansus tersebut melalui Sekretaris RSU Sahudin Kutacane, Budi Afrizal SKM MKM. Ia membenarkan perihal tidak digunakannya peralatan hasil pengadaan tahun 2018. Tetapi ia tambahkan, peralatan dimaksud tidak hanya tempat tidur saja, tetapi juga ada sejumlah peralatan lainnya yang tidak pernah mereka usulkan dan memang tidak dibutuhkan.

“Kita mengusulkan mesin untuk melihat kadar darah, misalnya untuk melihat kadar hemoglobin. Tetapi usulan itu tidak diakomodir, sehingga yang ditender kemudian peralatan-peralatan lain yang tidak kami usulkan,” ungkap Budi Afrizal.

Peralatan-peralatan dimaksud meliputi tempat tidur sebanyak enam unit, kursi donor darah sebanyak enam unit, lemari obat, locker, kursi tunggu, tiang infus, dan sejumlah alat-alat lainnya, dengan nilai kontrak sebesar Rp 431 juta.

Peralatan tersebut ditambahkannya, saat ini masih tersimpan rapi di gudang tak digunakan, karena memang tidak dibutuhkan. Pihaknya juga tidak bisa berbuat apa-apa terkait datangnya alat-alat tersebut, meski alat itu tidak mereka inginkan. “Kami ini kan sifatnya hanya menerima manfaat saja dari proyek Doka tersebut,” imbuh Sekretaris RSUD Sahudin Kutacane ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved