Wali Santri Minta Uang Kembali

Puluhan wali santri pada Pesantren An, Kota Lhokseumawe, meminta pengembalian uang muka

Wali Santri Minta Uang Kembali
IST
MUSLIM YUSUF, Kabag Humas Pemko Lhokseumawe

* Ekses Kasus Dugaan Pelecehan Seksual

LHOKSEUMAWE - Puluhan wali santri pada Pesantren An, Kota Lhokseumawe, meminta pengembalian uang muka yang telah disetorkan ke pihak pesantren. Aksi minta pengembalian uang itu dilakukan ramai-ramai oleh orang tua murid karena anaknya tak mungkin lagi melanjutkan sekolah di pesantren tersebut menyusul ditangkapnya oleh polisi pimpinan dan seorang guru pesantren tersebut, Kamis (11/7).

Dua guru mengaji itu ditahan penyidik Polres Lhokseumawe karena diduga melakukan pelecehan seksual terhadap 15 santri pria dengan cara onani dan oral seks. Sang pimpinan pesantren maupun oknum guru tersebut melakukan perbuatan tak terpuji itu di kamarnya masing-masing dengan menyasar santri berumur 13-14 tahun.

Ekses dari perbuatan tidak terpuji itu, sebanyak 60-an wali santri membuat laporan ke posko pengaduan yang dibuka Pemko Lhokseumawe di Pesantren An. Laporan wali murid itu terkait proses kelanjutan pendidikan anak-anak mereka, sehubungan dengan dibekukannya sementara operasional pesantren tersebut setelah terungkapnya kasus asusila dimaksud. Kebanyakan wali santri juga menuntut pengembalian uang muka sekolah yang mereka disetor ke pihak pesantren sebulan lalu.

Untuk uang pendaftaran dan uang muka, jumlahnya Rp 8,5 juta. Namun, sesuai laporan yang masuk, ada wali santri yang sudah membayar penuh uang tersebut. Ada juga yang baru bayar Rp 5 juta, Rp 4 juta, atau hanya Rp 1 juta.

Kabag Humas Pemko Lhokseumawe, Muslim Yusuf, memberi penjelasan soal ini. “Kita sudah lihat rekening pesantren. Tapi uang yang tersisa hanya ratusan ribu rupiah saja. Sedangkan keterangan bendahara pesantren, uang muka yang diserahkan wali murid sudah diserahkan kepada pimpinan pasantren (tersangka). Kita akan cari solusi yang terbaik,” ujarnya.

Muslim Yusuf menambahkan, di pesantren itu terdapat sekitar 300 santri lama dan baru. Namun, sejauh ini baru sekitar 60-an wali santri yang membuat laporan ke posko pengaduan. Baik wali santri yang anaknya sudah lama belajar di situ maupun wali dari santri baru.

Terkait kelanjutan pendidikan para santri dan santri baru, Pemko Lhokseumawe menyatakan siap memfasilitasinya. “Sejauh ini ada santri yang ingin pindah ke pesantren lain, ada juga yang ingin pindah ke pendidikan umum. Semuanya akan kita fasilitasi,” janji Muslim Yusuf sembari menambahkan bahwa sejauh ini posko pengaduan masih tetap dibuka di lokasi pesantren tersebut.

Sementara itu, Kapolres Lhokseumaww AKBP Ati Lasta, Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang mengatakan, kasus asusila itu masih dalam penyidikan pihaknya. Akan dimintai keterangan dari saksi tambahan, baik dari wali murid, santri, dan pihak terkait lainnya.

Sebagaimana diberitakan kemarin, oknum pimpinan Pasantren An (singkatan) di Kota Lhokseumawe beserta dengan seorang guru mengaji di pesantren tersebut (keduanya pria) ditahan di Polres Lhokseumawe atas dugaan melakukan pelecehan seksual terhadap santri pria yang berumur 13-14 tahun.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved