Pesan Berempati Dalam Cerpen Berjudul Pelajaran Dari Mama

Empati dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa

Pesan Berempati Dalam Cerpen Berjudul Pelajaran Dari Mama
IST

Oleh: Nurhaida, S.Pd., S.Psi., Pengkaji Kebahasaan di Balai Bahasa Aceh

Empati dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengindentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain, sedangkan berempati berarti melakukan (mempunyai empati) apabila seseorang mampu memakai perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Berempati perlu kita biasakan dalam kehidupan ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap manusia dan makhluk lainnya yang sama-sama bertempat tinggal di bumi ini. Pesan berempati kepada sesama salah satunya terdapat dalam cerpen yang berjudul Pelajaran dari Mama Karya Dewi Rieka Kustiantari. Pesan ini dapat menjadi pelajaran terutama untuk anak-anak termasuk juga bagi orang dewasa. Cerpen ini terdapat dalam antologi cerpen Maafkan Mama yang diterbitkan oleh PT Penerbitan Sarana Bobo. Cerpen ini berisikan kisah seorang anak perempuan bernama Lia yang sering membuat kamarnya yang sudah dirapikan oleh Mbak Atin menjadi berantakan kembali.

Hal tersebut membuat Mbak Atin yang merupakan asisten rumah tangga di rumahnya harus memberesi baju-baju yang berserakan dan merapikan kembali kamar Lia seperti yang terdapat dalam kutipan di bawah ini. Lia keluar kamar dan meninggalkan kekacauan yang dibuatnya. “Tolong, nanti bereskan lagi ya, Mbak!” pintanya santai. Mbak Atin mendesah sambil geleng kepala melihat baju-baju yang berserakan di mana-mana. Lia sebenarnya anak yang cantik dan cerdas. Dia juga menjadi juara pidato di sekolah. Sayangnya, di rumah dia suka seenak sendiri. Kamarnya selalu berantakan dan dia punya kebiasaan gonta-ganti baju sesukanya (Cerpen Pelajaran dari Mama halaman 27).

Perbuatan yang dilakukan oleh Lia dalam kutipan di atasmenunjukkan bahwa Lia belum berempati terhadap Mbak Atin yang harus memberesi embali baju-baju yang diserakinya. Iabelum memiliki perasaan kasihan kepada orang lain yang harus bertanggungjawab terhadap perbuatan yang ilakukannya. Kesusahan yang harus ditanggung Mbak Atin tampak ketika Mbak Atin mendesah sambil menggeleng kepalanya ketika melihatbaju-baju yang berserakan di kamar Lia seperti yang terdapat dalam kutipan di atas.

Mama Lia sudah menegur Lia untuk kembali memberesikamarnya yang berantakan karena ulahnya yang memenuhi kamarnya dengan baju-baju yang diserakinya. Akan tetapi, nasihat dari mamanya belum dapat mengubah kebiasaan buruk yang terdapat di dalam diri Lia. Nasihat dari mamanya tidak didengarkannya sehingga Lia kembali mengulangi kebiasaan buru nya seperti yang terdapat dalam kutipan di bawah ini. Berkali-kali mamanya menegur anak semata wayangnya itu. “Lia, bereskan sendiri dong, kamarnya!” begitu selalu pinta mamanya.

Namun, percuma. Kata-kata mamanya itu cuma masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Lia selalu mengulangi kebiasaan buruknya itu (Cerpen Pelajaran dari Mama halaman 28). Hingga suatu hari pulang dari sekolah Lia mendapati kamar dan lemarinya masih berantakan. Ia malah menyalahkan Mbak Atin yang tidak memberesi kamar dan lemarinya seperti yang terdapat dalam kutipan berikut ini. “Ya ampun! Mbak Atin kerja apa saja seharian ini? Kok, kamar dan lemariku masih berantakan begini, sih!” (Cerpen Pelajaran dari Mama halaman 30). Kebiasaan Lia membuat kamar dan lemarinya berantakan membuatnya pusing. Setiap kali mencari suatu barang, Lia selalu membongkar kamar dan lemarinya sehingga semuanya menjadi berantakan dan membuat kepalanya sendiri pusing ketika ia melihat keadaan kamarnya seperti yang dialami Lia dalam kutipan di bawah ini.

Mamanya meringis mendengar teriakan anak tersayangnya itu. Lia keluar kamar dengan wajah cemberut. Kepalanya pusing melihat kamar dan lemarinya berantakan. Tadi pagi, dia memang membongkar seisi kamar karena mencari buku perpustakaan yang terselip. Dan sebelum berangkat, Lia sudah berpesan kepada Mbak Atin untuk membereskan kamarnya. Eh...pulang sekolah ternyata keadaannya masih sama, berantakan! (Cerpen Pelajaran Mama halaman 31).

Kesadaran Lia untuk berempati kepada Mbak Atin muncul setelah ia merasakan beratnya pekerjaan yang harus dilakukan Mbak Atin setiap harinya. Ketika itu Lia harus menggantikan Mbak Atin untuk menyelesaikan tugas-tugas Mbak Atin ketika Mbak Atin tidak berada di rumah. Walaupun sebenarnya ini adalah rencana mama Lia agar Lia mengetahui beratnya pekerjaan yang harus dilakukan oleh Mbak Atin. Pelajaran dari mamanya membuat Lia dapat berempati kepada Mbak Atin sehingga Lia menyadari betapa lelahnya Mbak Atin selama ini akibat perbuatannya seperti yang terdapat dalam kutipan di bawah ini.

Habis makan siang, Lia membereskan kamar. Saat baru mau istirahat, mamanya menunjukkan seragam dan kaus kaki untuk dicuci. Tidak banyak, hanya dua pasang baju dan rok. Lalu, mamanya mengajaknya ke belakang, ke tempat cuci, untuk mengajarinya cara mencuci pakaian. Maklum, ini pengalaman pertama Lia mencuci. Selesai mencuci, mamanya juga mengajari cara menjemur. Diam-diam Lia mengusap air matanya. Dari rasa kesal, tibatiba dia jadi ingat Mbak Atin. Ternyata, selama ini pekerjaan Mbak Atin sangat banyak dan melelahkan. Pukul setengah empat, Lia baru masuk kamar. Dia tidak tidur siang dan belum mengerjakan PR. Wah, dia harus menelepon Tata karena dia batal ke rumahnya. “Capek ya, sayang?” tanya mamanya pelan, lalu duduk di sebelah Lia. Lia mengangguk. “Ternyata pekerjaan Mbak Atin melelahkan ya, Ma. Lia menyesal selalu merepotkan Mbak Atin, tiap hari mesti membereskan kamar Lia.” (Cerpen Pelajaran dari Mama halaman 33).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved