Traumatis dan Salah Pergaulan Bisa Picu Penyimpangan Seksual

Faktor traumatis dan kelainan pada genetik bisa menjadi pemicu terjadinya perilaku seks menyimpang

Traumatis dan Salah Pergaulan Bisa Picu Penyimpangan Seksual
IST
NUR JANAH ALSHARAFI, Psikolog

BANDA ACEH - Faktor traumatis dan kelainan pada genetik bisa menjadi pemicu terjadinya perilaku seks menyimpang (disorientasi seksual). Selain itu, faktor eksternal berupa pengaruh pergaulan (social learning) juga menjadi faktor pendorong.

“Faktor genetik memang bawaan dari lahir yang bisa membuat orientasi seksual seseorang menjadi berbeda dengan tampilan fisiknya, seperti transgender. Selain itu, pengalaman traumatis masa lalu terkadang bisa menimbulkan kebencian yang mendalam, sehingga mengubah perilaku,” ujar Pimpinan Psikodista Konsultan, Dra Nur Janah Alsharafi PSi MM, kepada Serambi, Sabtu (13/7).

Penjelasan tersebut disampaikan Nur Janah ketika diminta tanggapannya soal kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum pimpinan dan guru ngaji terhadap belasan santrinya pada Pesantren An di Lhokseumawe.

Ia menjelaskan, faktor traumatis seperti pelecehan pada waktu kecil bisa membuat seseorang membenci laki-laki atau perempuan. Sementara faktor genetik kemungkinannya sangat kecil hingga menyebabkan terjadi penyimpangan orientasi seksual. Adapun faktor eksternal berupa belajar sosial (social learning) terjadi karena pengaruh lingkungan, pergaulan, dan konten internet yang tak sehat. Umumnya, sebut Nur Janah, faktor yang terakhir ini terjadi pada kalangan generasi muda.

Adapun tolok ukur perilaku dikatakan menyimpang, kata Nur janah, jika ditinjau dari segi statistik yaitu tidak sesuai dengan rata-rata populasi. Sedangkan kalau dilihat dari sudut pandang norma, bila perilaku seseorang menyimpang dari agama dan sosial budaya. Sementara dari kacamata patologis, yang tergolong penyakit. “Gejala menyimpang sesuai dengan jenis penyimpangannya: predator seks atau penjahat kelamin, homoseksual atau sebagainya ditandai dari gesture, kebiasaan, dan lain-lain. Namun, yang lebih tepat jika diuji secara klinis,” terang psikolog yang juga berprofesi sebagai dosen ini.

Ia menambahkan, pelaku bisa saja adalah korban di masa lalu. Perilaku menyimpangnya sebagai ajang balas dendam. Kemungkinan lain adalah pengaruh kuat dunia maya, buku, film yang menyuguhkan pembelajaran seksual menyimpang. “Hal ini membuat ‘virus’ yang menyerang tata nilainya, sehingga teraktualisasi menjadi demikian. Pelaku perlu diberi punishment (hukuman) berat agar jera serta konseling agar perilakunya berubah,” tegas Nur janah.

Sementara korban perlu mendapat dukungan, konseling, dan terapi. Pendampingan dan bantuan psikologis serta agama. Nur janah menambahkan, para psikolog sepakat homo adalah bocah laki-laki yang mempunyai persepsi negatif terhadap ayahnya, juga relasi buruk ayah-ibunya.

“Untuk itu perlu pencegahan berupa hadirnya figur ayah yang kebapakan dan benar-benar hadir dalam kehidupan anaknya. Sehingga tak perlu terjadi lapar emosi dan afeksi yang membuat seseorang mencari pemuasan yang keliru. Jadi, siapapun bisa masuk ke ‘jurang’ itu karenanya,” demikian Nur Janah Alsharafi.(rul)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved