Asosiasi Harap Pemkab Cari Solusi

Asosiasi Peternak Ayam Potong berharap Pemkab Aceh Tamiang mencari solusi untuk menghidupkan kembali dunia usaha

Asosiasi Harap Pemkab Cari Solusi
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Kondisi salah satu peternakan ayam potong di Mukim Saptajaya, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang pasca-diprotes warga pada November 2018. Warga kerap mengaitkan hama lalat yang menyerbu pemukiman dengan keberadaan peternakan ayam potong. 

* Setelah Semua Peternakan di Saptajaya Ditutup

KUALASIMPANG - Asosiasi Peternak Ayam Potong berharap Pemkab Aceh Tamiang mencari solusi untuk menghidupkan kembali dunia usaha di sektor ini. Kebijakan Forkopimcam Rantau yang menutup seluruh peternakan di Saptajaya dinilai tidak mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Potong Aceh Tamiang, Alfian Raden mengatakan, kondisi para peternak di Saptajaya pascasanksi penutupan sangat memprihatinkan. Selain terlilit utang, peternak yang umumnya tengah merintis usaha ini juga kesulitan biaya hidup sehari-hari. Disebutnya, tidak sedikit peternak yang sudah membongkar kandang ayam dan menjual kayunya.

“Sebagian besar baru mengambil modal di bank. Mereka memberanikan diri berutang karena mencoba mandiri. Mereka butuh dukungan berupa regulasi dari pemerintah,” kata Alfian Raden, Minggu (14/7).

Di sisi lain Alfian Raden juga memahami kondisi masyarakat yang terimbas limbah peternakan. Buruknya penanganan juga menyebabkan munculnya lalat dalam jumlah besar hingga mengganggu aktivitas warga. Keberadaan lalat ini kemudian memicu amarah warga yang melakukan protes ke lokasi peternakan hingga ke Kantor Camat Rantau.

“Sekali lagi saya bilang saya pada posisi netral. Ini mengenai hajat hidup orang banyak. Masyarakat butuh hidup tenang dan nyaman, tapi tidak otomatis harus menutup tempat usaha warga lainnya,” tambahnya.

Alfian percaya bila Pemkab Aceh Tamiang serius membenahi masalah ini, maka peternakan ayam dengan pemukiman penduduk bisa berdampingan. Alfian mengaku sudah melihat langsung kondisi peternakan yang tidak mengusik kehidupan warga.

“Saya sudah berniat membawa datuk penghulu dan perwakilan masyarakat untuk melihat langsung keberadaan peternakan ayam yang bersih, tidak mengganggu kenyamanan penduduk. Saya berharap Aceh Tamiang bisa membuat seperti itu juga,” kata dia.

Peternakan tersebut, kata dia, ada di sejumlah wilayah di Binjai dan Banda Aceh. Kondisi kandang tidak diserbu lalat karena kebersihan terjaga. Lantai yang terbuat dari semen dibersihkan setiap hari dan kotoran ayam dibakar setiap hari juga.

Sejumlah peternak yang ditemui Serambi mendukung rencana Alfian, karena mengakui saat ini merupakan kondisi tersulit bagi mereka. Imawati, peternak asal Sukajadi, mengaku menelan kerugian Rp 150 juta setelah hampir 10 ribu ekor ayamnya ‘diusir’ warga. “Dipaksa warga kosongkan kandang. Sekarang tinggal pusing memikirkan kredit di bank,” ucapnya.

Antoni, peternak asal Sukamulia, malah terancam kehilangan tanah setelah ia jadikan agunan kredit bank sebagai modal peternakan ayam. Pria yang baru merintis dengan memelihara 4 ribu ekor ayam ini kerap menjadi sasaran protes warga. “Kalau datang, ayam saya dilempari mercon,” tukasnya.

Digugat Perdata
Kasus penutupan peternakan ayam di Saptajaya telah bergulir ke ranah hukum, setelah seorang peternak menggugat Datuk Penghulu Jamurjelatang, Juparto, senilai Rp 1 miliar. Juparto dituduh telah memprovokasi warga untuk melakukan protes yang berujung ricuh. Itu sebab diamenggugatnya secara perdata. Hingga kini kasus tersebut dalam penanganan aparat penegak hukum. Saat ini Pengadilan Negeri Kualasimpang sudah mulai menyidangkannya.(mad)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved