Kontras: Pelaku Pelecehan Seksual di Lhokseumawe Harus Dijerat Hukum Nasional

Misalnya jika selama ini santri dilarang membawa smartphone hendra tidak memprotes, namun santri juga harus diberikan saluran komunikasi untuk berhub

Kontras: Pelaku Pelecehan Seksual di Lhokseumawe Harus Dijerat Hukum Nasional
Serambi
Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambamg, Kamis (11/7/2019) memberi keterangan pers terkait dugaan pelecehan seksual sesama jenis dengan tersangkanya oknum pimpinan pasantren dan guru ngaji pada sebuah pesantren di Lhokseumawe 

Hendra berpendapat, karena pelaku pelecehan yang inisial AI itu merupakan seorang yang tercerahkan secara agama dan pendidikan.

Seharusnya pelaku dihukum dengan hukuman yang lebih berat.

Sehingga UU Perlindungan Anak dinilai lebih tepat, karena pelaku bisa dijerat lima hingga enam tahun penjara.

Masa pelaku di penjara dapat dimnafaatkan juga sebagai masa penyembuhan trauma bagi korban.

“Kalau cambuk bagaimana, nanti setelah dicambuk pelaku akan kembali bebas dan bertemu lagi dengan korban, sehingga korban akan semakin traumatis dan penyembuhannya tidak berjalan dengan baik,” ujar Hendra.

Hendra juga tampak kecewa atas pemberian penangguhan penahan oleh polisi terhadap tersangka.

Menurutnya, dalam kasus ini jangan hanya fokus pada penegakan hukum semata.

Tapi juga harus memperhatikan kondisi psikologi korban.

Menurutnya, pelaku memang harus berada dalam penjara untuk kelancaran proses hukum.

Karena jika pelaku berada di luar maka berpotensi mempengaruhi korban dan proses persidangan nanti berjalan tidak fair.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Nasir
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved