Salam

Penangguhan Tersangka Seharusnya Ditolak

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin melansir berita tentang AI, tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap 15 santri pria

Penangguhan Tersangka Seharusnya Ditolak
Serambi
Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambamg, Kamis (11/7/2019) memberi keterangan pers terkait dugaan pelecehan seksual sesama jenis dengan tersangkanya oknum pimpinan pasantren dan guru ngaji pada sebuah pesantren di Lhokseumawe 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin melansir berita tentang AI, tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap 15 santri pria di pesantren yang ia pimpin, yakni Pesantren An, di Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Melalui kuasa hukumnya, Armia Muzakir, tersangka AI mengajukan penangguhan penahanan kepada Kapolres Kota Lhokseumawe.

Bukan hanya AI, tetapi seorang guru ngaji di pesantren itu yang juga tersangka dalam kasus serupa--tapi korbannya hanya seorang santri pria--mengajukan permohonan penangguhan penahanan kepada Kapolres Lhokseumawe, pada Selasa (9/7) lalu.

Armia Muzakir selaku kuasa hukum kedua tersangka, kepada Serambi, Sabtu (13/7) mengatakan, ia ajukan permohonan penangguhan penahanan kedua kliennya itu karena ia menilai keduanya sangat kooperatif dalam mengikuti proses hukum. Buktinya, mereka hadir saat dipanggil bersaksi.

Tentang siapa yang akan menjadi penjamin bila permohonan mereka dikabulkan, menurut Armia, penjaminnnya adalah keluarga dari masing-masing tersangka. Karena itu, ia berharap Kapolres Lhokseumawe dapat mengabulkan permintaan kedua kliennya. “Kami berharap Kapolres dapat memberikan penangguhan penahanan untuk kedua klien kami atau status mereka dialihkan menjadi tahanan kota. Sebab, keduanya sudah berjanji selalu hadir kapan saja diperlukan,” demikian Armia Muzakir.

Nah, kasus ini bukan kasus kecil, melainkan kasus besar dan menarik perhatian publik, terutama karena tersangkanya adalah pimpinan pesantren dan seorang guru mengaji di pesantren itu. Korban mereka adalah santri remaja berumur 13-15 tahun dan jumlahnya untuk sementara 15 orang. Bukan tidak mungkin masih ada korban lain yang belum melapor atau namanya belum diungkap oleh kedua tersangka.

Melihat dari karakteristik kasus ini, yakni perbuatan asusila yang sedianya tidak dilakukan seorang pendidik terhahap santri atau anak didiknya, maka harian ini berpendapat Kapolres Lhokseumawe sebaiknya menolak upaya penangguhanan penahanan itu. Alasannya adalah akan lebih baik dan maslahat bagi kedua tersangka tetap berada di sel tahanan Polres Lhokseumawe daripada mereka berada atau berkeliaran di luar.

Kapolres harus ikut mempertimbangkan kekecewaan dan kemarahan dari orang tua atau wali dari para santri yang menjadi objek pelecehan seksual dengan cara dionani dan diemut alat vitalnya itu. Kemudian diharuskan lagi menonton sang gurunya melakukan masturbasi. Dan celakanya lagi, sejumlah santri tidak hanya satu kali mengalami pelecehan tersebut, tapi ada yang tiga bahkan lima kali.

Nah, menilik dari pola kejadian ini, peluang kasus ini terulang sangatlah mungkin jika kedua tersangka berada di luar sel polisi atau diubah statusnya menjadi tahanan kota, seperti yang kini sedang diperjuangkan kuasa hukumnya.

Memang sih penangguhan penahanan itu merupakan hak tersangka, sebagaimana diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Tapi masalahnya, untuk menangguhkan penahanan tersangka, penyidik perlu mempertimbangkan sedikitnya empat hal. Pertama, tersangka diyakini tidak akan melarikan diri. Kedua, tidak akan menghilangkan atau merusak barang bukti. Ketiga, tidak akan mengulangi lagi kejahatannya. Keempat, adanya penjamin.

Di luar itu tentu saja Polres Lhokseumawe harus bijaksana mempertimbangkan reaksi dari keluarga korban atau pihak-pihak lain yang tidak suka ada pimpinan pesantren dan guru mengaji berkelakuan keji seperti itu. Nah, bukan tidak mungkin amarah mereka jadi tak terkendali jika melihat “predator anak” itu masih berkeliaran di lingkungan mereka. Jadi, untuk menghindari hal-

hal yang tak diinginkan, biarlah kedua tersangka tetap berada dan diamankana di sel tahanan Polres Lhokseumawe dan itu lebih maslahat bagi mereka, karena mereka lebih terproteksi berada di dalam dari kemungkinan amuk atau kemarahan massa. Apalagi beberapa orang tua korban, seperti termuat di Harian Serambi pagi ini memang meminta agar penangguhan penahanan yang diajukan kuasa hukum tersangka, ditolak oleh pihak kepolisian.

Artinya, kita sangat mendukung kehati-hatian Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irwandalam bersikap bahwa benar kuasa hukum kedua tersangka sudah mengajukan penangguhan penahanan kepada pihaknya. “Namun, sampai saat ini permohonan itu masih kami pertimbangkan,” ujar Kapolres Lhokseumawe. Ya, demi kebaikan semua pihak, sebaiknya setelah dipertimbangkan putuskanlah segera untuk menolak permohonan kedua tersangka itu. Itu lebih adil bagi semua.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved