Polisi Diharap tak Tangguhkan Penahanan Tersangka

Orang tua santri yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual (sesama jenis) oleh oknum pimpinan pesantren dan guru ngaji

Polisi Diharap tak Tangguhkan  Penahanan Tersangka
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
KAPOLRES Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta saat gelar konferensi pers dengan dihadirkan dua tersangka terhadap kasus pelaku pelecehan seksual 5 santri , Kamis (11/7). 

* Kasus Dugaan Pelecahan Seksual di Pasantren An

LHOKSEUMAWE - Orang tua santri yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual (sesama jenis) oleh oknum pimpinan pesantren dan guru ngaji di Pasantren An, Lhokseumawe berharap kedua tersangka dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Wali santri juga berharap penyidik Polres Lhokseumawe tak mengabulkan penangguhan penahanan terhadap kedua tersangka seperti yang diajukan kuasa hukum mereka.

Orang tua santri yang tak mau disebutkan namanya, kepada Serambi, kemarin, menjelaskan, kondisi anaknya yang menjadi korban dugaan pelecehan itu sekarang masih trauma. Di rumah, sebutnya, ia sering duduk melamun hingga membuat sedih siapa saja yang melihatnya. Apalagi, kata wali santri tersebut, dulu anaknya merupakan sosok yang periang.

Awalnya, lanjut orang tua itu, dirinya tak menyangka bahwa anaknya menjadi korban dugaan pelecehan seksual tersebut. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir sudah ada gejala ke arah itu, seperti enggan pergi ke pesantren tersebut.

Namun, dia tetap membujuk anaknya agar mau belajar kembali di pesantren tersebut. Apalagi, anaknya mendapat perhatian lebih dari sikap oknum pimpinan pasantren yang belakangan diduga melakukan perbuatan tak terpuji tersebut. “Anak saya sering diajak keluar untuk makan bersama. Bila anak saya sakit, oknum pimpinan pesantren itu juga meminta anggotanya mengantar makanan,” ceritanya.

Atas kebaikan oknum pimpinan pesantren tersebut, sambung orang tua santri itu, ia mempertahankan anaknya untuk tetap belajar di pesantren tersebut. Ditambahkan, ia mengetahui kejadian itu setelah anaknya menceritakan hal terseburt pada pembantu di rumahnya. “Saat tahu kejadian tersebut, saya langsung menanyakan kepada anak saya. Setelah ia akui, saya langsung berkesimpulan untuk melapor ke polisi,” ujarnya.

Dia mengaku prihatin dengan kondisi anaknya yang masih sangat trauma, sering melamun, dan jadi pendiam. Didasari kondisi ini, ia berharap tersangka dapat dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya. Ia juga berharap polisi tak memberi penangguhan penahanan kepada kedua tersangka seperti yang dimohon kuasa hukum mereka. “Kami sangat kecewa bila nanti polisi memberikan penangguhan penahanan kepada tersangka,” pungkasnya.

Ortu korban korban lainnya yang dihubungi Serambi, kemarin, juga menyampaikan hal yang hampir sama. Dikatakan, selama ini anaknya selama ini sangat dekat dan akrab dengan oknum pimpinan pasantren. “Hal itu sempat membuat saya bangga, karena anak dekat dengan orang alim. Sehingga saat anak saya beberapa kali sempat menolak untuk kembali ke pesantren, tetap saya paksa agar dia mau,” katanya.

Sedangkan kondisi anaknya sekarang, sering marah-marah di rumah dan tidak mau lagi bersekolah di Lhokseumawe. “Jadi, kami orang tua santri sangat terpukul dengan kejadian tersebut,” ungkap orang tua santri yang juga tak mau dituliskan namanya tersebut. Ia juga berharap tersangka dapat dihukum dengan hukuman yang seberat-beratnya dan meminta polisi menolak penangguhan penahanan terhadap tersangka.

Seperti diberitakan sebelumnya, oknum pimpinan Pesantren An (singkatan) di Lhokseumawe dan seorang guru ngaji di pesantren yang sama (keduanya pria) kini ditahan di sel Mapolres Lhokseumawe. Keduanya ditahan atas dugaan melakukan pelecehan seksual terhadap santri pria (sesama jenis) yang berumur 13-14 tahun.

Dalam kasus itu, polisi sudah memeriksa lima korban. Menurut keterangan korban, perbuatan tak terpuji tersebut mulai dilakukan oleh kedua tersangka pada September 2018 dan terus berulang-ulang hingga bulan ini. Kelima korban tersebut juga mengaku di antara mereka ada yang sudah mendapat pelecehan seksual dari oknum pimpinan pesantren itu sebanyak tiga kali, lima kali, dan bahkan ada yang sampai tujuh kali. Sedangkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru ngaji hanya terhadap satu dari lima santri yang sudah dimintai keterangan sebanyak dua kali.

Setelah kasus itu mencuat ke publik, Pemko Lhokseumawe mengambil kebijakan untukmembekukan sementara pesantren tersebut serta membuka posko pengaduan untuk wali santri dalam rangka membantu proses kelanjutan pendidikan anak mereka.

Terkait apakah proses pendidikan di pesantren tersebut akan tetap berlanjut atau tidak, Pemko Lhoskeumawe akan mengambil kesimpulan dalam beberapa hari ke depan, setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Sementara itu, kuasa hukum dari kedua tersangka, beberapa hari lalu sudah mengajukan penangguhan penahanan terhadap kedua kliennya. Namun, penyidik hingga kini masih mempertimbangkan permohonan tersebut.(bah)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved