Jurnalisme Warga

Jangan ke Pulau Banyak, Nanti Rindu

BELUM sah ke Aceh kalau belum ke Sabang. Itulah ungkapan yang mungkin berkembang dalam tatanan

Jangan ke Pulau Banyak, Nanti Rindu
IST
MUZAKKIR, CPNS pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Kanwil Kemenag Aceh, dan Anggota Warung Penulis (WP), melaporkan dari Pulau Banyak, Aceh Singkil

OLEH MUZAKKIR, CPNS pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil, Kanwil Kemenag Aceh, dan Anggota Warung Penulis (WP), melaporkan dari Pulau Banyak, Aceh Singkil

BELUM sah ke Aceh kalau belum ke Sabang. Itulah ungkapan yang mungkin berkembang dalam tatanan hidup sebagian masyarakat Nusantara. Juga bagi penduduk asli Aceh atau bahkan warga Indonesia yang berkunjung ke provinsi paling barat Indonesia ini. Hal itu sangat wajar, mengingat keindahan alam yang ditawarkan Sabang sangat memanjakan mata. Keindahan pulaunya, pantai yang memesona, dan beningnya air laut, plus aneka biota laut di pulau itu seakan pengunjung sedang berada di tepi surga.

Namun, akhir-akhir ini Sabang mulai mendapatkan saingan seiring dengan munculnya destinasi-destinasi wisata idaman di seantero Tanah Rencong. Semua itu saya rasa wajib untuk dieksplorasi atau dijelajahi, khususnya bagi mereka yang pecinta alam.

Apalagi baru-baru ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh telah merilis tujuh objek wisata Aceh yang masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2019. Tidak hanya Sabang, beberapa daerah Aceh lainnya pun masuk untuk berbagai kategori, seperti Mangrove Forest Park di Kota Langsa yang masuk nominasi ekowisata. Selanjutnya, Tensaran Bidin di Bener Meriah untuk nominasi surga tersembunyi.

Pulau Banyak
Namun, yang menjadi objek pembahasan saya kali ini adalah Pulau Banyak di Aceh Singkil. Sebelum menceritakan tentang kehadiran Pulau Banyak sebagai “saingan” Sabang , saya akan ceritakan terlebih dahulu awal mula perkenalan eksotis saya dengan surga tersembunyi yang bernama Pulau Banyak ini.

Terima kasih tentunya kepada Kantor Wilayah Kementerian (Kanwil Kemenag) Agama Aceh, yang menjadi perantara pertemuan ini. Ya, sebagaimana diketahui, pada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kemenag tahun 2018, Kanwil Kemenag Aceh memberikan satu, bahkan satu-satunya formasi untuk penempatan di Aceh Singkil. Tepatnya di Kantor Urusan Agama (KUA) Pulau Banyak. Alhamdulillah, saya lulus sebagai Penyuluh Agama Ahli Pertama. Sepatutnya, saya harus bersedia ditempatkan di mana saja. Meskipun di lokasi yang tak pernah saya jejaki sebelumnya.

Sebagai orang yang tidak terlalu hobi trip-trip and adventure-adventure, maka nama Pulau Banyak sangat asing di telinga ini. Tapi tidak asing bagi mereka yang suka nge-trip serta doyan menjelajah. Untuk mencari tahu lebih mendalam tentang pulau ini, saya hanya bermodalkan Google dan Wikipedia. Perasaan suram dan enggan mengimpit batin saya, khususnya saat dapat info pasca-googling, muncul berbagai info perjalanan ke Pulau Banyak. Termasuk alat transportasi laut bagi pendatang, yakni menggunakan feri atau kapal penumpang lainnya. Dengan rute utama Pelabuhan Singkil-Pulau Banyak, perjalanannya butuh waktu 3-4 jam. Sungguh sangat menantang nyali, pikir saya

Tak bisa dibayangkan, bahkan sempat terlintas niat di hati untuk mengundurkan diri dari calon aparatur sipil negara (ASN). Namun, rasa waswas itu berubah 360 derajat ketika saya ketik tagar #pulaubanyak’ di Instagram. Subhanallah! Kindahan alam ciptaan Allah yang yang luar biasa terpampang nyata, membuat hati saya luluh. “Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?” Kalimat itu terbesit di benak saya dan kalimat takjub itu menjadi deskripsi yang pas saat melihat indahnya pantai, pasir putih, terumbu karang yang masih alami di kepulauan ini.

Via instagram
Walaupun Pulau Banyak yang saya nikmati sebatas via Instagram, tapi foto-foto keindahan Pulau Banyak sangatlah memukau. Membuat saya wajib berpikir seribu kali agar tidak menyia-nyiakan kesempatan bertugas di daerah yang dikelilingi Samudra Hindia ini. Hati tak sabar ingin datang dan mengeksplor lebih banyak tentang Pulau Banyak. Cerita pesona alam Singkil terus membayangi saya. Tak ubahnya seorang anak rantau yang mendambakan kampung kelahirannya. Begitulah yang saya rasakan. Seketika keinginan mundur dari ASN saya urungkan.

Setelah dua minggu berada di Pulau Banyak, beragam kisah dan pengalaman yang selalu ingin saya tuliskan. Misalnya, resepsi adat pernikahan yang masih dilestarikan dengan baik. Masyarakat di pulau ini sangat mempertahankan budayanya. Beberapa praktik adat di sini bahkan belum pernah saya temukan di daerah asal saya. Semua itu menjadikan Pulau Banyak sebagai destinasi wisata budaya yang mungkin harus ditulis demi anak cucu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved