Opini

Politik (bukan) Pertemanan

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto di Mass Rapid Transit (MRT) telah membuka celah

Politik (bukan) Pertemanan
IST
Zulfata, S.Ud., M.Ag , Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh Zulfata, S.Ud., M.Ag , Direktur Badan Riset Keagamaan dan Kedamaian Aceh Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto di Mass Rapid Transit (MRT) telah membuka celah bagi kedamaian politik pascadinamika hasil Pilpres 2019. Sikap saling klaim kemenangan politik telah berubah menjadi sikap yang akrab dengan saling mengakui teman dekat, hingga dihiasi oleh pelukan hangat Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto.

Dalam konteks ini, dua tokoh besar tersebut telah mampu mencitrakan bahwa tak selamanya kalah dalam pertarungan politik dapat membatasi hubungan pertemanan, dan tak selamanya hubungan pertemanan dapat menghalangi pertarungan politik antarteman. Sikap demikianlah yang disebut dengan praktik demokrasi yang mendewasakan.

Tampak jelas pada pertemuan MRT bahwa Prabowo Subianto dengan tegar menyatakan ucapan selamat kepada Presiden Joko Widodo yang telah memenangi Pilpres. Tidak hanya itu, Prabowo Subianto juga tegas menyatakan bahwa dirinya siap menciptakan pemerintahan demokrasi yang meniscayakan check and balance.

Dalam dunia politik, tidak ada pertemuan yang biasa-biasa saja, dan tidak ada pula teman setia atau lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan yang berkelanjutan. Kepentingan peribadi, kepentingan kelompok, hingga kepentingan bersama. Karena mengelola kepentingan inilah politik menjadi berubah-rubah, terkadang suram dan terkadang damai.

Saat ingin memaknai pertemuan MRT, Presiden Joko Widodo bukan kali ini saja bertemu secara spesial dengan Prabowo Subianto. Jauh sebelum pertarungan Pilpres 2019 dimulai, Prabowo Subianto telah mengundang Presiden Joko Widodo di kediamannya sembari melepas hasrat pertemanan di atas kuda milik Prabowo Subianto. Jadi, tidak ada yang meragukan bahwa kedua tokoh besar tersebut lemah hubungan pertemanannya.

Hadirnya tulisan ini berusaha untuk menguraikan dinamika politik yang dimainkan oleh para elite yang berteman secara kemanusiaan, namun memiliki sejumlah varian kepentingan yang berada di pundak mereka yang berteman. Kepentingan itu apakah bersifat kepentingan dalam penyusunan kabinet, kebutuhan oposisi hingga political will masing-masing partai politik (parlok) di lingkaran sesama teman. Upaya penguraian inilah yang nantinya akan menemukan mana batas politik pertemanan dan mana pula batas politik yang bukan pertemanan.

Dunia pertemanan mamang banyak membawa manfaat kemanusiaan. Jauh dari itu, dengan pertemanan jaringan politik mudah terbangun, dan strategi politik pun cepat rampung diwujudkan. Dengan pertemanan pula kepercayaan dapat terbangun. Sehingga teman dapat menjadi keluarga yang sama-sama mengerti antarsesama teman.

Dalam konteks politik demokrasi, hubungan teman adalah soal privasi. Teman tak mampu mengubah haluan politik seseorang, karena dalam politik, teman dapat dianggap sebagai salah satu media pertarungan, bahkan menjadi subjek utama yang ditarungkan.

Dinamika politik pertemanan sedemikianlah yang dialami oleh Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Teman hanya sebatas teman, walau memiliki niat yang sama untuk mewujudkan visi negara, namun memiliki langkah perpolitikan yang berbeda.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved