Tiga Mahasiswa Demo di DPRK

Sebanyak tiga mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)

Tiga Mahasiswa Demo di DPRK
IST
TIGA mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Aceh, menggelar aksi demo di halaman Gedung DPRK Aceh Utara di Lhokseumawe, Senin (15/7).

* Terkait Harga Sawit Anjlok

LHOKSUKON – Sebanyak tiga mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Aceh, menggelar aksi demo di halaman Gedung DPRK Aceh Utara di Lhokseumawe, kemarin.

Dalam aksinya itu, mereka meminta Pemerintah Aceh melalui DPRK Aceh Utara untuk menyosialisasikan standar harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa sawit. Diduga harga TBS sawit petani anjlok menyusul permainan di tingkat pengusaha.

Aksi tersebut berlangsung sekitar satu jam mulai pukul 10.00 WIB. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan “Tertibkan HGU sawit, dan save sawit. Aksi ketiganya tetap mendapat pengawalan dari belasan personel Polres Lhokseumawe. Aksi mereka berakhir sekira pukul 11.00 WIB.

Saat berorasi, ketiga mahasiswa ini secara bergantian menyebutkan, harga jual kelapa sawit anjlok di seluruh Aceh, meresahkan petani kecil yang menggantungkan hajat hidupnya pada hasil TBS. “Monopoli harga sawit sudah terang-terangan dimainkan oknum pengusaha sawit dalam mencari untung, sehingga mengakibatkan penurunan pendapatan petani kecil,” ujar Munzir.

Kondisi ini, lanjut Muznir, diperparah lagi banyaknya pembukaan lahan baru oleh pihak swasta. Akibatnya, petani kewalahan dalam memasarkan hasil produksi komoditas sawit. Anjloknya harga sawit di Aceh adalah bentuk penghancuran kekuatan produktif pertanian.

“Pencaplokan lahan untuk perusahaan perkebunan, pertambangan atau industri kehutanan semakin parah,” ujar koordinator demo didampingi dua mahasiswa, Eri dan Rusdi. Persoalan lainnya akibat eksploitasi alam berdampak pada rakyat seperti terjadinya banjir dan bencana kekeringan.

Untuk itu, pihaknya meminta Pemerintah Aceh melalui DPRK Aceh Utara segera menyosialisasikan standar TBS kepada pengusaha kelapa sawit, supaya tidak membeli di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah. “Harga sawit sekarang perkilo sekitar Rp 600 -700. Padahal pemerintah sudah menetapkan harga sawit sesuai dengan umurnya,” ujar Munzir.

Dalam aksi itu, mahasiswa juga meminta Pemerintah Aceh melalui DPRK Aceh Utara untuk menertibkan perusahaan perkebunan sawit yang Hak Guna Usaha (HGU)-nya sudah berakhir. Misalnya, PT Bapco, PT Blang Kolam, PT Setya Agung, PT Blang Ara Compani, PT Uditamina, dan KUD Pirak Jaya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindag dan UKM) Aceh Utara, Fadhli kepada Serambi menyebutkan, pihaknya belum mengetahui penyebab harga sawit anjlok. Karena itu, pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu penyebab harga sawit murah. Sebenarnya, kondisi ini bukan hanya di Aceh Utara saja, tapi juga terjadi di Aceh.

“Kalau menurut saya, kita harus memiliki tempat pengolahan sawit sendiri. Selama ini yang ada hanya pengolahan CPO (Crude Palm Oil/minyak mentah kelapa sawit). Namun, hal itu membubutuhkan biaya besar untuk mendirikannya. Itu baru memungkinkan didirikan jika ada investor. Tahun depan, kita akan mencoba saja ajukan ke kementerian,” ujar Fadhli.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved