Salam

“On The Track”, Akan Tetapi Jauh Dari Target

Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi MEcon mengatakan, realisasi pembangunan Aceh pada tahun

“On The Track”, Akan Tetapi Jauh Dari Target
Rustam Efendi 

Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi MEcon mengatakan, realisasi pembangunan Aceh pada tahun kedua pemerintahan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah (Irwandi-Nova) tak mencapai target sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) yang telah disusun sebelumnya. Namun, Pemerintah Aceh melalui jurubicaranya, Saifullah Abdul Gani mengingatkan bahwa perkembangan pembangunan Aceh sekarang sudah ke arah yang positif.

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh Tahun 2018 dan papan reklame (baliho) publikasi ‘2 Tahun Jejak Aceh Hebat’ yang terpampang di beberapa persimpangan jalan tercantum beberapa data capaian keberhasilan Pemerintah Aceh selama periode 5 Juli 2017-5 Juli 2018. Antara lain, pertumbuhan ekonomi Aceh yang naik dari 4,19 persen menjadi 4,61 persen, inflasi yang turun dari 4,25 menjadi 1,84 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 70,60 menjadi 71,19, kesenjangan pendapatan turun dari 0,329 menjadi 0,318, pengangguran turun dari 6,57 menjadi 6,35 persen, dan kemiskinan turun dari 15,92 menjadi 15,68 persen.

Menurut Rustam, angka-angka itu jauh dari target RPJMA. Dalam dokumen RPJMA, pertumbuhan ekonomi Aceh 2018 ditargetkan tumbuh 5 persen, pengangguran ditargetkan turun menjadi 6,45 persen, dan kemiskinan ditargetkan turun menjadi 15,43 persen. Sementara untuk inflasi, IPM, dan kesenjangan sosial atau rasio gini, target yang ingin dicapai tak tercantum di dalam RPJMA. “Jadi, dasar mereka menyajikan data itu dari mana? Patokannya dari mana?” tanya Rustam.

Selain itu, lanjut pakar ekonomi ini, semestinya di dalam baliho ‘2 Tahun Jejak Aceh Hebat’ tersebut juga menyajikan angka-angka yang ditetapkan di dalam RPJMA. “Itulah yang namanya transparan. Kalau yang sekarang kita lihat, itu namanya pencitraan, mengesankan seakan-akan tumbuh bagus, tetapi sebenarnya jauh dari target. Itu pun yang ditampilkan hanya yang bagus-bagus saja. Menurut saya, ini termasuk penipuan publik,” pungkasnya.

Salah satu data penting yang capaiannya tidak disampaikan ke publik adalah Nilai Tukar Petani (NTP), sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani yang jumlahnya mayoritas di Aceh. Dokumen RPJMA, target NTP 2018 yang ditetapkan 98, tapi realisasinya cuma 91,53. “Antara target dan realisasi berselisih sangat jauh,” kata Rustam.

Jurubicara Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, mengatakan, walau pembangunan Aceh belum mencapai target RPJMA, tapi sudah on the track, ke arah yang positif. “Bahkan, dibanding percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, ekonomi Aceh empat kali lebih tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi Aceh naik dari 4,19% di awal periode pemerintahan Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah menjadi 4,61% pada tahun 2018,” ungkapnya.

Kita tak ingin membantah data-data yang diungkap Rustam maupun yang disampaikan Saifullah Abdul Gani. Sebagai dan pengamat ekonomi, Rustam tentu harus kritis serta dapat mempertanggungjawabkan data-data dan pendapatnya secara ilmiah. Demikian pula dengan Saifullah, sebagai jurubicara ia tentu akan lebih banyak berbicara tentang data-data statistik keberhasilan atau hal-hal yang positif.

Bagi masyarakat awam, yang diperlukan hari ini bukan data statistik yang menghibur para elitis, tapi yang lebih penting adalah bagaimana harga cabai merah di pasar tidak lagi Rp 80 ribu sekilogram, atau bagaimana hasil pertanian bisa cepat sampai ke pusat pemasaran tanpa terganggu oleh jembatan yang rusak, jalan yang putus karena longsor, dan lain-lain. Demikian pula para pelaku atau calon pelaku UKM bagaimana mereka bisa mendapat modal tanpa harus menjadi korban rentenir.

Begitu juga nelayan, bagaimana mereka bisa mendapat solar bersubsidi secara lancar dan gampang di setiap SPBU tanpa harus kuncing-kucingan membeli solar dengan jerigen. Petani padi juga kapan bisa memperoleh pupuk bersubsidi secara lancar dan tepat waktu?

Jadi jika pelayanan terhadap orang-orang kecil yang merupakan mayoritas di provinsi ini, Insya Allah, angka-angka yang dibicarakan akan meroket secara otomatis dan angka kemiskinan akan turun drastis. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved