Jurnalisme Warga

Pesona Punthuk Setumbu, Borobudur

Borobudur International Arts and Performance Festival (BIAPF) tanggal 5-7 Juli 2019 usai sudah

Pesona Punthuk Setumbu, Borobudur
IST
Ir. CUT PUTRI ALYANUR, Pegawai Badan Penghubung Aceh di Jakarta, melaporkan dari Borobudur, Magelang, Jawa Tengah

OLEH  Ir. CUT PUTRI ALYANUR, Pegawai Badan Penghubung Aceh di Jakarta, melaporkan dari Borobudur, Magelang, Jawa Tengah

Borobudur International Arts and Performance Festival (BIAPF) tanggal 5-7 Juli 2019 usai sudah. Pada kegiatan utama BIAPF itu, Badan Penghubung Aceh di Jakarta berpartisipasi aktif sebagai duta seni budaya dalam forum internasional yang dipusatkan di pelataran Taman Lumbini dan Candi Pawon itu. Berada di Candi Borobudur, bertemu dengan semua seniman daerah dan mancanegara, menorehkan kesan dan kisah tersendiri bagi saya.

Ini acara resmi yang padat jadwal penampilan seni, tapi tertata baik dan apik. Di sini pula kami menyaksikan megahnya Candi Borobudur--warisan budaya dunia itu--dari jarak yang sangat dekat. Demikian pula dengan moleknya Candi Pawon, tempat penampilan seni tari Aceh yang mengundang decak kagum dan tepuk tangan tiada henti dari masyarakat serta wisatawan yang menyaksikan Borobudur International Festival.

Melihat Borobudur dan Pawon dari dekat adalah hal biasa dan nyata. Lalu, bagaimana bila kita melihat indah dan megahnya Borobudur dari sisi lain yang berbeda, dipadu keindahan alam ciptaan Tuhan? Hal inilah yang menjadi spirit inspirasi saya untuk merasakan sensasi megahnya Borobudur dengan cara lain, seraya mengagumi karunia Sang Pencipta. Dengan tekad dan niat yang tulus, saya menemukan tempat dan caranya, yaitu sebuah bukit tak jauh dari Candi Borobudur. Dengan ditemani seorang pemandu bernama Yazid--juga tokoh masyarakat Borobudur, pegiat wisata, dan kepala dusun--di bukit tempat tujuan saya, yaitu Punthuk Setumbu.

Punthuk Setumbu adalah nama tempat yang bila diartikan“Bukit Gabah” atau “Gundukan Beras”. Letaknya di sebelah barat Candi Borobudur, tepatnya di Dusun Kurahan, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Punthuk Setumbu merupakan desa wisata yang selalu menjaga kelestarian magisnya Borobudur, sang ikon Indonesia dengan keajaibannya. Di bukit inilah saya menyaksikan Surya Baskara memberi salam kepada bumi manusia dan juga siap tenggelam di ufuk barat, di balik rerimbunan hijaunya pohon, menjelang senja.

Perjalanan wisata kami difasilitasi oleh Yazid yang juga pengurus kamunitas VW Combi, kendaraan yang bisa kita dapatkan di sekitar Borobudur.

Di sepanjang perjalanan menuju bukit, banyak cerita dan kisah tentang masyarakat, alam, pesona ciptaan Tuhan Yang Agung, dan harus kita hargai sebagaimana mestinya. Juga tentang perilaku, sopan santun, dan keramahan masyarakat dalam menerima wisatawan yang berkunjung ke desanya.

Menyusuri Puncak Bukit Punthuk Setumbu yang terdiri atas jalan setapak berundak batu sejumlah 120 undakan, dengan ketingian 385 mdpl, di subuh pagi, terasa nikmat sekali. Sensasi yang berbeda dengan pendakian di Bukit Piyainemo, Raja Ampat, Papua Barat yang berundak dan pegangan tangan dari kayu sejumlah 300 undakan. Piyainemo dan Bukit Punthuk Setumbu sama membekas di hati saya. Betapa hebatnya bumi Allah ini, dengan alam, laut, dan angkasa raya semesta.

Sambil terus berjalan mendaki Puncak Punthuk Setumbu, terdengan suara azan subuh memanggil umat muslim untuk menjalankan syariatnya. Suara azan bersahutan dari surau di atas bukit dan sekitaran bukit dalam gulita pagi yang hanya diterangi lampu-lampu kecil penerang undakan pendakian, serta lampu handphone para pendaki pengejar matahari terbit.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved