Opini

Oligarki Bisnis Penerbangan

Akhir Juni lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta guna membangun kerjasama (memorandum of agreement)

Oligarki Bisnis Penerbangan
IST
Teuku Kemal Fasya, Pengajar FISIP di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe

Oleh Teuku Kemal Fasya, Pengajar FISIP di Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Akhir Juni lalu saya melakukan perjalanan ke Jakarta guna membangun kerjasama (memorandum of agreement) dengan sebuah media nasional. Sebagai kepala Kehumasan dan Hubungan Eksternal, kami harus membangun relasi dengan pebagai pihak untuk meningkatkan akreditasi kampus.

Pihak perwakilan media heran karena saya datang sendirian. Saya katakan, sulit saat ini melakukan kunjungan dinas ke luar daerah bersama tim karena mahalnya ongkos pesawat. Saat berangkat dengan rute Aceh-Jakarta menggunakan pesawat Lion Air saya harus membayar Rp 2,4 juta termasuk biaya bagasi. Rute kembali saya pilih Jakarta- Medan dengan Garuda berharga Rp 2,5 juta. Kalau bukan urusan dinas atau darurat, sangat sulit bagi banyak masyarakat untuk menggunakan moda transportasi udara.

Padahal tahun lalu, dengan biaya sekitar Rp 800-900 ribu masyarakat Aceh bisa melakukan penerbangan dengan Lion atau pesawat sejenis ke Jakarta dan hanya Rp 1-1,2 juta dengan Garuda. Kini sebagian masyarakat Aceh melakukan siasat lain. Jika ingin ke Jakarta, mereka menempuh transit ke Kuala Lumpur dulu dengan pesawat Airasia. Siasat seperti ini bisa menghemat hingga lebih satu juta rupiah.

Misteri bisnis penerbangan
Sejak memasuki tahun 2019 publik “tercekik” mahalnya tiket pesawat domestik. Harga tiket tidak mengalami penurunan signifikan hingga pertengahan tahun. Bahkan ketika dikatakan bahwa tiket akan turun per 11 Juli, nyatanya belum cukup signifikan. Bahkan harga tiket penerbangan di Aceh masih tetap mahal (Serambi, 12/7).

Beberapa analisis menyebutkan ini adalah dampak jangka panjang terkait murahnya harga tiket pesawat di masa lalu. Mahalnya harga tiket katanya adalah “kutukan” dari buruknya manajemen di masa lalu.

Alasan agak sulit diterima. Pertama bagaimana logika ketika konsumen harus menanggung kerugian dari pola manajemen bisnis penerbangan yang buruk. Bahkan sebenarnya jika dikomparasikan dengan tiket maskapai penerbangan regional, harga tiket Indonesia tidak bisa dibilang termurah. Untuk penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) seperti Jetstar, Malindo Air, dan Airasia tiket maskapai dalam negeri tidaklah istimewa.

Kedua, untuk penerbangan dengan layanan baik (full service airline) dari maskapai asing seperti Malaysian Airlines tidak mengambil kebijakan “kanibal harga dan kualitas”. Malaysia Airlines System Bhd sejak tahun lalu divonis bangkrut. Namun penumpang masih bisa menikmati pelayanan harga normal tanpa pompaan harga tiket ke langit.

Namun, Garuda melakukan sistem kanibal atau amputasi. Kini penumpang maskapai plat merah itu tidak ada lagi mendapatkan pelayanan koran yang biasa dinikmati.

Ketiga, upaya pemerintah menyelesaikan masalah ini terlihat artifisial untuk tidak mengatakan setengah hati. Kebijakan Menteri Perhubungan melalui Keputusan KM 72 tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 12-16 persen per 15 Mei lalu masih kurang berdampak secara signifikan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved