Rabu, 13 Mei 2026

Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia, Seniman Serba Bisa Pencipta Keluarga Cemara

Arswendo Atmowiloto, sastrawan dan wartawan senior itu telah berpulang pada usianya yang ke-70, Jumat (19/7/2019) petang.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY
Arswendo Atmowiloto. (KOMPAS/ARBAIN RAMBEY) 

SERAMBINEWS.COM - Arswendo Atmowiloto, sastrawan dan wartawan senior itu telah berpulang pada usianya yang ke-70, Jumat (19/7/2019) petang.

Sastrawan dan wartawan Arswendo Atmowiloto meninggal dunia, Jumat (19/7/2019) pukul 17.50 WIB, di kediamannya, kawasan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

Seniman sekaligus wartawan ini meninggal dunia setelah melawan sakit kanker prostat yang dideritanya.

Dikutip dari pemberitaan Wartakota, pria kelahiran 26 November 1948 ini mengidap kanker prostat sejak April 2019.

Pada 25 Juni 2019, mantan Pemimpin Redaksi majalah Hai ini dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, karena kondisinya yang memburuk.

Hal ini disampaikan oleh rekannya yang merupakan seniman teater Indonesia bernama Rudolf Puspa melalui akun Twitter-nya @rudolf_puspa.

“Arswendo 2 bulan ini terkena kanker prostat, sudah 2 kali dioperasi. Kondisinya tadi pagi drop sudah dibawa dengan ambulans ke RS Pertamina. Mohon doa ya,” tulis Rudolf, 25 Juni 2019.

Rudolf mengatakan, sahabatnya itu sudah menjalani dua rangkaian operasi untuk menyembuhkan kanker prostat yang menyerangnya.

Namun, kondisi kesehatannya justru memburuk.

Sebelumnya, penulis skenario Harry Tjahjono juga sempat mengabarkan kondisi Arswendo melalui Twitter-nya pada 15 Juni 2019.

Saat itu, fisik Arswendo nampak terbaring lemah dan lebih kurus dari biasanya.

Ia menyebut, sebulan sebelumnya Arswendo masih bisa duduk dan bercanda.

Namun, ketika dijenguk kembali, Arswendo lebih suka dalam posisi tiduran dan sesekali merespon candaan dengan menyunggingkan senyum.

Semasa hidupnya, ia sangat aktif menulis di berbagai majalah dan surat kabar, salah satunya di Harian Kompas. Tak hanya itu, ia juga menulis cerpen, novel, naskah drama hingga skenario film.

Pada tahun 1972, Arswendo menjabat sebagai pimpinan Bengkel Sastra Pusat Kesenuan Jawa Tengah.

Ia juga pernah menjadi pimpinan redaksi Majalah Hai, Monitor, Senang, hingga Tabloid Bintang.

Hingga akhirnya, Arswendo berhasil mendirikan perusahaannya sendiri, PT Atmo Bismo Sangotrah.

Perusahaan Arswendo tersebut memimpin produksi tiga tabloid sekaligus, yaitu tabloid anak Bianglala, Ina, dan Pro-TV.

Arswendo juga telah menerbitkan puluhan buku.

Menurut situs Gramedia.com, buku-buku Arswendo yang terkenal antara lain seri Keluarga Cemara, Canting, hingga Dua Ibu.

Pada 6 Oktober 1999 hingga 29 Agustus 2004 cerita bersambung Keluarga Cemara karya Arswendo ditayangkan menjadi serial televisi legendaris di stasiun televisi swasta RCTI.

Dalam versi serial, kisahnya berpusar pada kehidupan keluarga Abah yang bersahaja dan jujur di sebuah desa di Sukabumi, Jawa Barat.

Serial televisi tersebut sangat terkenal di zamannya, hingga pada Januari 2019 Keluarga Cemara difilmkan dan dirilis di seluruh bioskop di Indonesia.

Pada 19 Januari 2019, film ini memborong penghargaan Piala Maya dalam kategori film bioskop terpilih, penyutradaraan berbakat, skenario adaptasi terpilih, tata musik terpilih, lagu tema terpilih, hingga aktor anak terpilih.

Tak hanya itu, beragam penghargaan diterima Arswendo Atmowiloto di dunia kepenulisan.

Pada tahun 1972, ia memenangkan Hadiah Zakse atas esainya yang berjudul "Buyung-Hok dalam Kreativitas Kompromi".

Kemudian pada tahun 1972 dan 1973, naskah dramanya yang berjudul Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama memperoleh hadiah harapan dan hadiah perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ.

Selain itu, karya Dua Ibu, Keluarga Bahagia, dan Mendoblang memenangkan ajang sastra Asean pada tahun 1981, 1985, dan 1987.

Beberapa bulan belakangan pria kelahiran Solo, Jawa tengah tersebut dikabarkan menderita penyakit prostat.

 Ia sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Hingga akhirnya, Arswendo Atmowiloto meninggal di rumahnya di Komplek Kompas, Petukangan, Jakarta Selatan sore tadi.

Selamat jalan Arswendo...

Dari Penjaga Sepeda, Pemungut Bola, hingga Menjadi Sastrawan

Arswendo Atmowiloto di ruang kerja di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2013)(KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)
Arswendo Atmowiloto di ruang kerja di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2013)(KOMPAS/WAWAN H PRABOWO) 

Sastrawan Arswendo Atmowiloto meninggal dunia pukul 17.50, Jumat (19/7/2019).

Arswendo berpulang di rumahnya karena sakit yang dideritanya selama ini.

Berikut perjalanan Arswendo hingga dikenal sebagai seseorang yang berdedikasi sebagai wartawan dan sastrawan.

Mengutip situs Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat (19/7/2019), Arswendo Atmowiloto lahir dengan nama Sarwendo.

Pria kelahiran 26 November 1948 ini mengubah namanya menjadi Arswendo lantaran dianggap kurang komersial dan tidak terkenal.

Kemudian, ia menambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sebagai kata kedua pada namanya.

Arswendo meninggalkan seorang istri, Agnes Sri Hartati, yang dinikahinya pada 1971.

Dari penikahannya, ia dikaruniai tiga orang anak, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.

Perjalanan karir

Arswendo pernah menempuh pendidikan di Fakultas Bahasa dan Sastra di IKIP Solo, meski tidak diselesaikan.

Ia juga pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.

Setelah itu, ia mulai bekerja di pabrik bihun dan pernah pula di pabrik susu.

Penulis naskah drama Keluarga Cemara ini juga pernah menjejaki profesi sebagai penjaga sepeda dan pemungut bola di lapangan tenis.

Awal karirnya di bidang sastra baru dimulai pada tahun 1972, saat ia menerbitkan cerita pendek (cerpen) pertama berjudul Sleko.

Cerita ini dimuat di Majalah Mingguan Bahari.

Karya-karyanya dimuat dalam berbagai media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Aktual, dan Horison. Tak hanya itu, dia pun juga dikenal sebagai penulis novel.

Tulisannya sering dianggap bernada humoris, fantastis, spekulatif, dan gemar bersensasi.

Selain menulis, Arswendo juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah.

Arswendo pernah bekerja sebagai konsultan penerbitan di Subentra Citra Media pada tahun 1974-1990, kemudian Pemimpin Redaksi Majalah Hai.

Ia juga tercatat pernah menjabat sebagai pengarah redaksi Majalah Senang tahun 1998.

Baca: Tanggapi Wacana Jabatan Presiden 8 Tahun, Mahfud MD Jelaskan Sisi Positif dan Negatif

Baca: Sastrawan Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia, Kenali 5 Faktor Risiko Kanker Prostat

Baca: Cambukan Keempat Algojo Buat Pria yang Divonis Bersalah karena Bermesraan Ini Jatuh Pingsan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Arswendo Atmowiloto, Seniman Serba Bisa Pencipta Keluarga Cemara"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved