Opini

Membentuk Karakter Anak Sejak Usia Dini

Jika kita mau berkata jujur “Tiada artinya bila anak pintar tapi tidak berkarakter, termasuk tidak jujur dan tidak disiplin

Membentuk Karakter Anak Sejak Usia Dini
IST
Dr. Murni, S.Pd,I.,M.Pd, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Araniry, Banda Aceh

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I.,M.Pd, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Araniry, Banda Aceh

Jika kita mau berkata jujur “Tiada artinya bila anak pintar tapi tidak berkarakter, termasuk tidak jujur dan tidak disiplin,lebih baik berteman dengan anak yang berkarakter baik walaupun kemampuan intelektualnya biasa-biasa saja. “Mungkin kita sering mendengar satu peribahasa, “Belakang parang bila diasah akan tajam juga.”

Peribahasa ini bermakna: Orang yang bodoh jika diajari terus-menerus dengan sabar akhirnya akan menjadi pandai juga.” Setiap orang tua pasti mendambakan putra-putrinya menjadi generasi Rabbani. Tak hanya cerdas, namun juga menjadi pribadi shalih yang berwawasan maju, berbudi pekerti baik dan tentunya siap menghadapi perkembangan zaman.

Pada dasarnya karakter anak sudah terbentuk semenjak ia masih dalam rahim seorang ibu. Pembentukan karakter tersebut hakikatnya sudah dipengaruhi oleh faktor genetik, sehingga watak dari peserta didik tersebut, menurut para peneliti bahwa 20% karakter bapaknya, 20% karakter ibunya, dan 60% karakter tersebut dipengaruhi oleh lingkungan yang telah mendidiknya. Dari 60% bangunan karakter tersebut, salah satunya adalah pendidikan yang ikut serta membentuk dan mengembangkannya, sehingga masing-masing keperibadian dari anak memiliki ciri khas yang berbeda pula, karena dilatarbelakangi faktor genetik, lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.

Oleh sebab itu seorang guru memiliki peran yang cukup signifikan dalam rangka menjadikan para peserta didik cerdas secara intelektual, emosional, dan spritual, sehingga hal tersebut akan menjadi bekal bagi anak untuk menjalani kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dimulai dari keluarga
Pembinaan karakter sebenarnya dimulai dari keluarga. Apabila seorang anak mendapatkan pembinaan karakter yang intens akan membuat dirinya memiliki karakter yang positif akan berkembang dan mengakar dalam dirinya. Namun, dalam kenyataannya sebagian orang tua, lebih mementingkan kecerdasan otak daripada pembinaan karakter. Saat ini bisa dilihat banyak orang tua yang mengalami kegagalan dalam mendidik karakter anak-anaknya yang mungkin disebabkan kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Meskipun demikian, hal ini masih dapat diperbaiki dengan memberikan pembinaan karakter di sekolah.

Pembinaan karakter di sekolah sangat diperlukan dalam mengembangkan karakter positif anak, sehingga peserta didik dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai norma-norma, etika, dan kesusilaan yang ada dalam masyarakat. Melalui pembinaan karakter di sekolah peserta didik dibina, dibentuk, diarahkan dan dibimbing untuk memiliki karakter yang baik, sehingga dirinya dapat menunjukkan sikap atau perilaku yang baik ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Apabila pendidikan anak jauh dari pada akidah Islam, lepas dari ajaran religius dan tidak berhubungan dengan Allah swt, maka tidak diragukan lagi, bahwa anak tersebut akan tumbuh dewasa di atas dasar kefasikan, penyimpangan, kesesatan, dan kekafiran. Ia akan meugikuti nafsu dan bisikan-bisikan setan, sesuai dengan karakter, tabiat, fisik, keinginan, dan tuntutannya yang rendah. Kalau karakter, watak dan sikap anak itu bertipe pasif dan pasrah, maka ia akan hidup sebagai orang yang bodoh. Hidupnya seperti mati, bahkan keberadaannya seperti tidak ada.

Tiada seorang pun yang merasa perlu akan hidupnya, dan kematiannya tidak akan mempunyai arti apapun. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan mendapatkan ruang seluas-luasnya untuk membentuk karakter anak sesuai dengan yang dikehendaki pencipta-Nya.

Dalam Alquran ataupun Sunnah Nabi banyak dijabarkan bagaimana cara membentuk dan mendidik anak sehingga bisa menjadi anak yang berkarakter. Karena pembentukan anak yang berkarakter mustahil dilakukan jika tidak ada contoh nyata yang bisa dijadikan uswah atau teladan. Teladan ini menjadi penting karena anak juga memerlukan figur sehingga ia akan mengikuti jalan yang pernah dilakukan oleh figur tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved