Pemkab Harus Serius Tangani Mata Ie

Lembaga swadaya masyarakat yang concern terhadap isu lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh

Pemkab Harus Serius Tangani Mata Ie
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Muhammad Nur, Direktur WALHI Aceh 

BANDA ACEH - Lembaga swadaya masyarakat yang concern terhadap isu lingkungan, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar untuk serius menangani bencana kekeringan di Mata Ie, Aceh Besar. Sebab menurut Walhi, permasalahan Mata Ie bukan hanya disebabkan oleh kemarau, tetapi diduga ada kerusakan ekosistem yang harus ditangani secepatnya.

Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, Kamis (18/7) mengatakan, kondisi Mata Ie saat ini tidak mutlak disebabkan oleh kemarau panjang. Berdasarkan keterangan para ahli geologi, kekeringan Mata Ie dan sekitarnya dipengaruhi oleh jenis dan sifat dari tanah serta bebatuan yang berdampak pada minimnya kemampuan menyerap dan menyimpan air. Selain itu, beberapa aktivitas produksi manusia yang tidak pernah melakukan upaya-upaya penyelamatan sumber air, diyakini merusak kawasan kars sebagai sumber-sumber mata air.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan, karena Mata Ie belum pernah mengalami kekeringan parah seperti saat ini. Perlu kajian mendalam terkait kondisi alam di sekitar daerah tersebut, sehingga tidak membawa bencana yang lebih parah lagi ke depan,” ucap Muhammad Nur. Dari kajian tersebut, lanjutnya, diharapkan pemerintah dapat menemukan solusi yang bisa menyelamatkan Mata Ie sebagai sumber air bagi masyarakat.

Untuk itu, Walhi meminta Pemkab Aceh Besar bersama pihak provinsi untuk melakukan kajian secara serius dan sistematis, untuk menemukan penyebab utama dari kekeringan tersebut. Menurutnya, pemerintah harus membentuk tim kerja yang terdiri atas para ahli geologi dan ahli lainnya untuk mengkaji permasalahan tersebut secara komprehensif.

“Selama ini pemerintah terkesan kurang serius. Untuk melihat bagaimana sumber air Mata Ie saja belum ada tim yang dibentuk. Padahal kekeringan parah ini sudah tiga kali terjadi,” katanya. Menurut M Nur, Pemkab dan Pemerintah Aceh jangan hanya bicara pemanfaatan saja, tetapi harus ada tanggung jawab sebagai pengelola air dengan merawat sumber air yang ada.

M Nur menambahkan, penambahan penduduk dari hari ke hari di wilayah Mata Ie dan sekitarnya serta berbagai aktivitas yang ada di sana dapat merusak sumber mata air di wilayah kars. “Keberadaan pabrik semen di sana juga perlu dikaji tim, sehingga ditemukan bagaimana kondisi kars sesungguhnya. Untuk diketahui, bukit kars dari Mata Ie hingga ke Leupung merupakan kesatuan ekosistem,” pungkasnya.

Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali yang dihubungi Serambi, kemarin mengatakan, Pemkab Aceh Besar sedang mencari solusi terkait permasalahan Mata Ie. Pihaknya bersama instansi terkait di provinsi akan membahas permasalahan itu dalam waktu dekat. “Bila perlu kami akan membentuk tim untuk mengkaji permasalahan air di Mata Ie. Tentunya harus melibatkan orang yang paham tentang ekosistem kawasan ini. Insyaallah kami akan segera bahas,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, Pemkab juga sedang menjajaki sejumlah sumber air baru di Aceh Besar untuk kebutuhan masyarakat ke depan. “Kita masih punya sumber air baku seperti di Leupung. Tentunya perlu survei yang lebih mendalam terkait potensi sumber air itu agar bisa digunakan ke depan,” jelasnya.

Mawardi Ali menyampaikan keprihatinan terhadap masalah kekeringan yang sedang dihadapi masyarakat Mata Ie dan sekitarnya. Untuk meminimalisir dampak kekeringan itu, pihaknya sudah mensuplai air dari WTP Siron ke Mata Ie. Selain itu, PDAM Tirta Mountala juga mendistribusikan air dengan mobil tangki ke sekolah, masjid, atau tempat penampungan air umum di gampong yang terdampak kekeringan.

“Kekeringan ini bisa disebabkan oleh banyak hal. Selain karena kita sedang dalam musim kemarau, ada faktor lain yang bisa menyebabkan kekeringan seperti perambahan hutan,” ucap Mawardi. Dia mencontohkan perambahan hutan di Leupung dan Lhoong serta aktivitas pabrik di sekitar Mata Ie, yang menurutnya bisa berpengaruh terhadap penyusutan air.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved