Puluhan Nelayan Cangkul Kuala tak Bisa Melaut Lagi

Puluhan nelayan dari Desa Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, dan Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu

Puluhan Nelayan Cangkul Kuala tak Bisa Melaut Lagi
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Sejumlah boat ukuran kecil menambatkan pada bibir Kuala Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Panteraja, Pidie Jaya dengan kondisi sangat dangkal 

LHOKSUKON – Puluhan nelayan dari Desa Lancang Barat, Kecamatan Dewantara, dan Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara sejak Rabu (17/7) sore hingga Kamis (18/7) dini hari harus mengeruk kuala Bungkah yang membatasi dua kecamatan itu dengan menggunakan cangkul serta sekop. Hal ini dilakukan warga menyusul kuala tersebut sudah dangkal sehingga nelayan tak bisa melaut.

“Nelayan di kawasan desa kami dan di Bungkah, sudah 20 hari lebih tak bisa melaut. Sebab, kuala yang menjadi perbatasan di dua kecamatan itu dangkal. Sehingga nelayan tak bisa mengeluarkan boatnya untuk melaut,” lapor Keuchik Lancang Barat, Iskandar Muda Yusuf kepada Serambi, kemarin.

Menyusul kondisi ini, warga sepakat untuk mengumpulkan uang untuk membeli peralatan seperti cangkul dan sekop guna mengeruk kembali kuala secara manual. Sehingga, nelayan di kawasan itu dapat melaut kembali. “Sorenya memulai pengerukan dan ternyata baru selesai sekitar pukul 03.00 WIB dini hari,” katanya.

Disebutkan, panjang kuala yang dikeruk sekitar 50 meter dengan lebar delapan meter dan kedalaman sekitar 2,5 meter. Selepas pengerukan itu, puluhan boat nelayan dari Desa Bungkah dan Desa Lancang Barat sudah bisa dikeluarkan melalui kuala sejak pagi kemarin. “Ini pengerukan yang kedua kali dilakukan selama dua tahun terakhir. Pada November 2018 lalu, nelayan di kawasan ini juga melakukan hal yang sama,” ujar keuchik.

Iskandar Muda secara terbuka mengakui, warga sudah pernah menyampaikan persoalan ini kepada Pemkab Aceh Utara beberapa tahun yang lalu. Namun, sampai sekarang belum ada respon untuk pembangunan kuala tersebut. “Tahun lalu, kami juga berusaha meminta bantuan alat berat untuk memudahkan pengerukan dari Pemkab. Akan tetapi, sampai sekarang belum dipenuhi,” katanya.

Ditambahkan, dangkalnya kuala tersebut juga menyebabkan air dari sungai di kawasan itu masuk ke areal sawah. Selama ini, Kuala Bungkah juga dimanfaatkan menjadi saluran guna mengalirkan air sungai ke laut. “Kami berharap kepada Pemkab supaya keluhan masyarakat bisa ditampung untuk ditindaklanjuti,” harapnya.

Sementara Nurdin (48), nelayan asal Desa Lancang Barat kepada Serambi juga menyebutkan hal serupa. “Hari ini, kami harus menggali lagi kuala, karena kembali tertimbun setelah terjadi pasang purnama. Akibatnya, boat yang sudah melaut tidak bisa masuk lagi. Para nelayan terpaksa menambatkan boatnya di pinggir pantai kawasan tersebut,” ungkap Nurdin.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Utara, Ir Jafar Ibrahim kepada Serambi menyebutkan, untuk membangun kuala tersebut butuh dana besar. Karenanya, nelayan di kawasan itu dapat mengajukan program ke Gubernur Aceh ditembuskan ke pihaknya. Agar pihaknya dapat memasukkan dalam perencanaan. “Sepertinya belum ada usulan ke dinas,” ungkapnya.

Ditambahkan, untuk menghindari sedimentasi harus dibangun pengaman bibir pantai (jetty) yang menjorok ke laut supaya tidak mudah dangkal. Selain itu, juga perlu dibangun tempat sadaran boat. “Jadi, butuh dana miliaran untuk membangun kuala seperti yang ada di Bangka Jaya,” pungkas Jafar.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved