Citizen Reporter

Belajar Rehabilitasi Jantung di Swiss

Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan berkunjung Kota Bern, Swiss, mewakili Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin

Belajar Rehabilitasi Jantung di Swiss
IST
DR. MUHAMMAD RIDWAN, MAppSc, SpJP (K)-FIHA, Kepala Unit Rehabiitasi Jantung RSUD dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, melaporkan dari Bern, Swiss

OLEH DR. MUHAMMAD RIDWAN, MAppSc, SpJP (K)-FIHA, Kepala Unit Rehabiitasi Jantung RSUD dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, melaporkan dari Bern, Swiss

Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan berkunjung Kota Bern, Swiss, mewakili Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) dan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK Unsyiah) untuk mengikuti short course dalam hal Preventive Cardiology, Cardiac Rehabilitation and Sport Cardiology selama dua minggu.

Banyak orang yang tidak tahu kalau Bern merupakan ibu kota Swiss (Switzerland), karena Zurich, kota terbesarnya yang justru lebih populer. Swiss merupakan negara yang berada di tengah kecamuk perang dunia, tetapi tidak terlibat Perang Dunia I dan II, sehingga dipercaya sebagai negara netral. Di sini pula berkantor pusat banyak lembaga dunia seperti PBB, WHO, Komite Palang Merah Internasional (ICRC), International Air Transport Association (IATA), International Organization for Migration (IOM), dan Pusat Riset Nuklir Eropa (CERN) di negara tersebut.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak mempersiapkan pertahanan negaranya. Swiss memberlakukan wajib militer untuk semua warganya yang sehat di usia muda. Bagi yang tidak ikut, diwajibkan membayar tambahan pajak penghasilan. Lebih lanjut, semua rumah dan apartemen yang dibangun harus menyiapkan bunker untuk serangan nuklir yang dilengkapi dengan stok makanan dan persenjataan untuk beberapa hari. Jadi, dalam hal preventif (pencegahan), Swiss sudah melangkah lebih maju, sehingga tidak heran, pelayanan preventif kardiologinya pun sangat maju di sini, dengan moto “prevention is better than cure”, karena prevensi, promosi kesehatan kardiovaskular, dan upaya untuk meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit jantung merupakan program prioritas nasional Swiss.

Kejadian penyakit kardiovaskuler beserta kanker di Swiss sangat tinggi, seperti juga di negara Eropa lain dan juga di dunia. Penyakit jantung tetap menjadi penyebab kematian nomor satu di sini. Namun, yang berbeda, dalam satu dekade terakhir Swiss berhasil menurunkan mortalitas kardiovaskuler pada usia dini secara signifikan: 40 persen karena kemajuan teknologi dan pengobatan, 50 persen terkait pengendalian faktor risiko.

Rehabilitasi jantung telah menjadi bagian integral dari pelayanan kardiovaskular di Rumah Sakit Inselspital, Bern, juga di berbagai rumah sakit dan klinik jantung lainnya di Swiss. Pasien yang menjalani tindakan emergensi kardiovaskuler, seperti operasi bypass, transplantasi (cangkok) jantung, operasi jantung bawaan, operasi ganti katup, pemasangan pacu jantung, pompa jantung buatan (assisstive heart device), pemasangan ring (stent) koroner, operasi pembuluh darah kaki telah melakukan konsultasi dengan divisi rehabilitasi jantung sejak hari-hari awal. Demikian juga pasien dengan gagal jantung dan pasien rawatan ICCU.

Mobilisasi dini dan edukasi pasien merupakan tugas utama tim rehab jantung di negeri ini. Untuk safety, pasien yang dimobilisasi dipantau dengan EKG telemetry (pakai wireless, terpantau dari nurse/medic station), baik yang di unit rawat inap maupun di layanan rawat jalan.

Pasien yang sudah mampu berjalan sendiri akan dimotivasi untuk mengikuti program rehab jantung dari poliklinik yang berlangsung selama tiga bulan (12 minggu).

Selama rehabilitasi jantung rawat jalan, pasien akan diajarkan tentang penyakit jantung, obat-obatan yang dikonsumsi, cara mengatasi keluhan yang sering terjadi, konsultasi diet/nutrisi, konsultasi psikologi, bantuan untuk stop merokok, menurunkan berat badan, juga edukasi tentang hipertensi, diabetes, dan kolesterol. Pasien dites kebugaran pada awal dan akhir progam. Selama latihan, pasien menikmati sharing (berbagi cerita dan pengalaman) dengan sesama pasien. Model latihan pun tidak semata untuk aerobik (sepeda, jalan, dan treadmill), tapi juga sudah melibatkan latihan beban dengan intensitas tinggi yang diselingi dengan intensitas rendah-sedang yang terbukti lebih baik dari hanya intensitas sedang saja: latihan jalan naik-turun bukit dengan menggunakan tongkat khusus double (Nordic walking), latihan dengan karet elastik, latihan peregangan di lantai, latihan pernapasan, dan kelas relaksasi.

Hal lain yang juga terpantau selama saya berada di Swiss adalah majunya sistem transportasi yang terintegrasi antara bandara, kereta api, tram, bus, dan feri. Semuanya area terkoneksi dengan sistem ini yang memiliki jadwal yang teratur dan bisa diandalkan. Sangat nyaman. Harga tiket rata-rata untuk jarak dekat 30 menit dalam kota CHF 3 (Swiss Frank, sekitar Rp 50.000-an), sedangkan tiket luar kota yang dalam 30 menit jangkauan sekitar CHF 45 (sekitar Rp 700.000-an). Tentunya sambil menikmati panorama dan pemandangan kota yang banyak bangunan tua yang dipertahankan dan pemandangan alam indah yang dikelilingi pegunungan Alpen dan sungai-sungai indah yang yang mengalirkan air dingin dari gletser yang mencair di puncak gunung.

Satu keuntungan iklim buat masyarakat Swiss dan Eropa pada umumnya adalah udara yang umumnya sejuk sepanjang hari walaupun di musim panas. Ini mendorong kebiasaan jalan dan olahraga di masyarakat dan juga untuk bekerja, sehingga sepeda menjadi kendaraan yang sangat populer untuk transportasi jarak dekat. Hal ini didukung dengan adanya fasilitas lintasan sepeda di sepanjang jalan dalam kota.

Untuk jalan dan jogging pun sangat nyaman di Bern, karena cuacanya tidak panas, bahkan kita semakin nyaman. Kalau di Aceh, mungkin jalan keluarnya adalah dengan memanfaatkan waktu bakda subuh untuk olahraga, sebelum sang mentari menyengat bumi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved