Mahasiswa Antar Bantal

Mahasiwa yang menamakan diri Korps Barisan Pemuda Aceh atau Korps BPA kembali melancarkan aksi

Mahasiswa Antar Bantal
FOTO/HUMAS DAN PROTOKOLER SETDA ACEH
JUBIR Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani dan Asisten I Setda Aceh, M Jakfar MHum menerima bantal yang diserahkan oleh mahasiswa dalam aksi tolak PT EMM di Kantor Gubernur Aceh, Jumat (19/7). 

* Tagih Janji Plt Gubernur Cabut Izin PT EMM

BANDA ACEH - Mahasiwa yang menamakan diri Korps Barisan Pemuda Aceh atau Korps BPA kembali melancarkan aksi terkait desakan kepada Pemerintah Aceh agar menolak PT Emas Mineral Murni (EMM) di Aceh. Aksi yang diikuti puluhan mahasiswa itu dipusatkan di Kantor Gubernur Aceh, Jumat (19/7) pagi.

Aksi itu dilakukan untuk mengawal 100 hari penandatangan komitmen Pemerintah Aceh dengan ribuan mahasiswa terkait penolakan PT EMM yang dilakukan setelah aksi besar-besaran pada April lalu. Aksi kemarin, dinamai mahasiswa dengan ‘Aksi Bantal’. Pasalnya, dalam aksi itu mahasiswa menyerahkan bantal kepada Plt Gubernur Aceh, karena merasa kecewa lantaran komitmen tidak dijalankan.

“Bantal sebagai simbol tidur, karena Pemerintah Aceh sedang tidur lelap. Jadi kami berikan kepada Plt Gubernur dan tim khusus guna melanjutkan tidurnya, karena hingga hari ini tidak melaksanakan tuntutan mahasiswa, komitmen bersama dalam aksi April lalu,” kata penanggung jawab aksi, Mutawali.

Pantauan Serambi, puluhan mahasiswa lintas universitas di Aceh yang tergabung dalam Korps BPA itu mulai menggelar aksi sekira pukul 10.00 WIB. Mahasiswa juga mengusung sejumlah karton bertuliskan desakan mereka dan mempertanyakan komitmen Pemerintah Aceh untuk menolak PT EMM.

“Aksi ini kita lakukan karena selama 100 hari pasca-aksi 11 April belum ada progres nyata yang dilakukan oleh Plt Gubernur Aceh. Sehingga Korps BPA tetap mengawal penolakan PT EMM di Aceh,” kata Mutawali.

Seperti diketahui, pada 9 hingga 11 April lalu, aksi besar-besaran mahasiswa menolak PT EMM dilancarkan oleh ribuan mahasiswa di Kantor Gubernur Aceh. Aksi itu membuat Plt Gubernur menandatangani komitmen di hadapan mahasiswa, menolak PT EMM. Bahkan, saat itu, Nova Iriansyah berjanji akan mundur jika tidak melaksanakan komitmen tersebut.

“Komitmen itu akan ditagih selama 14 hari setelah tanda tangan. Tapi, kenyataannya hingga hari ini tidak ada poin tuntutan yang direalisasi. Jangankan tuntutan mahasiswa, tugas yang diberikan oleh Plt pun tidak dilaksanakan oleh tim yang dibentuk,” kata Mutawali.

Oleh sebab itu, aksi yang dilakukan kemarin adalah upaya untuk mengawal komitmen Pemerintah Aceh karena mereka menilai Pemerintah Aceh tidak komit. “Karena itu pada hari ini, kami mahasiswa memberikan bantal yang paling banyak pulaunya kepada Plt dan Jakfar selaku ketua tim,” pungkas Mutawali.

Terkait upaya Pemerintah Aceh yang akan mengajukan gugatan uji materi (judicial review) ke Mahkamah Agung (MA) terhadap Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 25 tahun 2015 (sebelumnya tertulis 2018) tentang Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, mahasiswa menanggapinya dengan pesimis.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved