Aceh Tepat Kembangkan Wisata Syariah

Daya tarik utama pariwisata Aceh di mata wisatawan masih bertumpu pada keindahan alamnya dibanding

Aceh Tepat Kembangkan Wisata Syariah
SERAMBI/BUDI FATRIA
PENGUNJUNG berwisata di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, 

BANDA ACEH - Daya tarik utama pariwisata Aceh di mata wisatawan masih bertumpu pada keindahan alamnya dibanding daya tarik budaya dan objek wisata buatan. Untuk itu, daya tarik alam ini harus terus dikelola secara profesional sesuai prinsip visitor management, baik oleh pemerintah maupun oleh pelaku usaha dari sektor swasta di daerah ini.

Selain itu, sebagai daerah bersyariat Islam, Aceh dapat mengembangkan kekhasannya sebagai daerah wisata syariah yang sifatnya lebih spesifik dibanding konsep wisata halal. “Tak masalah, Aceh silakan mengusung konsep wisata syariah, karena DNA wisata Aceh memang syariah,” ujar

Anggota Tim Percepatan Pengembangan Sertifikasi Halal Kementerian Pariwisata, Ir R Wisnu Rahtomo MM pada Talkshow dalam Rangka Festival Ekonomi Syariah dengan tema Potensi Industri Kreatif dan Pariwisata Halal Aceh, Sabtu (20/7) di Gedung Taman Budaya Aceh.

Acara yang dihadiri sekitar 300 peserta itu terselenggara atas kerja sama Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Banda Aceh, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Aceh, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), dan Pemerintah Kota Banda Aceh.

Selain mengundang Wisnu Rahtomo, panitia juga mengundang Dr Muhamamd Yusuf Yasir (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh) dan Daudy Sukma SE (owner perusahaan parfum Minyeuk Pret) sebagai narasumber. Talkshow satu jam itu dipandu Manajer Produksi Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika dan dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, sejumlah akademisi Unsyiah dan UIN Ar-Raniry, serta pelajar SMP, SMA, dan mahasiswa.

Dalam keterangannya, Wisnu Rahtomo menjelaskan beda antara wisata halal dengan wisata syariah. Pada dasarnya wisata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan muslim. Pelayanan wisatawan dalam pariwisata halal ini pun merujuk pada aturan-aturan Islam. Jadi, wisata halal itu lebih merupakan brand internasional yang ditujukan untuk wisatawan muslim.

“Di Bali para wisatawan masih dapat menikmati wisata halal, tapi kalau wisata syariah jelas tidak. Aceh yang sangat tepat mengusung konsep wisata syariah karena daerah ini bersyariat Islam secara kaffah,” kata Wisnu.

Ia ingatkan, meskipun Aceh bersyariat Islam, tapi kuliner apa pun yang diproduk untuk dijual di sini harus ada sertifikat halalnya. “Sertifikat halal itu bukan untuk orang Aceh, tapi justru untuk muslim dari luar negeri, misalnya dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Timur Tengah, dan lain-lain. Bagi muslim dari luar, sertifikat halal itu wajib. Kalau tak ada sertifikat halal, mereka tak mau beli dan tak mau makan produk yang kita jual,” kata Wisnu.

Wisnu juga menyebut bahwa Aceh memiliki raksasa kekayaan objek wisata alam yang apabila dikelola dengan baik dan dipadukan dengan daya tarik budayanya, ia optimis Aceh akan kebanjiran wisatawan. Maka, sangat penting bagi Aceh mengembangkan konsep halal life style yang kalau itu sudah menjadi style, otomatis akan ada demand (permintaan).

Ia juga mengapresiasi peserta yang bertanya mengenai potensi produk olahan yang diolah menjadi kuliner. Misalnya, mengubah buah mangrove menjadi makanan yang enak dan bergizi. “Ini yang namanya gastronomi, seni menyiapkan hidangan yang lezat-lezat. Pariwisata di suatu daerah akan berkembang pesat jika banyak pelaku usaha yang bergiat di bidang gastronomi atau tata boga. Aceh dengan konsep wisata syariahnya sangat menjanjikan di bidang ini,” demikian Wisnu Rahtomo MM. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved