Kasus Suntik ke PN

Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat telah melimpahkan berkas kasus yang menjerat dua tenaga medis berstatus

Kasus Suntik ke PN
SERAMBI/RIZWAN
DUA honorer RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh, Aceh Barat ketika menjalani pemeriksaan di Mapolres setempat setelah ditetapkan tersangka dalam kasus kematian bocah di rumah sakit usai disuntik 

* Jaksa Tunggu Jadwal Persidangan

MEULABOH – Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Barat telah melimpahkan berkas kasus yang menjerat dua tenaga medis berstatus honorer di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien (RSUD CND) Meulaboh ke Pengadilan Negeri (PN) setempat, Rabu (17/7). Dengan pelimpahan berkas kasus suntik oleh kedua tenaga medis honorer itu yang kematian pasien bernama Alfa Reza (11), kini jaksa tinggal menunggu penetapan jadwal sidang oleh PN Meulaboh.

Informasi diperoleh Serambi, Sabtu (17/7), pelimpahan berkas kasus suntik itu oleh Kejari Aceh Barat ke PN Meulaboh tersebut ternyata telah dilakukan pada Rabu (17/7) lalu. Berkas ini dilimpahkan ke PN untuk segera bisa disidangkan. “Sudah dilimpahkan ke PN. Untuk jadwal sidang, kita menunggu penetapan dari PN,” kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Barat, Ahmad Sahrudin SH MH, melalui Kasi Pidana Umum (Pidum), Andri Herdiansyah SH MH kepada Serambi, kemarin.

Ia menjelaskan, setelah berkas perkara dinyatakan lengkap, pihaknya juga melakukan penyerahan kedua tersangka kepada PN. Tak ketinggalan, jaksa juga turut menyerahkan sejumlah barang bukti (BB) dalam kasus yang sempat menghebohkan Aceh Barat tersebut. “Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 84 Undang-undang (UU) Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan juncto Pasal 359 KUHPidana dengan ancaman hukuman lima tahun penjara,” ulasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kejari Aceh Barat sudah menentukan status kedua tersangka kasus suntik yakni Erwanty AMdKep (29) dan Desri Amalia AMdKeb (23), sebagai tahanan kota. Kedua paramedis tersebut merupakan tersangka dalam kasus kematian pasien Alfa Reza (11), yang menghembuskan nafas terakhir setelah disuntik tenaga medis itu di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Kasus itu bermula saat Polres Aceh Barat resmi menahan dua tenaga medis honorer yang bertugas di RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh dalam kasus meninggalnya pasien Alfa Reza (11) seusai disuntik mereka, 17 Januari 2019 lalu. Sebelum menetapkan tersangka, polisi telah duluan memeriksa sejumlah pihak terkait, seperti manajemen rumah sakit, keluarga korban, saksi ahli, serta hasil laboratorium dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banda Aceh. Barang bukti yang disita dalam kasus ini berupa tiga alat suntik yang digunakan tersangka untuk menginjeksi korban dan satu botol obat.

Pada bagian lain, Kajari Aceh Barat, Ahmad Sahruddin SH MH, melalui Kasi Pidum, Andri Herdiansyah SH MH menerangkan, untuk kasus dugaan pencemaran limbah medis B3 (bahan berbahaya dan beracun) dengan tiga tersangka direktur dari tiga rumah sakit di Aceh Barat, sejauh ini masih dalam persiapan administrasi pelimpahan. “Insya Allah, pekan depan kita limpahkan,” beber Andri.

Seperti diketahui, Polres Aceh Barat pada 8 Juli 2019, menyerahkan tiga direktur rumah sakit (RS) di Meulaboh ke Kejari setempat. Penyerahan ketiga direktur yang sudah ditetapkan sebagai tersangka bersama barang bukti (BB) itu terkait dengan kasus dugaan pencemaran limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) pada masing-masing rumah sakit yang mereka pimpin.

Tiga tersangka yang diserahkan adalah, S sebagai Direktur Rumah Sakit Montela (RSM), dr F sebagai Direktur RSUD Cut Nyak Dhien (CND), dan dr TR selaku Direktur Rumah Sakit Harapan Sehat (RSHS). Ketiga tersangka ini dijerat dengan Pasal 59 ayat 4 jo Pasal 102 dan atau Pasal 59 jo Pasal 103 Undang-undang (UU) Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan ancaman hukuman penjara selama 3 tahun dan denda paling banyak Rp 3 miliar.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved