Persiraja 1 vs 0 Persita, Kuasai Puncak

Tuan rumah Persiraja sukses menguasai puncak klasemen sementara Liga 2 musim 2019 Wilayah Barat

Persiraja 1 vs 0 Persita, Kuasai Puncak
SERAMBI/MUHAMMAD ANSHAR
DUA pilar Persiraja, Defri Rizki dan Nurul Zikra menyaksikan pemain Persita yang mengerang kesakitan di tengah lapangan setelah duel di udara. Dalam lanjutan Liga 2 musim 2019 di Stadion H Dimurthala, Lampineung, Jumat (19/7) malam, Persiraja menang 1-0 berkat gol penalti Defri Rizki. 

BANDA ACEH - Tuan rumah Persiraja sukses menguasai puncak klasemen sementara Liga 2 musim 2019 Wilayah Barat. Kepastian itu diperoleh Ferry Komul dkk setelah mengatasi perlawanan Persita Tangerang, 1-0, di Stadion H Dimurthala, Lampineung, Jumat (19/7) malam.

Tambahan tiga angka berhasil mengkudeta PSMS Medan dari puncak. Ya, Ayam Kinantan–julukan PSMS--hanya bisa memimpin wilayah barat selama lima jam. Karena, sebelumnya, Legimin Raharjo dkk menekuk Blitar Bandung United 3-1 di Stadion Teladan, Medan, Jumat petang.

Pahlawan bagi kemenangan Lantak Laju menjadi milik pemain asal Takengon, Defri Rizki. Mantan bintang Persija Jakarta ini sukses melakukan eksekusi penalti secara sempurna pada menit 57. Hentakan keras mantan kapten Persih Tembilahan, Riau ini memperdayai kiper Persita, Annas Fitranto.

Hadiah penalti terpaksa diberikan wasit Rihul Munandar menyusul pelanggaran keras center-bek Persita, Asep Budi terhadap Ferry Komul di dalam kotak terlarang. Tanpa ampun wasit asal Bukittingi, Sumatera Barat langsung menunjuk titik setelah melihat kejadian di kotak 12 pas.

Sontak, keputusan sang pengadil mendapat protes keras dari Egi Melgiansyah dkk. Namun, Rihul Munandar tetap kukuh dengan keputusannya itu. Akhirnya, Defri mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Bagi Defri Rizki, ini merupakan gol ketiganya pada musim 2019.

Selepas gol itu, duel papan atas yang berlangsung di bawah hujan deras menjadi keras dan menjurus kasar. Puncaknya, pada menit 65, wasit Rihul Munandar mengusir sayap kanan Persita, Adittia Gigis Hermawan. Wasit terpaksa memberi kartu merah menyusul pelanggaran membahayakan kapten Persiraja, Mukhlis Nakata.

Tak terima kartu merah, pemain Persita memprotes keras keputusan wasit. Aksi dari Muhammad Roby dkk memicu kemarahan dari penonton Lampineung. Tanpa komando, mereka langsung melempar botol air mineral ke dalam lapangan. Mendapat lemparan memaksa pemain Persita harus lari ke tengah lapangan.

Tak hanya pemain. Sang arsitek, Widodo C Putro dan ofisial juga ikut memprotes kepada wasit tunggu. Ternyata, protes tim tamu menyebabkan permainan terhenti selama delapan menit. Setelah reda, pertandingan memperebutkan pimpinan klasemen sementara dilanjutkan.
Meski pertandingan berjalan tensi tinggi, ternyata duel Persiraja dan Persita lebih banyak diwarnai aksi protes serta benturan keras. Bahkan, pemain kedua tim banyak mengulur waktu dengan sering terjatuh di lapangan gara-gara kesakitan.

Jujur saja, dalam duel selama 90 menit itu, kedua tim minim peluang mencetak gol. Kubu Persiraja memiliki peluang dari tandukan Assanur Rijal yang sukses ditepis kiper Annas, dan tendangan bebas Ferry Komul tipis di atas mistar. Sementara Persita hanya mempunyai satu kesempatan dari hentakan Chandra ‘Kito’ Waskito di babak pertama.

Kerasnya tarung pekan ke-6 dapat terlihat dari tujuh kartu yang dikeluarkan wasit. Empat pemain Persita diganjar empat kartu kuning dan satu merah, sementara kubu Persiraja menerima dua kartu kuning. Sejenak pluit akhir, pemain Persita kembali melancarkan protes terhadap wasit. Tak mau mengambil resiko, petugas keamanan terpaksa mengamankan wasit dari serbuan Egi Melgiansyah dkk.

Saya tak mau mengomentasi apa yang terjadi selama pertandingan berlangsung di lapangan. Demikian juga, saya tidak ingin memberi komentar soal permainan tadi. Karena, bagi kami yang penting hasil dari duel tersebut. Karena, kemenangan ini membuat tim sukses berada di puncak.

Terkait dengan permainan pemain yang bermain penuh selama 90 menit tanpa pergantian, saya pikir kita berada dalam posisi menang. Sehingga, tak perlu dilakukan pergantian pemain meski tadi saya sudah menyiapkan Fahrizal Dillah di menit akhir. Syukur alhamdulillah, kita berhasil mempertahankan tren positif di lima partai terakhir.

Selamat bagi Persiraja yang sudah memenangkan pertandingan malam ini. Sejujurnya boleh saya katakan, duel ini sama sekali tak menarik. Padahal, sehari sebelumnya saya berharap agar partai ini bisa menjadi hiburan. Soal menang, draw, dan kalah sudah menjadi hukum dalam sepakbola.

Pertandingan ini tak normal. Kami meminta supaya wasit dan dua asisten wasit untuk lebih banyak belajar lagi. Kepemimpinan wasit sangat mengecewakan kami. Misalnya, membiarkan pelanggaran keras dan menghukum kami dengan penalti tanpa alasan yang jelas. Situasi seperti ini sulit untuk memajukan sepakbola Indonesia. (ran)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved