Unsyiah Kaji Masalah Bencana

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Pemerintah Aceh, dan ICAIOS akan menjadi tuan rumah bersama penyelenggaraan

Unsyiah Kaji Masalah Bencana
IST
EKKI Syamsulhadi, salah satu narasumber dari TNP2K Kantor Wakil Presiden RI sedang memberi pelatihan tentang “Desain dan Metode Kuasi-Eksperimen untuk Evaluasi Dampak”. Acara ini merupakan satu dari tiga Pelatihan Metodologi Riset Prakonferensi Indonesian Regional Science Assosiation (IRSA) 2019, di Banda Aceh, 20-24 Juli 2019. 

* Gandeng Pemerintah Aceh dan ICAIOS

BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Pemerintah Aceh, dan ICAIOS akan menjadi tuan rumah bersama penyelenggaraan Konferensi Internasional Ke-15 Indonesian Regional Science Association (IRSA) pada 22-23 Juli 2019.

Konferensi ini mengusung tema “Bencana dan Pembangunan Wilayah”, sebuah tema yang dianggap penting dan strategis oleh para akademisi maupun pengambil kebijakan pembangunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

“Lebih 300 orang praktisi, peneliti, akademisi, dan mahasiswa yang mengkaji masalah-masalah di seputar isu kebencanaan dan pembangunan wilayah akan hadir dalam Konferensi Internasional IRSA yang ke-15 ini,” kata Dr Nazamuddin, Ketua Panitia dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsyiah kepada Serambi di Banda Aceh, Jumat (19/7).

IRSA adalah asosiasi profesi ilmuwan sains wilayah di Indonesia yang telah aktif sejak akhir ’90-an dan memulai kegiatan konferensi internasional tahunannya sejak tahun 2004.

Menurut Nazamuddin, Konferensi IRSA sangat diminati peneliti dari berbagai pelosok Indonesia dan sejumlah negara. “Kita menerima hampir 350 abstrak artikel ilmiah. Tapi hanya 200 yang bisa diterima untuk dipresentasikan di IRSA ke-15 ini,” ujarnya.

Menurut mantan wakil rektor IV Unsyiah ini, peserta akan datang dari hampir seluruh provinsi di Indonesia. Sebagian bahkan datang dari luar negeri. “Usulan presentasi peserta dari luar negeri datang dari Australia 13 orang, Amerika Serikat (enam orang) Jepang (empat orang) Jerman (tiga orang), Malaysia (tiga orang), Amerika Serikat (enam orang), Filipina (dua orang), dan masing-masing satu orang dari Mexico, Belanda, Turki, dan Inggris. Semua peserta datang dengan biaya masing-masing,” terangnya.

Selain makalah paparan dari 200 peneliti dan praktisi, ada sejumlah lembaga kajian dan lembaga pemerintah yang akan menampilkan hasil-hasil kajiannya tentang bencana, pembangunan pascabencana, dan pembangunan wilayah secara umum. “Dengan makalah pada panel-panel diskusi khusus dengan TNP2K, Bappenas, Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Kompak, KSI, IBER, dan Bappeda Aceh. Total 300 peserta akan hadir dalam konferensi ini,” ujar Nazamuddin.

Sementara itu, Rektor Unsyiah, Prof Dr Samsul Rizal menyatakan kegembiraannya karena Konferensi Ke-15 IRSA ini dilakukan secara kolaboratif bersama unit-unit di Unsyiah dan Pemerintah Aceh melalui Bappeda dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Selain akademisi dari FEB Unsyiah, kegiatan ini diorganisir bersama oleh PPISB Unsyiah, TDMRC, Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), dan Jurusan Statistika FMIPA Unsyiah.

“Model kegiatan yang digerakkan oleh multidisiplin ini sangat baik untuk terus kita lakukan, karena bencana, masalah lingkungan, dan masalah pembangunan itu memang memerlukan pendekatan multidisiplin dan interdisiplin,” katanya mengapresiasi panitia.

Bersama IRSA, Unsyiah menggandeng Pemerintah Aceh lewat Bappeda Aceh dan ICAIOS untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Selain konferensi, IRSA 2019 di Banda Aceh ini juga akan diwarnai oleh tiga training prakonferensi pada 20-21 Juli 2019. Panitia menggandeng masing-masing Tim Nasional Percepatan Penanggulan Kemiskinan (TNP2K), J-PAL Asia Tenggara, dan Proyek Indonesia di Universitas Nasional Australia (ANU) sebagai pelatih pada ketiga pelatihan yang juga sangat diminati sehingga peserta membeludak.

Menurut panitia, IRSA kali ini akan menghadirkan Dr Bambang Susantono, Wakil Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) sebagai pembicara kunci. ADB juga menghadirkan Dr Syurkani Ishak Kasim, Direktur Eksekutif ADB yang putra Aceh asli dan Dr Yasukui Sawada, pimpinan para ekonom ADB sebagai pembicara kehormatan.

Juga ada pembicara sesi pleno dari Cornell University, yaitu Prof Iwan Jaya Azis yang dikenal sebagai salah satu pendiri IRSA, Dr Vivi Alatas, ekonom senior yang pernah menjadi pimpinan para ekonom di Bank Dunia, dan Dr Suprayoga Hadi, salah satu praktisi terkemuka di bidang kebijakan seputar kebencanaan dan pembangunan dari Bappenas. “Saya kira ini akan jadi kegiatan akademik terbesar di Aceh, dengan kualitas internasional yang terjaga,” ujar Dr Nazamuddin.(dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved