Varitas Vokal dalam Kelompok Penutur Bahasa Gayo, Aceh Tengah

Varitas vokal merupakan bunyi-bunyi terkecil pada bahasa yang berbeda diucapkan oleh penutur dalam suatu bahasa

Varitas Vokal dalam Kelompok Penutur Bahasa Gayo, Aceh Tengah
IST
Pusbanglin Menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Pemantauan Program Konservasi dan Revitalisasi Bahasa dan Sastra Di Banda Aceh

Oleh: Harfiandi, Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsempena

Varitas vokal merupakan bunyi-bunyi terkecil pada bahasa yang berbeda diucapkan oleh penutur dalam suatu bahasa di wilayah tertentu. Setiap penutur dalam suatu bahasa menghasilkan vokal dengan cara yang berbeda. Vokal adalah bunyi bahasa yang hembusan udaranya tanpa mengalami hambatan (Alwi, 2013:50).

Masyarakat Aceh Tengah sebagai penutur bahasa Gayo yang berada di wilayah dataran tinggi memiliki sistem vokal tersendiri. Penutur tersebut pembentuk dua jenis sistem vokal. Kedua sistem ini mengelasifikasikan masyarakat Uken ‘hulu’ dan masyarakat Toa ‘hilir’. Berdasarkan posisi lidah, masyarakat penutur bahasa ini menghasilkan bunyi vokal melalui posisi lidah depan, tengah, dan belakang dengan mengeluarkan fonem vokal tinggi, sedang, dan rendah.

Sebagai tambahan, fonem vokal-sedang terbentuk posisi atasdan bawah lidah penutur. Posisi inilah yang menunjukkan sistem fonem vokal yang berlainan pada kelompok masyarakat Aceh Tengah.

Penutur masyarakat Uken yang menghasilkan fonem vokal-sedang menghembuskan artikulasi yang berbeda dengan penutur masyarakat Toa. Posisi lidah kedua penutur mendeskripsikan pada atas-depan, atas-belakang, bawahdepan, dan bawah-belakang.

Dengan begitu, cara artikulator bagi kelompok penutur bahasa Gayo mengeluarkan sebagian fonem vokal berbeda pada kata tertentu. Padahal, penutur tersebut memiliki ras dan suku yang sama. Pada pemetaan sistem vokal bahasa Gayo Aceh Tengah secara keseluruhan, terdapat 8 fonem vokal, yaitu /i/, /e/, / /,/ /,/a/,/u/, /o/, dan / /. Klasifikasi fonem vokalnya adalah 2 vokal tinggi (/i/, /u/), 2 vokal sedang atas (/e/, /o/ ), 3 vokal sedang bawah (/ /, / /, / /), dan 1 vokal rendah (/a/). Pada masyarakat uken, sistem vokal terbentuk sebanyak 6 fonem pada /i/, /e/, / /, /a/, /u/, dan / /.

Klasifikasi fonem vokal masyarakat ini mencakup 2 vokal tinggi (/i/, /u/), 1 vokal sedang atas (/e/), 2 vokal sedang bawah (/ /, //), dan 1 vokal rendah (/a/). Untuk masyarakat toa, sistemvokal bahasa Gayo terbentuk 6 fonem, yaitu /i/, /e/, / /,/ /,/a/,/u/, dan /o/. Klasifikasi fonem vokal masyarakat ini meliputi 2 vokal tinggi (/i/, /u/), 1 vokal sedang atas (/o/), 2 vokal sedang bawah (/ /, / /), dan 1 vokal rendah (/a/). Fonem vokal yang berbeda pada pelafalan masyarakat Uken dan masyarakat Toa dalam bahasa Gayo dituturkan pada distribusi vokal pada kata, yaitu awal, tengah, dan akhir.

Fonem pada awal kata erah ‘lihat’ dilafalakan oleh masyarakatUken [erah] dan masyarakat Toa [[rah]. Fonem pada tengah kata ken ‘untuk’ dilafalkan oleh masyarakat Uken [ken] dan masyarakat Toa [k n]. Fonem pada akhir kata mane ‘kemarin’ dilafalkan oleh masyarakat Uken [mane] dan masyarakat Toa [man ]. Kata tersebut yang dituturkan oleh kedua kelompok masyarakat melalui distribusi fonem menunjukkan variasi pada /e/ dan / /.

Selain itu, fonem pada awal kata oya ‘itu’ dilafalkan oleh masyarakat Uken [k ] dan masyarakat Toa [oya]. Fonem pada tengah kata beloh dilafalkan oleh masyarakat Uken [b l h] dan masyarakat Toa [b loh]. Fonem pada akhir kata ko dilafalkan oleh masyarakat Uken [k ] dan masyarakat Toa [ko]. Distribusi fonem pada kata tersebut juga memperlihatkan variasi pada / / dan /o/. Berdasarkan pelafalan kata masyarakat Uken dan Toa di atas, penutur menghasilkan variasi fonem /e/, / / dan / /, /o/. Setiap kata yang dicontohkan menghasilkan ketidaksamaan fonem vokal. Akan tetapi, kata atas varian fonemnya masih memiliki makna yang sama.

Dalam ilmu fonologi, variasi bahasa yang terkait denganfonem juga disebut dengan aksen. Aksen penutur bahasa Gayo mengontraskan dialek. Berdasarkan letak geografis, aksennya juga melekat pada masyarakat Uken dan masyarakat Toa. Aksen penutur masyarakat Uken terdengar suara lembut, sedangkan aksen penutur masyarakat Toa terbetik suara keras bagi penutur bahasa Gayo itu sendiri. Aksen penutur juga menobatkan tindak tutur bahasa Gayo yang halus dan kasar. Tindak tutur bagi masyarakat Uken dinilai halus dan tindak tutur bagi masyarakat Toa dinilai kasar. Halus kasarnya tindak tutur pada masyarakat tersebut berhubungan dengan nilai sopan santun.

Oleh karena itu, ragam lisan mengenai fonem dan aksen masyarakat menujukkan identitas sebagai kelompok penutur. Jika sudah mengenal kelompok masyarakat, sesama suku Gayo dapat memahami karakter yang dimiliki antarkelompok masyarakat di Aceh Tengah. Mungkin selama ini, pengamat nonpenutur bahasa pertama tidak tahu bahasa Gayo di Aceh Tengah memiliki variasi fonem yang berbeda antarpenutur. Tetapi realitasnya, itulah fonem yang dihasilkan penutur dalam masyarakat Uken dan Toa dalam berkomunikasi.

Pusbanglin Menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Pemantauan Program Konservasi dan Revitalisasi Bahasa dan Sastra Di Banda Aceh
Dalam rangka menyelaraskan dan memantapkan program pelindungan bahasa dan sastra di pusat dan daerah, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta mengadakan Rapat Koordinasi dan Pemantauan Program Konservasi dan Revitalisasi Bahasa dan Sastra di aula Balai Bahasa Aceh, Kamis, 18 Juli 2019.

Pembicara pada kegiatan ini, Dr. Ganjar Harimansyah dari bagian Perlindungan Bahasa, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, menyampaikan materi tentang revitalisasi dan konservasi bahasa daerah di Indonesia. Kasubbag Tata Usaha Balai Bahasa Aceh, Agus Priatna, S.E., Ak. menyampai hal mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Bahasa Aceh yang berhubungan dengan bidang kebahasaan dan kesastraan.

Selain itu, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh menyampaikan tentang program Bahasa Indonesia yang sudah dilaksanakan dalam dunia pendidikan di Kota Banda Aceh. Pembicara terakhir dari Kantor KPTSP Kota Banda Aceh menyampaikan tentang kriteria perizinan terutama kain rentang dan baliho yang tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam yang ada di Provinsi Aceh.

Pada hakekatnya kegiatan seperti ini perlu ditindaklanjuti karena masih maraknya penggunaan bahasa asing di luar ruang khususnya di Banda Aceh, misalnya Aceh Cullinary Festival, kata salah seorang peserta pada sesi tanya jawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved