Salam

Aceh Harus Perkuat Wisata Syariah

Sebuah pernyataan menarik disampaikan Staf Khusus Percepatan Pengembangan Wisata Halal Kementerian Pariwisata, Ir Wisnu Rahtomo MM di Banda Aceh

Aceh Harus Perkuat Wisata Syariah
SERAMBINEWS.COM/M NASIR YUSUF
Ir Kusmayadi mewakili Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI menyerahkan bantuan berupa pelampung, perlengkapan masak dan perlengkapan shalat kepada kelompok pengelola objek wisata Aceh Besar di pantai Ujong Batee, Rabu (23/4). 

Sebuah pernyataan menarik disampaikan Staf Khusus Percepatan Pengembangan Wisata Halal Kementerian Pariwisata, Ir Wisnu Rahtomo MM di Banda Aceh, Sabtu, 20 Juli lalu. Menurutnya, daya tarik utama pariwisata Aceh di mata wisatawan masih bertumpu pada keindahan alamnya dibanding daya tarik budaya dan objek wisata buatan. Untuk itu, daya tarik alam ini harus terus dikelola secara profesional sesuai prinsip visitor management, baik oleh pemerintah maupun oleh pelaku usaha dari sektor swasta di daerah ini.

Selain itu, kata Wisnu, sebagai daerah bersyariat Islam, Aceh dapat mengembangkan kekhasannya sebagai daerah wisata syariah yang sifatnya lebih strategis dibanding konsep wisata halal. “Tak masalah, Aceh silakan mengusung konsep wisata syariah, karena DNA wisata Aceh memang syariah,” ujar Wisnu Rahtomo pada Talkshow Festival Ekonomi Syariah dengan tema Potensi Industri Kreatif dan Pariwisata Halal Aceh, di Gedung Taman Budaya Aceh, Sabtu, sebagaimana dimuat Harian Serambi Indonesia kemarin.

Sangat menarik apa yang disampaikan Wisnu bahwa daya tarik utama pariwisata Aceh masih terletak pada keindahan alamnya. Wisnu tentunya punya cukup data saat berkata demikian. Fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa Aceh tergolong “raksasa kaya” dalam hal objek wisata alam, mengingat Aceh punya 803 titik objek wisata dan 774 situs bangunan cagar budaya.

Artinya, apabila keunggulan di sektor wisata alam tadi dikelola dengan baik dan dipadukan dengan daya tarik budayanya, maka semua kita optimis Aceh akan kebanjiran wisatawan. Banjir wisatawan nyaris identik dengan banjir uang dan akan membuat banyak pelaku industri pariwisata di Aceh menikmati aliran dana.

Oleh karenanya, sangat penting bagi Aceh untuk mempertegas konsep pariwisatanya, tidak cukup hanya dengan mengusung halal tourism yang lingkupnya lebih sempit, melainkan haruslah sharia tourism atau wisata syariah seperti yang dikembangkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, maupun Pulau Santen, Banyuwangi, Jawa Timur.

Secara teori, wisata halal dengan wisata syariah relatif beda. Wisata halal adalah bagian kecil dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan muslim yang konsep wisatanya merujuk pada aturan-aturan Islam. Namun, wisata halal itu lebih merupakan brand internasional yang ditujukan untuk wisatawan muslim yang berkunjung ke suatu negara, meskipun di negara tersebut pemeluk Islamnya minoritas. Di Thailand atau Bali para wisatawan masih dapat menikmati wisata halal, tapi kalau wisata syariah jelas tidak. Acehlah yang sangat tepat mengusung konsep wisata syariah karena daerah ini bersyariat Islam secara kaffah.

Pencanangan sebagai daerah wisata syariah ini banyak keuntungannya. Salah satunya adalah segmentasi pasarnya semakin jelas. Di Acehlah saat ini yang paling mungkin diterapkan wisata syariah, karena di provinsi ini wisatawan tidak hanya mudah mendapatkan makanan dan minuman halal, tetapi juga tak akan pernah kebingungan mencari masjid. Setiap 1 kilometer ada masjid, sehingga turis muslim bisa melaksanakan shalat tepat waktu.

Selain itu, di Aceh terus bermunculan hotel yang mengembangkan konsep syariah. Makanan dan minuman di restoran hotel tipe ini jelas bersertifikat halal dari MPU. Harganya pun tidak boleh dilebih-lebihkan. Di bagian toiletnya disediakan keran untuk wudhuk, juga tersedia sajadah dan Alquran di setiap kamar.

Kultur masyarakatnya pun harus selalu menggambarkan akhlak yang beradab, humanis, toleran, dan memuliakan tamu, sesuai anjuran Islam. Nah, keramahtamahan khas umat bersyariat Islaminilah yang seharusnya kita jual kepada wisatawan muslim yang hendak berkunjung ke Aceh. Intinya, wisata di Aceh harus berbeda dan perbedaan itulah yang akan menjadi keunggulan kita. Semoga Aceh selalu di garda terdepan sebagai destinasi wisata syariah kelas dunia.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved