Batik Aceh Jadi Pakaian Kantoran

Batik motif Aceh akan menjadi pakaian resmi bagi pegawai kantoran di Aceh. Untuk mendukung program itu, 10 Juli lalu Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah

Batik Aceh Jadi Pakaian Kantoran
PEGAWAI toko merapikan bakal kain batik aceh dengan motif terbaru, di salah satu toko batik Aceh di kawasan Gampong Peunyerat, Banda Aceh, Sabtu (20/2 

* Untuk Dongkrak Produk IKM

BANDA ACEH - Batik motif Aceh akan menjadi pakaian resmi bagi pegawai kantoran di Aceh. Untuk mendukung program itu, 10 Juli lalu Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengirimkan surat kepada Kakanwil Kementerian/Non-Kementerian, kepala SKPA, Karo Setda Aceh dan dan pimpinan perbankan, BUMN/BUMD yang ada di Aceh.

Upaya Pemerintah Aceh menjadikan batik motif Aceh sebagai pakaian kantoran adalah untuk mendongkrak dan membangkitkan industri kain batik motif Aceh yang sedang digalakkan Pengurus Dekranasda Aceh dan Dekranasda Kabupaten/Kota. Surat itu sebagai tindak lanjut surat Wakil Ketua Dekranasda Aceh yang ditujukan kepada Plt Gubernur Aceh tentang penggunaan batik motif Aceh untuk pakaian kantor.

Adanya seruan itu juga dibenarkan Kadis Perindag Aceh, Muhammad Raudhi kepada Serambi, Minggu (21/7). Menurutnya, tujuan dari surat Plt Gubernur itu adalah untuk membangkitkan kembali industri kain batik motif Aceh produksi Industri kecil dan menengah (IKM) lokal. “Surat itu sekaligus menyahuti surat Wakil Ketua Pengurus Dekranasda Aceh yang meminta agar Plt Gubernur membuat satu kebijakan dari lima hari kerja, ada satu hari digunakan untuk memakai pakaian batik motif Aceh hasil produksi industri kecil dan menengah (IKM) lokal,” jelasnya.

Dikatakan, pada masa gubernur Aceh Ibrahim Hasan, kain batik motif Aceh sangat disukai para wisatawan nasional maupun mancanegara. Hal itu karena batik motif Aceh memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Dimana dalam paduan warnanya menggunakan unsur alam dan budaya Aceh.

“Warna yang digunakan pada batik motif Aceh, lebih dominan warna kuning, merah hijau, merah muda dan warna cerah lainnya. Keberanian memainkan warna itu yang memberikan kesan unik pada batik Aceh. Kecuali itu, pengaruh Islam yang kuat juga tercermin pada bentuk sulur, melingkar dan garis pada tiap motif,” ujar Raudhi.

Selain itu, tambahnya, batik motif Aceh juga memiliki makna dan filosofi luhur kehidupan/ Beberapa motif batik Aceh, diantaranya motif pintu Aceh, tolak angin, bungong jempa, awan meucanek, rencong, awan berarak, kerawang Gayo, dan motif pucuk rebung.

“Soal modelnya akan disesuaikan dengan aturan dan hukum syariat Islam yang diterapkan Pemerintah Aceh. Untuk busana wanita bisa diwarnai model garis panjang dan longgar,” jelas Raudhi menambahkan bahwa batik Aceh tidak hanya digunakan sebagai bahan pakaian, tapi sudah untuk produk lain, seperti kain untuk buat topi, dompet, mukena, tas maupun aksesoris lainnya.

Dapat Mengurangi Kemiskinan
Kadis Perindag Aceh, Muhammad Raudhi menambahkan, selain untuk pakaian kantoran, dia juga berharap batik motif Aceh bisa menjadi bagian pakaian di seluruh sekolah di Aceh. Karena jika di seluruh sekolah juga diwajibkan menggunakan batik motif Aceh, akan ikut menghidupkan IKM-IKM di Aceh. “Soal motif bisa disesuai dengan selera dan keinginan daerah sekolah masing-masing,” ujarnya.

Kalau IKM batik lokal, bangkit dan berkembang, dampaknya cukup luas. Pendapatan perajin batik naik, pengangguran turun, angka kemiskinan berkurang. “Target lain dari surat Plt Gubernur itu, adalah untuk menaikkan pendapatan perajin batik mengurangi jumlah penduduk miskin dan angka pengangguran di Aceh,” pungkas Muhammad Raudhi.(her)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved