Harga TBS Kelapa Sawit Terpuruk

Para petani kelapa sawit di Kota Subulussalam makin terpukul lantaran harga tandan buah segar (TBS) di daerah itu makin merosot

Harga TBS Kelapa Sawit Terpuruk
SERAMBINEWS.COM/TAUFIK ZASS
Wakil Ketua DPD I Golkar Aceh, Suprijal Yusuf SH sedang melihat rumpukan TBS Kelapa Sawit di kawasan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (26/6/2018). 

SUBULUSSALAM - Para petani kelapa sawit di Kota Subulussalam makin terpukul lantaran harga tandan buah segar (TBS) di daerah itu makin merosot, sehingga harga jual tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. “Sekarang harga TBS kembali merosot, sedangkan harga pupuk naik terus,” kata Umar, seorang petani kelapa sawit Subulussalam kepada Serambi, Minggu (21/7).

Umar menjelaskan, harga TBS kelapa sawit di Subulussalam telah merosot sejak dua tahun lalu, dan hingga kini tak kunjung membaik. Sejauh ini, sebut dia, harga TBS masih bertengger pada kisaran Rp 750 hingga Rp 760 per kilogram. “Padahal, pada akhir tahun lalu, harga TBS di Subulussalam sempat naik. Namun kini, harga terus merosot dan puncaknya terjadi pada bulan ini karena hampir setiap pekan mengalami penurunan,” ujarnya.

Anjloknya harga TBS di Subulussalam, ungkap Umar, sangat memukul para petani lantaran biaya yang mereka keluarkan untuk pemeliharaan tanaman tidak sebanding dengan harga jual TBS sawit. Pada saat yang bersamaan kebutuhan para petani juga meningkat drastis mengingat saat ini merupakan awal tahun ajaran baru, di mana anak baru masuk sekolah dan kuliah.

Ketidakstabilan harga TBS di Subulussalam ini pun memicu reaksi sejumlah aktivis mahasiswa. Muzir, salah seorang aktivis menilai, anjloknya harga TBS dalam dua tahun terakhir, membuat para petani di Subulussalam kian menderita. Apalagi, penurunan terjadi secara beruntun, bahkan hampir setiap bulan. Selain itu, penurunan yang terjadi pada tahun ini, juga paling drastis dibanding sebelumnya.

Disebutkan dia, jika petani hanya memiliki satu hektare kebun kelapa sawit dengan TBS yang dapat dipanen hanya satu ton, berarti petani cuma mendapat Rp 760 ribu. Ini, ulas Muzir, belum dikeluarkan biaya panen sebesar Rp 200 ribu per hektare. “Jika ini yang terjadi pada harga buah kelapa sawit bisa mati kelaparan masyarakat kita karena target panen itu dua minggu sekali. Dan jika dihitung, petani hanya bisa mendapat sekitar satu jutaan rupiah sebulan,” ucap Muzir.

Sebagai masyarakat Kota Subulussala, ia mengaku, memahami kondisi petani di sana. Untuk itu, Muzir berharap, sejumlah pabrik kelapa sawit yang selama ini beroperasi di Subulussalam agar dapat membantu menjaga stabilitas harga TBS milik petani. “Harga TBS kelapa sawit minimal sejatinya baru dapat dikatakan titik aman atau stabil yakni RP 1.500 di tingkat petani. Hal ini mengingat biaya produksi dan perawatan yang dikeluarkan petani seperti pupuk dan pestisida, cukup tinggi,” tandasnya.

Muzir mendesak Pemko Subulussalam berperan aktif mengatur tata niaga sawit di ketiga pabrik kelapa sawit yang ada di daerah itu. Sesuai dengan rumus harga TBS yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian, papar dia, masih sangat memungkinkan harga TBS di Subulussalam naik. “Tentu ini dengan catatan harus ada peran aktif dari Dinas Perkebunan, Perindustrian dan Perdagangan Subulussalam. Jangan hanya berdiam diri karena ini juga perlu pengawasan serta pemantauan agar harga TBS tidak asal-asalan diturunkan,” tukas Muzir.(lid)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved