Ilegal Logging Kembali Marak

Selama sebulan terakhir, aktivitas ilegal logging (pembalakan liar) kembali marak terjadi di kawasan Makam

Ilegal Logging Kembali Marak
SERAMBI/SAIFUL BAHRI
KASAT Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra T Herlambang memperlihatkan barang bukti dari tersangka pencurian sepeda motor, Senin (22/7). 

LHOKSUKON – Selama sebulan terakhir, aktivitas ilegal logging (pembalakan liar) kembali marak terjadi di kawasan Makam Pahlawan Nasional, Cut Meutia di Alue Karieng, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

Dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan traktor roda empat (John deere), dan mobil hardtop untuk menarik kayu hasil ilegal logging. Akibat perbuatan para perambah, jalan menuju ke makam rusak parah.

“Sekitar 15 hari lalu, saya langsung mendatangi beberapa warga yang sedang menebang pohon seperti Kruing, dan Meranti dengan menggunakan chainsaw (gergaji mesin) untuk mengingatkan mereka,” ungkap penjaga Makam Cut Meutia, Mudawali kepada Serambi, Senin (23/7).

Mudawali yang juga Panglima Sagoe Cut Meutia mengingatkan mereka supaya tidak menebang pohon di lingkungan makan, dan mengangkut kayu dengan menggunakan traktor roda empat. Hal ini tentu saja akan membuat jalan rusak. Karena, selama ini, jalan ke makam dibangun dengan sumbangan pribadi masyarakat dan pejabat.

“Mereka tidak mengubrisnya. Malahan, jika sebelumnya mereka menggunakan dua chainsaw, tapi setelah diingatkan menambahnya menjadi tiga mesin gergaji. Aksi mereka tak bisa ditolerir lagi,” tegasnya.

Menurut Mudawali, penebangan yang dilakukan mereka bukan hanya melanggar aturan, tapi mengganggu warga lain. Karena, jalan yang selama ini digunakan warga ke lokasi makam sudah rusak parah. “Mereka sepertinya memiliki tauke yang mendanai aktivitas penebangan itu. Sehingga, mereka memiliki alat transportasi angkut,” katanya.

Kalau warga biasa yang melakukan penebangan tersebut hanya satu atau dua orang saja, dan mengangkut menggunakan sepeda motor (sepmor). “Ini harus dilakukan pencegahan, karena itu kita sudah melaporkan ke petugas agar bisa segera dihentikan. Jika tidak, aksi perambahan semakin merajalela,” ujar Mudawali.

Informasi lain yang diterima Serambi, kawasan pedalamam Aceh Utara seperti Pirak Timu, Paya Bakong, Cot Girek dan Langkahan menjadi jalur untuk mengangkut hasil dari penebangan pohon. Jika sebelumnya mereka mengangkut pada malam hari, tapi sekarang sudah terang-terangan mengakut pada siang hari seperti yang terjadi di kawasan Makam Cut Meutia.

Saat ini di lingkungan makam pahlawan nasional tersebut sedang dilakukan pembersihan lahan sekitar lima hektare, guna membangun taman wisata. Pembersihan itu dilakukan dari sumbangan pribadi masyarakat dan pejabat. Diharapkan warga yang berkunjung ke makam tersebut, selain dapat melihat situs sejarah juga bisa menikmati kesejukan alam.

“Sebelum jalan ke makam rusak akibat pengangkutan kayu penebangan ilegal, lintas ini sudah bisa dilewati dengan menggunakan sepmor dan mobil. Tapi sekarang tak bisa dilintasi lagi. Bahkan, jika ke makam, harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer seperti sebelumnya karena kondisi jalan rusak parah,” kata Mudawali.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved