Jurnalisme Warga

Lambarih, Desa Produktif Binaan Pemerintah Aceh

SUARA mesin pompa air merek General WP 20 tak henti menderu-deru. Sebuah kolam ikan ukuran 4 x 12 meter

Lambarih, Desa Produktif Binaan Pemerintah Aceh
IST
HAYATULLAH PASEE, aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, Amil Baitul Mal Aceh, dan praktisi Humas, melaporkan dari Sukamakmur, Aceh Besar

OLEH HAYATULLAH PASEE, aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, Amil Baitul Mal Aceh, dan praktisi Humas, melaporkan dari Sukamakmur, Aceh Besar

SUARA mesin pompa air merek General WP 20 tak henti menderu-deru. Sebuah kolam ikan ukuran 4 x 12 meter yang dibagi menjadi tiga bagian itu hampir kering diisap pompa air. Beberapa pengelola kolam dan warga tampak tak sabar ingin mengangkat ikan air tawar jenis nila ke darat. Anak-anak riuh menunjuk-nunjuk ikan yang berusaha beringsut dalam kolam yang hendak kering airnya itu. Kolam tersebut terletak di pinggir sawah yang baru saja selesai dipanen di Gampong Lambarih Juroeng Raya, Sukamakmur, Aceh Besar.

Lambarih Jurong Raya merupakan salah satu gampong produktif binaan Pemerintah Aceh melalui Baitul Mal Aceh sejak tahun 2018. Gampong ini memiliki potensi selain di bidang pertanian juga berpotensi budi daya ikan air tawar karena memiliki aliran air yang cukup.

Saya bersama beberapa teman dari Baitul Mal Aceh, yaitu Kepala Bidang Sosialisasi dan Pengembangan, Rizky Aulia; Kepala Bidang Pengumpulan, Putra Misbah; dan Staf Bagian Umum, Ibnu Sakdan mendatangi Lambarih saat panen berlangsung. Di sana kami berjumpa dengan perangkat desa seperti Plt Keuchik, Burhan; Ketua Baitul Mal Gampong, Irfan Siddiq; dan beberapa pengelola kolam ikan tersebut.

Menurut Irfan, ini merupakan panen perdana setelah mendapatkan bantuan dari Baitul Mal Aceh tahun 2018 sebesar Rp 50 juta. Dana tersebut digunakan untuk beberapa kebutuhan, seperti pembuatan kolam dari batu gunung, jaring untuk penutup kolam, bibit ikan nila, dan keperluan kecil lainnya.

Ia menyebutkan bahwa bibit ikan nila yang dibudidayakan perdana di kolam itu sekitar 6.700 bibit. Usai dimasukkan ke kolam, tiga bulan setelah itu baru bisa dipanen. Tepat pada Minggu (14/7/2019) merupakan hari yang membahagiakan bagi semua karena dapat memanen perdana hasil keringat mereka.

“Dari tiga kolam, per kolam menghasilkan 400-500 kilogram ikan nila. Per kilo kami jual sekitar 0.000-25.000 rupiah,” ungkap Irfan di lokasi pemanenan.

Mengingat itu panen perdana, di dekat kolam sudah didirikan teratak untuk masak dan makan bersama masyarakat setempat. Yang dimakan bersama saat itu hanyalah sebagian kecil dari jumlah ikan yang akan dijual.

“Hasil penjualannya setelah kita ambil untuk modal bibit dan pengelola, juga akan kita bagikan kepada fakir miskin yang ada di gampong ini,” kata Irfan.

Biarpun telah membuahkan hasil dari budi daya tersebut, Irfan bersama anggotanya masih memiliki keinginan yang lebih besar, yaitu ingin memiliki mesin pengolah pakan ikan. Menurutnya, untuk bahan mentah pakan ikan banyak di Aceh yang bisa diolah, hanya saja tidak memiliki alat yang memadai karena harganya lumayan mahal.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved