Bahas Perdamaian, Dubes RI Untuk Myanmar dan JMC Kunjungi Wali Nanggroe

Duta Besar (Dubes) RI untuk Myanmar, Irjen Pol Prof Dr Iza Fadri bersama 10 perwakilan Joint Ceasefire Monitoring Committee (JMC) Myanmar mengunjungi

Bahas Perdamaian, Dubes RI Untuk Myanmar dan JMC Kunjungi Wali Nanggroe
SERAMBINEWS.COM/EDDY FITRIADI
Duta Besar (Dubes) RI untuk Myanmar, Irjen Pol Prof Dr Iza Fadri bersama 10 perwakilan Joint Ceasefire Monitoring Committee (JMC) Myanmar mengunjungi Wali Nanggroe di Meuligoe-nya, Kamis (25/7/2019)pagi. 

Bahas Perdamaian, Dubes RI Untuk Myanmar dan JMC Kunjungi Wali Nanggroe

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Duta Besar (Dubes) RI untuk Myanmar, Irjen Pol Prof Dr Iza Fadri bersama 10 perwakilan Joint Ceasefire Monitoring Committee (JMC) Myanmar mengunjungi Wali Nanggroe Aceh di Meuligoe-nya, Kamis (25/7/2019) pagi.

Rombongan disambut langsung oleh Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Al-Haythar bersama Anggota DPRA dari Partai Aceh dan undangan lainnya.

Pada kesempatan itu, Malik Mahmud menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Myanmar yang tengah mengupayakan perdamaian dengan sejumlah etnis dan kelompok yang selama ini bergolak.

Selain itu, Wali Nanggroe berterima kasih kepada Dubes RI untuk Myanmar yang sudah berinisiatif untuk membawa serta JMC, atau Komite Pemantauan Gencatan Senjata Bersama Myanmar, untuk mempelajari perdamaian Aceh.

"Ini suatu hal yang baik, dimana kami bisa berbagi pengalaman dan memberi masukan kepada Myanmar untuk memperoleh perdamaian. Perdamaian yang dicapai Myanmar nantinya tentu akan membawa kemakmuran serta menguatkan ASEAN," ucap Malik.

Wali Nanggroe Aceh secara khusus menyampaikan kesediaannya dalam memberikan masukan terhadap apa yang dibutuhkan Myanmar dalam proses perdamaian itu.

"Saya insyaallah siap membantu Myanmar. Sebelumnya kami juga sudah memberikan masukan kepada bangsa yang berkonflik seperti Moro dan Afganistan. Terlebih Myanmar memiliki banyak kesamaan dengan Aceh," jelasnya.

Sementara Dubes RI untuk Myanmar, Prof Iza Fadri menyampaikan keinginan rombongan Myanmar untuk belajar proses perdamaian di Aceh. Disebutkan, saat ini ada 21 kelompok bersenjata di Myanmar, dimana 11 di antaranya sudah menandatangani kesepakatan perdamaian.

"Indonesia dan Myanmar punya sejarah panjang. Myanmar merupakan negara yang memberikan kesempatan pertama transit untuk pesawat pertama RI, Seulawah. Kita juga pernah dibantu beras saat menghadapi krisis pangan dulu. Jadi sebagai negara tetangga, Indonesia mendukung rekonsiliasi nasional dan proses perdamaian di Myanmar," ujarnya.

Baca: Polisi Buru Tiga Buronan Pembuat Pil Ekstasi di Aceh Utara

Baca: Blangko E-KTP Masih Kosong di Lhokseumawe, Pelayanan Tetap Jalan

Baca: Dana Bansos yang Belum Cair Diselesaikan dengan APBA-P

Prof Iza menambahkan, Myanmar memiliki kesamaan dengan Indonesia yang pernah dilanda konflik. Menurutnya, hadirnya rombongan di Aceh yang sudah hidup dalam damai dapat menginspirasi negara tersebut.

"Semoga dengan kunjungan ini mereka dapat referensi baru untuk melangsungkan perdamaian ke depan. Melalui hubungan bilateral yang kita punya, setiap masalah bisa diselesaikan secara informal," pungkasnya.

Hadir pada pertemuan itu aktivis demokrasi yang juga anggota JMC, Ko Ko Gyi serta sembilan anggota lainnya.

Sementara dari perwakilan Aceh tampak Sekjen Partai Aceh, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, Anggota DPRA Muhammad Saleh dan Nurzahri, Staf Khusus Wali Nanggroe, Dr Rafiq, Sekretariat Wali Nanggroe, dan Tgk Nie dari Aceh Utara.

Untuk diketahui, pertemuan pihak Myanmar bersama Wali Nanggroe Aceh merupakan rangkaian Training on Peace Process yang fiadakan KBRI Yangon pada 24-25 Juli 2019 di Aceh.(*)

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved