Opini

Ekspektasi Pendidikan Kita

Setelah artikel saya di laman Opini Harian Serambi Indonesia (3/7-201) berjudul “Quo Vadis Pendidikan Kita

Ekspektasi Pendidikan Kita
IST
Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh

Oleh Syamsul Bahri, MA, Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh

Setelah artikel saya di laman Opini Harian Serambi Indonesia (3/7-201) berjudul “Quo Vadis Pendidikan Kita” terpublis, beberapa teman memberikan komentar, baik secara lisan ketika kami berdiskusi, maupun tulisan melalui media sosial. Secara umum mereka membenarkan apa yang saya sampaikan, yaitu banyaknya ketimpangan pendidikan kita sekarang ini, sehingga membuat mutu pendidikan kita rendah.

Dan pada acara “Rapat Kerja Penguatan KKG, MGMP, dan KKRA” (18 Juli 2019 di MAN 1 Banda Aceh), Kepala Kemenag Kota Banda Aceh juga menyinggung tentang kualitas pendidikan ini, terutama pada persoalan pembinaan karakter siswa. Bapak Asy’ari mengatakan persoalan karakter peserta didik harus menjadi perhatian guru semua, dan yang paling penting dalam pembinaan karakter tersebut yaitu guru harus menjadi teladan bagi muridnya. “Sebelum membina karakter siswa, maka guru sendiri harus berkarakter, dan menunjukkan kepada siswa karakter tersebut.”

Bagi kalangan guru, mereka telah cukup banyak mendengar tentang persoalan ini. Terkadang ketika ada orang yang mempersoalkannya, kemudian fokus persoalan itu tertuju pada guru, ini membuat guru seolah-olah sebagai subjek salah. Hal ini mengundang tanda tanya dari guru, apa yang belum kita lakukan? Karena bagaimanapun guru telah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat yang terbaik.

Menjadi guru tidak mudah, itu kata Prof Jamaluddin Idris, ketika memberi materi di kegiatan MGMP tersebut. Hal ini dikarenakan tanggung jawab guru sangat besar, yaitu mendidik anak sejak dini, hingga mereka menjadi orang yang sukses. Kalau seorang siswa telah dibentuk dengan benar, maka siswa itu akan sukses, sedangkan kalau salah, maka mereka akan gagal dalam hidupnya.

Sama seperti seorang petani yang menanam padi, bagus atau tidaknya padi tergantung bagaimana ia merawatnya. Sukses atau tidaknya seorang siswa bisa ditandai dalam tiga kriteria, pertama; perubahan pada perilakunya (afeksi), kedua; perkembangan intelektualitasnya (kognisi), dan ketiga; memiliki skill dalam hidupnya (psikomotorik). Tiga domain ini adalah tujuan dari praktik pendidikan itu sendiri.

Rumah pendidikan utama
Persoalan kualitas pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Saya sebut semua, berarti semua komponen pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Persoalan ini memiliki mata rantai yang cukup panjang, berkelindan, sehingga menguras energi dan pikiran kita. Kita harus senantiasa berpikir progresif, praktis dan kontinuitas, demi meningkatkan mutu pendidikan ini.

Keluarga adalah unit pertama yang diembankan tugas pendidikan. Karena apapun yang diajarkan guru di sekolah jika tidak didukung keluarga, maka hasilnya nihil. Anak-anak yang datang ke sekolah membawa sejuta memori, dan perasaan. Memori adalah unsur penting pembentukan karakter dan intelektual. Begitu juga perasaan. Ketika memori anak rusak, maka ia akan sulit menerima ilmu atau pun mendengar nasihat guru.

Sama seperti memori HP, jika rusak atau terkena virus, maka tidak bisa menerima file luar. Hanya teknisi hebat yang dapat memperbaikinya. Sedangkan tidak setiap sekolah memiliki guru seperti ini.

Memori yang dibawa anak dari dalam keluarga menjadi penentu mood anak di sekolah. Sejauh mana ia punya mood, sejauh itu pula daya serap ilmu dari guru. Jika rumah bukan pendidikan utama, maka jangan harap guru di sekolah dapat melakukannya menjadi lebih baik.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved