Hakim Kembalikan Berkas Terdakwa

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara yang menangani kasus narkotika jenis sabu 70 kilo

Hakim Kembalikan Berkas Terdakwa
FOR SERAMBINEWS.COM
Ramli (55) napi asal Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur menjalani sidang perdana kasus penyulundapan sabu 70 kilogram dan ekstasi 3 kilogram di PN Lhoksukon, Aceh Utara 

* Kasus Sabu 70 Kg

BANDA ACEH - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara yang menangani kasus narkotika jenis sabu 70 kilo dan ekstasi 3 kg mengembalikan satu dari lima berkas ke jaksa. Karena, satu terdakwa atas nama Muhammad Zakir kabur dari Rutan Lhoksukon sejak 16 Juni 2019 lalu. Sampai kemarin, warga Desa Seuneubok Baro, Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur itu belum ditemukan.

Penetapan itu dibacakan Ketua Majelis Hakim, T Latiful SH didampingi dua hakim anggota, Maimunsyah SH dan Fitriani SH dalam sidang lanjutan di PN setempat, Rabu (24/7), setelah pemeriksaan empat terdakwa sebagai saksi. Mereka diperiksa secara bergantian untuk terdakwa lain. Lalu, dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan terdakwa.

Sidang tersebut menyeret lima terdakwa. Adalah Ramli (55) asal Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Kemudian, anaknya Metaliana (28) dan menantunya, Muhammad Zubir (28). Sedangkan satu lagi, Saiful Bahri alias Pon tercatat sebagai warga Desa Seuneubok Baro, Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur. Mereka hadir ke pengadilan didampingi dua pengacaranya, Abdul Aziz SH dan Razali Amin SH.

Ramli saat diperiksa sebagai saksi menyebutkan, dirinya ketika menjalani hukuman di LP Tanjung Gusta Medan, Sumatera Utara dihubungi temannya lamanya, Udin. Udin menawarkan kepada dirinya untuk menyelundupkan sabu sebanyak 70 kilo dari Malaysia ke Aceh. Di jasa kurir mencapai Rp 1,4 miliar atau perkilo Rp 20 juta.

Namun, jika sabu itu diambil di tengah laut maka jasa kurirnya Rp 10 juta perkilo atau 700 juta. Setelah disepakati harga, kemudian Ramli menghubungi anaknya untuk membuka rekening supaya uang tersebut dapat ditransfer oleh Udin. Menurut Ramli, Udin mentransfer uang sebanyak Rp 110 juta dalam tiga tahap.

Pada tahap pertama, Rp 50 juta untuk membeli boat. Kemudian tahap kedua sebesar 40 juta, dan Rp 20 juta di tahap ketiga untuk biaya operasional terdakwa lain yang akan mengambil sabu di tengah laut. Namun, Ramli mengaku belum menerima uang karena sabu tersebut sudah disita petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) RI.

Seusai mendengar keterangan terdakwa sebagai saksi dan pemeriksaan terdakwa, lalu hakim menunda sidang tersebut dua pekan mendatang. Pada sidang Rabu (7/8) mendatang dengan agenda mendengar materi tuntutan dari jaksa.

Seperti diberitakan sebelumnya, BNN RI dan Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan 72 kg sabu-sabu, dan ekstasi di Perairan Jambo Aye, Aceh Utara dalam sebuah operasi gabungan di Lhoksukon pada 10 Januari 2019.

Prpses pengamanan mereka berbeda dengan terdakwa lain yang disidangkan di PN Lhoksukon. Pada sidang sebelumnya dengan agenda pemeriksaan petugas dari BNN sebagai saksi, mereka dikawal sebanyak 45 personel mulai dari Cabang Rutan Lhoksukon sampai ke pengadilan. Setelah menjalani sidang, mereka langsung kembali dibawa pulang ke rutan dengan pengawalan ketat.

Sementara kemarin, keempat terdakwa dikawal oleh 13 polisi. Seusai menjalani sidang, mereka langsung dibawa pulang. Sedangkan terdakwa dalam kasus lainnya, jika akan dikembalikan ke rutan diantar secara bersamaan. Pengawalan khusus itu dilakukan polisi atas permintaan jaksa dengan alasan demi keamanan, dan menghindari terjadi hal-hal yang tak diinginkan.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved