Salam

Remaja Menyekap,Itu Efek Kelalaian

Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat menangkap tujuh remaja warga Nagan Raya yang diduga terlibat kasus

Remaja Menyekap,Itu Efek Kelalaian
RADEN BOBBY ARIA PRAKASA, Kapolres Aceh Barat

Kepolisian Resor (Polres) Aceh Barat menangkap tujuh remaja warga Nagan Raya yang diduga terlibat kasus penyekapan Nazlih (17), seorang remaja Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Nazlih yang tercatat sebagai siswa SMK itu mengaku dikeroyok puluhan pelaku lalu disekap pada 14 Juli 2019 di suatu tempat. Handphone dan sepeda motor yang ia kendarai juga dirampas para penyekap.

Karena semua tersangka masih tergolong di bawah umur, polisi belum merilis nama mereka. Apalagi proses pemeriksaan masih berlangsung. Juga belum diketahui pasti jumlah pelaku yang sesungguhnya, karena menurut korban, pelaku yang mengeroyoknya mencapai puluhan orang.

Penyidik masih mendalami siapa-siapa saja yang terlibat dan apa motif mereka mengeroyok bahkan menyekap korban. Apakah sekadar kenakalan remaja atau malah pelaku salah sasaran. “Tujuh orang tersangka sudah ditangkap. Sejauh ini mereka masih diperiksa. Belum ada tersangka lain,” kata Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, dua hari lalu.

Kepada polisi, beberapa waktu lalu Nazlih mengaku dikeroyok dan disekap sejumlah orang dari Kabupaten Nagan Raya yang bertetangga dengan Aceh Barat. Menurutnya, pada Minggu (14/7) sekira pukul 02.00 WIB, saat mengendarai sepeda motor bersama temannya, tiba-tiba dicegat puluhan remaja yang juga bersepmor hingga kemudian terjadi penyekapan di satu cafe. Sedangkan teman korban berhasil kabur.

Dalam penyekapan, korban mengaku sempat dipukul beramai-ramai. Menjelang subuh, Nazlih ditinggalkan kelompok remaja, sedangkan Hp dan sepmor yang ia kendarai dibawa kabur kawanan pelaku.

Terhadap peristiwa ini, pertama, kita melihat ada unsur pidananya. Kedua, para pelakunya masih di bawah umur. Ketiga, kejahatan yang dilakukan tersangka tergolong berat. Yakni merampas, memukul, dan menyekap. Ini kejahatan yang biasa dilakukan para penjahat kelas berat.

Keempat, kasus ini terjadi pada pukul dinihari, yang seharunya ramaja seusia korban dan para pelakunya sudah berada di rumah. Tidak boleh lagi berkeliaran di jalanan atau luar rumah. Jadi, kita juga melihatnya ada faktor kelalaian para orang tua di sana.

Oleh karenanya, agar menjadi pelajaran kepada semua pihak baik pelaku maupun korban, maka kepada polisi kita mengharapkan diusut tuntas, terutama untuk mengetahui apa motifnya serta siapa yang merancang rencana kejahatan itu.

Karol Kumpfer dan Rose Alvarado, profesor dan asisten profesor dari University of Utah, dalam penelitiannya yang dikutip sejumlah media, bahwa kenakalan dan kekerasan yang dilakukan remaja berakar dari masalah-masalah sosial yang saling berkaitan. Di antaranya adalah pengabaian yang dilakukan orangtua.

Ketidakmampuan orangtua dalam menghentikan dan melarang perilaku tak lazim yang dilakukan anak remaja akan membuat perilaku kenakalan terus bertahan bahkan tambah keras. Makanya, kata Kumpfer dan Alvarado, faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja antara lain, pertama, karena kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial. Kedua, kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya). Kemudian, kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.

Faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang ketat juga membuat remaja menjadi semakin rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.

M Faisal Magrie, seorang konsultan psikologi remaja menyatakan, mengasuh anak yang memasuki usia remaja ibarat bermain layangan. “Apabila orangtua menarik talinya terlalu dekat, layangan itu tidak akan bisa terbang. Namun bila orangtua membiarkan talinya terlalu jauh, layangan akan putus karena angin yang kencang, atau nyangkut di pohon,” kata Faisal.

Begitu juga dengan remaja, jika terlalu dikekang, anak tidak mampu berkembang secara mandiri dan berusaha melepaskan diri dari kekangan. Ketika ini terjadi, lingkungan sosial, terutama teman sebaya, akan menjadi pelarian utama. Bila lingkungan sosial tempat anak biasa berkumpul memiliki kecenderungan untuk melakukan kenakalan remaja, anak juga berpotensi besar untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kelompoknya.

Jadi, orangtua disarankan memberi batasan yang tegas dan jelas mengenai perilaku yang boleh dan tidak boleh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved