“Saya Sedih, Istri Tak Ada yang Temani”

Teungku Munirwan, Keuchik Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, harus menerima kenyataan pahit

“Saya Sedih, Istri Tak Ada yang Temani”
IST
TGK Munirwan, Keuchik Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, berdiri di depan sel Mapolda Aceh, Selasa (23/7).

* Curhat Keuchik Ditahan karena Jual Benih Padi

BANDA ACEH - Teungku Munirwan, Keuchik Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, harus menerima kenyataan pahit dengan mendekam di sel Mapolda Aceh. Dia ditahan sejak Selasa (23/7) setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan memproduksi dan mengedarkan benih padi jenis IF8 yang belum berlabel (bersertifikat).

Kasus ini menjadi buah bibir banyak orang karena tersangka diadukan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh, A Hanan SP MM justru setelah tersangka berhasil mengembangkan bibit padi IF8 menjadi bibit unggul dengan produktivitas yang melimpah setiap kali panen. Bahkan masyarakat Aceh Utara saat ini tak mau lagi beralih ke bibit lain.

Tgk Munirwan yang sempat dijumpai Serambi di ruang penyidik Polda Aceh kemarin hanya bisa tersenyum kecut. Dia belum mau bicara banyak kepada media sebelum penyidik menjelaskan duduk perkara kasus tersebut dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Kamis (24/7) hari ini.

“Besok saja, jangan diberitakan dulu,” kata Tgk Munirwan kemarin siang. Namun, tiga jam berselang, Serambi mendapat peluang untuk mewawancarai Tgk Munirwan dengan menitipkan enam pertanyaan tertulis kepada Zulfikar Muhammad. Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh itu terus-menerus mendampingi Tgk Munirwan saat sedang diinterogasi penyidik. Saat masuk jadwal shalat Magrib, pemeriksaan dihentikan sementara. Seusai shalat itulah Zulfikar membacakan pertanyaan tertulis Serambi dan dijawab dengan tenang oleh tersangka. Berikut petikannya.

Kenapa benih IF8 ini dijual ke desa-desa lain?
Kami jual karena ada permintaan. Bukan kami yang tawarkan, tapi mereka yang minta. Soalnya benih kami ini sudah menjadi produk unggulan kampung dan sudah dimasukkan ke dalam usaha inovasi desa. Lagi pula karena mereka pun sudah lihat dinas pertanian melakukan panen raya padi dari benih yang ini dengan keberhasilannya.

Apakah Anda pernah diingatkan oleh dinas agar tidak menyalurkan benih tak berlabel ini?
Tidak, tidak pernah diingatkan oleh Distan untuk tidak menyebarkan benih IF8 tak berlabel ini.

Apakah pelarangan dalam bentuk lain pernah disampaikan?
Disampaikan justru setelah kita salurkan benihnya.

Sudah ke mana saja benih ini disalurkan?
Sudah kita salurkan berdasarkan permintaan dari desa-desa sebanyak 135 desa di Aceh Utara, karena mereka merasa fengan padi IF8 ini sangat menguntungkan dari hasil produksinya. Terlebih karena mereka juga sudah berkomitmen di bursa inovasi desa.

Dalam kasus ini apakah Anda merasa didiskiriminasi?
Saya merasa sedih, karena anak-anak saya di rumah masih kecil-kecil. Istri tak ada yang menemaninya. Mertua pun sedang sakit di rumah. Kemudian, mamak saya pun mau berangkat ke haji tanggal 27 ini. Kemudian karena saya masih keuchik, otomatis masih banyak pekerjaan yang harus saya urus di kampung. Apalagi kita sedang mengerjakan Alokasi Dana Desa di tahun 2019.

Apa reaksi keluarga atas kasus yang Anda hadapi ini?
Untuk sementara belum saya beri tahu kepada keluarga.

Berapa sebetulnya omset yang sudah diterima dari penjualan benih ini?
Untuk penjualan benih di wilayah Aceh Utara kita sudah meraih omset 1 miliar, 250 juta rupiah pada tahun 2019. Sedangkan untuk tahun 2018 kita sudah gabungkan ke dalam aset BUMDes semua. Adapun aset BUMDes bukan cuma di pembenihan. Totalnya ya 250 juta sekian. (dik/mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved