Mee Bu, Wujud Kepedulian kepada Ibu Hamil

SELAMA masih ada keinginan dan cita-cita melestarikan peninggalan nenek moyang (indatu), selalu ada adat dan budaya Aceh

Mee Bu, Wujud Kepedulian kepada Ibu Hamil
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), dan PIP Kominfo RI, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), dan PIP Kominfo RI, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

SELAMA masih ada keinginan dan cita-cita melestarikan peninggalan nenek moyang (indatu), selalu ada adat dan budaya Aceh yang pantas diabadikan dalam tulisan dan dipublikasi kepada khalayak ramai. Agar publik tahu bahwa Aceh tidak hanya kaya sumber daya alam (SDM), tetapi juga kaya budaya dan adat istiadat.

Kali ini, saya ingin mereportasekan adat Aceh yang berkaitan dengan perkawinan. Bisa juga disebut adat yang melekat pada pengantin baru. Sebab, yang namanya pengantin baru tidak mesti yang baru menikah dua atau tiga minggu lalu. Terkadang suasanakhas pengantin baru masih harum semerbak hingga anak pertama lahir.

Adat mumee
Pengantin baru, perempuan hamil, khususnya yang hamil pertama, dalam bahasa Aceh disebut “mumee”. Ada beberapa adat dan tradisi yang diperlakukan terhadap ibu hamil. Lumrahnya, pada masa usia kehamilan tiga bulan, perempuan hamil akan berhadapan dengan adat mee boh kayee (membawa buah-buahan segar) untuk ibu hamil.

Tradisi ini dilakukan oleh kedua belah pihak, baik pihak keluarga suami maupun keluarga istri. Si perempuan hamil berada di rumah ibunya. Selanjutnya, keluarga suami mempersiapkan aneka buah seperti mangga, jambu, anggur, apel, dan jeruk. Dalam hitungan saya, tak kurang tujuh jenis buah yang dipersiapkan. Tergantung semangat dan kemampuanekonomi keluarga sang suami.

Kemudian, buah-buahan itu diantarke rumah menantunya. Rombongan pengantar buah ini hanya terdiri atas keluarga dekat si suami. Itu pun hanya yang perempuan, tidak ikut yang laki-laki. Pada beberapa daerah di Aceh, tradisi mee boh kayee dilakukan tanpa diketahui oleh perempuan hamil dan keluarganya.

Jadi, keluarga suami datang mendadak. Walau secara tiba-tiba besan sudah berada di rumah tanpa pemberitahuan, tapi keluarga perempuan tetap menyambut baik. Mereka juga paham bahwa tradisi mee boh kayee memang kerap dilakukan tanpa komunikasi awal.

Namun, tradisi mengantar buahbuahan ini tidak selamanya dilaku- kan pada tiga bulan usia kehamilan. Ada pula yang membawanya sekaligus dengan acara mee bu. Hal ini disebabkan jarak rumah mereka yang membutuhkan waktu lebih dari sehari perjalanan.

Mee bu
Selang beberapa bulan berikutnya, tepatnya pada usia kehamilan masuk bulan ketujuh, si perempuan mulai dihadapkan pada tradisi mee bu. Arti tersiratnya adalahmembawanasi. Tapimemilikimaknaluasyangtersurat, jikamaumerenungkannya. Adat mee bu juga dikenal dengan istilah keumaweuh.

Maknanya sama. Di beberapa daerah, selain mee bu, juga ada tradisi peumanoe tujoh buleuen (mandi saat hamil tujuh bulan). Berbeda dengan tradisi mee boeh kayee, mee bu dilakukan secara formal. Ada kesepakatan antara keluarga suami dengan keluarga istri. Masing-masing besan bermusyawarah untuk penentuan hari mee bu.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved