Opini

Pahitnya Kopi, Manisnya Pahitnya Kopi, Manisnya GuSA

Tanaman kopi menurut berbagai sumber mulai masuk ke Indonesia tepatnya di Pulau Jawa sekitar Tahun 1699

Pahitnya Kopi, Manisnya Pahitnya Kopi, Manisnya GuSA
IST
Azanuddin Kurnia, SP, MP, Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan dan Ketua Umum IKA SEP Fakultas Pertanian Unsyiah

Keempat, regulasi. Harus disadari bahwa tidak mudah untuk menjaga cita rasa sebagai kopi specialty, untuk itu diperlukan regulasi yang bisa memproteksi kopi gayo dari campuran kopi lainnya, hal ini diperlukan agar cita rasa tetap terjaga. Selain itu diperlukan kemudahan dan intensif bagi para eksportir sampai ke petani dan bisa mendapatkan premium fee. Pajak ekspor harus disederhanakan dan dikurangi jumlah persentase maupun nominalnya. Selain itu dari sisi budidaya juga harus ada kepastian hukum bahwa kopi gayo tetap memiliki legalitas yang layak jual.

Kelima, pendukung. Masih diperlukan faktor-faktor pendukung untuk menciptakan kopi gayo tetap bertahan dan meningkat, seperti diperlukannya pabrik atau industri packaging yang layak dan murah. Biaya transportasi darat, terutama udara yang murah untuk pemasaran antarprovinsi maupun antarpulau. Harga tiket dan kargo yang mahal saat ini sudah mempengaruhi permintaan kopi gayo dari provinsi dan pulau lainnya.

Selain itu dukungan SDM baik oleh petugas teknis perkebunan, penyuluh, maupun tenaga pendamping dalam budidaya kopi sangat diperlukan. Pendampingan yang terus menerus mutlak dilakukan agar cita-cita mulia mempertahankan dan meningkatkan kopi gayo dapat terwujud. Dukungan perbankan, balai penelitian dan dunia kampus masih diperlukan dalam melakukan berbagai penelitian untuk kebaikan kopi kita. Berbagai asosiasi sampai ke perkumpulan usahawan masih diperlukan mulai dari rantai budidaya sampai panen.

Terakhir keenam gerakan masal. Gerakan masal ini dibutuhkan agar semua komponen yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung bisa menyadari dengan ikhlas bahwa kopi arabika merupakan sumber ekonomi penting bagi petani, masyarakat, daerah, nusa, dan bangsa.

Gerakan masal ini dimulai dari pemerintah dan seluruh masyarakat khususnya yang ada di dataran tinggi gayo. Semua komponen bersepakat bahwa kopi adalah sumber ekonomi utama dan penting. Semua jalur ekonomi berasal dari kopi.

Kepentingan kopi tidak hanya bagi petani, penjual kopi, maupun eksportir. Sektor lainnya juga seperti pedagang pengumpul, dunia pendidikan, abang becak, dan lainnya harus merasa peduli dengan kopi. Bayangkan bila petani kopi tidak sejahtera, maka pasar-pasar di dataran tinggi gayo akan sepi dari pembeli, abang becak tidak ada penumpang, anak-anak tidak ada yang bersekolah tinggi, biaya ke rumah sakit tidak ada uang, taman hiburan sepi, warung-warung sepi dan ekonomi akan macet karena roda perekonomian tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kita bisa mencontoh Bali yang mana mereka sampai kepada supir taksi dan pedagang kecil meyakini bahwa rezeki mereka berasal dari turis asing maupun dalam negeri. Mereka berupaya membuat siapa yang datang merasa nyaman di Bali. Kenyaman itu bukan hanya diciptakan oleh pemilik hotel, biro perjalanan, caffee-caffee tetapi oleh seluruh warga Bali.

Selain itu, pendapatan bukan hanya didapat dari biji atau bubuk kopi, tetapi gayo juga bisa menjual suasana alam dan estetika dari kebun kopi. Coba perhatikan kebun kopi kita yang indah dipandang mata. Betapa segar hijau dan membuat mata tidak mau berkedip. Di antara hamparan luas, perbukitan, ditambah dengan aliran air yang mengalir dari pegunungan menambah indahnya kebun kopi kita. Itu semua bernilai wisata dan punya estetika yang tinggi.

Harus disadari bahwa keindahan kebun kopi kita bisa kita jual dari sisi lain. Pendapatan petani bisa didapat dari inovasi wisata dan perkebunan. Minum kopi di kebun memiliki cita rasa yang lain, bukan hanya di lidah, tetapi juga di hati dan pikiran.

Terakhir kopi lebih nikmat bila diminum dalam kondisi pahit tanpa gula, tetapi ditambah gula juga tetap nikmat, artinya kopi tetap nikmat baik atau tanpa gula. Dan kopi arabika kita akan lebih nikmat bila dicampur dengan GuSA (Gula Sawit Aceh). GuSA adalah gula merah yang berasal dari nira sawit yang mulai menjadi ikon baru Aceh dan juga mulai berbenah untuk menembus pasar di Aceh dan luar Aceh.

Akhirnya “Pahitnya Kopi, Manisnya GuSA” merupakan rezeki bagi datarang tinggi gayo khususnya dan Aceh umumnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved