Breaking News:

Kasus Benih IF8

Penangguhan Penahanan Dikabulkan, Keuchik Meunasah Rayeuk Munirwan Tersenyum Bahagia

Teungku Munirwan tampak tersenyum bahagia ketika ke luar dari Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus)

Editor: bakri
SERAMBI/M ANSHAR
Keuchik Gampong Meunasah Rayeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Munirwan yang dijadikan tersangka atas KASUS peredaran benih IF8 tanpa lebel, Jumat (26/7/2019) malam mendapat penangguhan dari Kapolda Aceh. Penangguhan penahanan ini diberikan atas dasar pertimbangan kemanusiaan. 

BANDA ACEH - Teungku Munirwan tampak tersenyum bahagia ketika ke luar dari Gedung Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, Banda Aceh, Jumat (26/7) malam. Dia baru saja mendapat penangguhan penahanan dari Kapolda Aceh setelah ditahan sejak Selasa (23/7) terkait kasus pengedaran bibit padi jenis IF8 tak berlabel. 

Saat ke luar dari ruang, Keuchik Meunasah Rayeuk, Kecamtan Nisam, Aceh Utara, itu tampak mengenakan kemeja warna biru dongker dan sarung. Munirwan yang didampingi dua kuasa hukumnya, Feri Bukhari dan Khairil meninggalkan gedung yang juga tempat dirinya ditahan selama tiga itu, sekitar pukul 19.45 WIB.

“Alhamdulillah, puji kepada Allah yang sudah memberikan kemudahan kepada saya dari segala cobaan ini dan saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan, petani, dan masyarakat Aceh yang telah mendukung saya. Saya juga berterima kasih kepada kuasa hukum yang setiap saat mendampingi saya,” kata Munirwan dengan suara rendah.

Dia berharap persoalan yang sedang dihadapinya itu diberikan kemudahan oleh Allah. “Mungkin dengan kejadian ini, ke depan mudah-mudahan saya akan lebih baik. Masalah ini tidak kita anggap sebagai musibah besar, tapi kita anggap suatu ujian. Dengan adanya ini mudah-mudahan saya akan lebih baik ke depan,” ujar keuchik inovator tersebut.

Kini, Munirwan sudah bisa kembali ke rumahnya meskipun proses hukum tetap berlanjut. Sebelum Munirwan pulang, Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ary Apriyono bersama Direktur Reskrimsus, Kombes Pol Saladin serta Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A Hanan MM menggelar konferensi pers mengabarkan informasi penangguhan penahanan. 

“Kemarin pengacara tersangka mengajukan permohonan penangguhan. Kami lakukan penangguhan penahanan bukan desakan dari media atau masyarakat, tapi karena faktor pertimbangan orang tuanya akan naik haji, di samping yang bersangkutan cukup kooperatif,” kata Saladin.

Saladin menjelaskan sebenarnya secara aturan batas penahanan pertama di tingkat penyidik (polisi) selama 20 hari. Sedangkan Munirwan baru ditahan tiga hari sejak Selasa (23/7) lalu. Menurut Saladin, pemberian penangguhan tersebut tidak lain hanya karena mempertimbangkan aspek kemanusiaan saja.

“Kenapa kami tangguhkan, pertama agar (Munirwan) bisa melaksanakan aktivitas sebagai kepala desa, kemudian orang tua yang bersangkutan hendak naik haji, jadi mau buat acara,” ujar dia seraya menegaskan bahwa penahanan Munirwan bukan dalam kapasitas sebagai keuchik, melainkan sebagai Direktur PT Bumades Nisami Indonesia.

Saladin menambahkan, pemberian penangguhan penahanan tersebut tidak terikat waktu selama tersangka bisa kooperatif. “Sampai kapan, kita akan lihat sampai sejauh kasus ini. Kalau memang sampai ke pengadilan tapi yang besangkutan beritikad baik, tidak menghilangkan barang bukti, wajib lapor dilaksanakan, tidak masalah,” ungkap Saladin.

Sebelum penangguhan penahanan diberikan, tim kuasa hukum Munirwan bersama sejumlah LSM menggalang dukungan dengan mengajak masyarakat menjadi penjamin Munirwan. Caranya dengan mengirimkan foto KTP ke pihaknya. Penggalangan itu diprakarsai Koalisi NGO HAM Aceh sejak Munirwan ditahan Selasa hingga Kamis (23-25/7) siang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved