Salam

Galakkan Kembali Permainan Tradisional

Harian Serambi Indonesia edisi hari Minggu kemarin mewartakan sesuatu yang mulai langka, yakni permainan tradisional

Galakkan Kembali Permainan Tradisional
For Serambinews.com
Ratusan anak, yang merupakan pelajar dari Banda Aceh diajak kembali bermain permainan tradisional. 

Harian Serambi Indonesia edisi hari Minggu kemarin mewartakan sesuatu yang mulai langka, yakni permainan tradisional bagi anak-anak Aceh. Sebanyak 560 murid SD dari seluruh kecamatan di Banda Aceh ambil bagian dalam Festival Permainan Tradisional Anak (FPTA) yang digelar di Lapangan Blangpadang, pada Sabtu (27/7) pagi itu.

Beberapa permainan tradisional yang dimainkan adalah tarek situek (tarik upih pinang) massal, geunteut (egrang), ingke (engklek), galah (hadang), tarek talo (tarik tambang), dan catoe rimueng (catur Aceh). Di lokasi yang sama juga digelar workshop geulayang (layangan), gaseng (gasing), dan seurembang (permainan berbahan keong).

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumatera Utara, Irini Dewi Wanti yang menyelenggarakan kegiatan itu mengatakan, festival ini dimaksudkan untuk melestarikan permainan tradisional yang saat ini makin jarang dimainkan. Selain itu, permainan tradisional juga mengajarkan nilai-nilai kearifan budaya lokal, karena sarat dengan nilai kerja sama, gotong royong, kekompakan, hingga kepemimpinan.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mengapresiasi langkah BPNB Aceh-Sumut yang menginisiasi festival tersebut. Kegiatan itu, dinilai wali kota, sangat bermanfaat dan merupakan langkah konkret untuk melestarikan budaya Nusantara, khususnya warisan indatu masyarakat Aceh dalam bentuk permainan tradisional.

Apa yang dikatakan Irini Dewi Wanti maupun Aminullah Usman tidak terbantahkan. Mereka benar bahwa permainan tradisional memiliki keunggulan tersendiri dibanding permainan (game) modern berbasis online. Aneka permainan tradisional itu sengaja dirancang untuk dimainkan minimal oleh dua orang sehingga memungkinkan pemainnya berinteraksi secara fisik, menjunjung tinggi rule of game, dan nilai-nilai kekompakan dan persahabatan.

Permainan-permainan tradisional itu tidak memupuk sikap individual dan asosial pada anak, jauh dari potensi pornografi dan pornoaksi, tidak merusak mata, juga tidak mengandung unsur kekerasan dan kebrutalan, serta tidak berpotensi menimbulkan perilaku agresif, dan kecanduan pada level berbahaya, seperti halnya kalau anak-anak sibuk bermain game PUBG (Player Unknown’s Battlegrounds) dan sejenisnya.

Apalagi kita tahu bahwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh pada 19 Juni 2019 telah mengeluarkan fatwa bahwa hukum bermain game PUBG dan sejenisnya adalah haram. PUBG merupakan game peperangan bergenre first person shooter (FPS) yang membuat penggunanya bisa bermain dengan sudut pandang orang pertama, berimajinasi liar, dan merasakan sensasi yang dialami oleh karakter utama yang ia mainkan dalam game.

Pengharaman game ini bukan hanya mengacu pada kesia-siaan waktu yang terbuang percuma, tapi lebih kepada akibat buruk dari permainannya, karena memicu agresivitas. Bahkan beberapa game PUBG itu justru mengandung unsur penghinaan terhadap simbol-simbol Islam. Misalnya, ada target mirip Kakbah yang harus digempur dengan serangan supaya pemainnya menang.

Nah, setelah MPU mengharamkan game PUBG di Aceh, sedangkan peminatnya telanjur ramai, bahkan sudah pernah dilombakan di beberap kabupaten/kota, sepantasnya kita carikan alternatif permainan yang lebih edukatif bagi anak-anak Aceh. Salah satunya adalah memperkenalkan kepada mereka dan membiasakan mereka terlibat dalam permainan tradisional. Permainan jenis ini lebih aman bagi anak-anak dan tidak berpotensi memengaruhi perubahan perilaku pemainnya menjadi negatif, agresif, brutal, bahkan sulit bersosilisasi dengan lingkungannya.

Oleh karenanya, mari kita galakkan kembali permainan tradisional ini sebagai permainan harian atau minggu anak-anak Aceh. Festival permainan tradisional anak pun perlu sering digelar, bukan hanya di Banda Aceh, tapi juga di seluruh Aceh. Jika perlu, setahun sekali bikin festival permainan tradisional untuk tingkat provinsi dan beri hadiah besar kepada para pemenangnya. Dengan demikian, anak-anak Aceh akan terpacu mempelajari dan menguasai permainan tradisional Aceh karena ada perlombaan di tingkat kabupaten dan provinsi yang harus mereka menangkan.

Kita memang tidak menolak kemajuan teknologi, tapi kita perlu menyadari bahwa permainan modern, baik online maupun offline  itu tidak seluruhnya membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Sebaliknya, secara tidak sadar malah membentuk karakter anak yang sulit bersosialiasi dengan lingkungan dan terbiasa dengan imaji kekerasan. Nah, bukan anak-anak tipe seperti ini yang kita harapkan untuk masa depan Aceh yang humanis kelak.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved